Category Archives: kepemimpinan/leadership

Perubahan dan Kegagalan (Breakdown)

Kegagalan dan keberhasilan adalah hasil dari perubahan. Tidak peduli bagaimana Anda melihat keduanya, mereka masing-masing bergantung pada hal yang tidak bisa ditinggalkan, “kepemimpinan.” Kita tidak bisa sukses dalam suatu kinerja di tingkat yang lebih tinggi jika kita mempertahankan status quo, alias bertahan dalam keadaan yang ada, akan tetapi bekerja dalam perubahan adalah ada resiko bahwa kemungkinan kita akan gagal atau mengalami gangguan dalam proses. Jadi setiap diskusi tentang “takut perubahan” atau “takut gagal” harus dimulai dengan diskusi tentang transisi dan transformasi. Meskipun ada kelemahan dan resiko yang terlibat dalam perubahan (termasuk risiko kegagalan), pikirkan mengenai semua hal positif yang bisa datang dari perubahan, yaitu:

– Proses Perbaikan untuk Kepemimpinan dan Manajemen,

– Secara keseluruhan akan  meningkatkan kinerja karyawan,

– terbentuknya tim Pengembangan, transisi dan transformasi,

– Kepuasan Besar (Individu) – Personal Proficiency,

– Renewal Organisasi – Profesional Penguasaan, dan

– Marketplace Ekspansi, dan banyak lagi.

Patut diingat bahwa semua perubahan melibatkan sejumlah ketidakpastian dan ambiguitas dan dua kondisi ini memprovokasi kecemasan. Ini adalah alasan untuk terus berada dan selalu melihat ke masa lalu sebagai  pelajaran; itu wajar, karena ada pepatah, “lebih baik lakukan apa yang Anda ketahui dibandingkan mengasah apa yang Anda tidak tahu.” Jadi, meskipun perubahan memiliki kemampuan untuk mempromosikan sistem, struktur, organisasi dan tim baru, perubahan akan selalu berhadapan dengan dengan “tua “, “sama”, dan “mau melepaskan masa lalu”. Itulah sebabnya melihat sisi positif dan menjaga pikiran yang terbuka sangat penting untuk keberhasilan dalam proses perubahan.

Sikap Yang Harus Dilakukan Pemimpin Ketika Melakukan Perubahan Dalam Organisasi

Ketika seorang pemimpin baru muncul  di dalam suatu organisasi, biasanya mereka membawa sesuatu yang diharapkan akan dapat memberikan perubahan dalam organisasi yang ia pimpin. Jika perubahan yang ia bawa adalah sangat ekstrim, dalam arti sangat berbeda dengan kebiasaan di dalam organisasi, maka biasanya akan muncul perlawanan yang ekstrim pula dari dalam organisasi. Dalam hal ini biasanya para anggota di dalam organisasi akan melakukan “perlawanan” terhadap perubahan yang dibawa pimpinan baru. “Perlawanan” ini biasnaya adalah akrena mereka belum memahami arah yang sebetulnya ingin dicapai oleh pemimpin baru, atau karena mereka enggan untuk berubah karena sudah berada di zona nyaman. Untuk menyikapi hal ini, sudah sepatutnya para pemimpin harus memiliki strategi yang cerdas dalam mengelola perubahan sehingga perubahan yang ia bawa akan didukung dan dipahami oleh seluruh anggota organisasi.

Pikirkan tentang hal ini; Anda pernah mengalami ketika Anda sudah punya ide untuk proses baru, tetapi gagal untuk memperkenalkan kepada anggota tim yang lain. Anggota tim anda justru memberikan “perlawanan” terhadap proses baru yang akan anda jalankan.

Pemimpin yang baru harus dapat menempatkan anggota merasa nyaman dalam menjelaskan alasan di balik “perlawanan” mereka terhadap perubahan yang diusung. Demikian pula sebaliknya, pemimpin yang baru harus siap untuk menjelaskan kepada anggota mereka apa yang berubah dan mengapa. Berikut adalah beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemimpin yang baru ketika mereka melakukan perubahan dalam organisasi:

– Pemimpin yang baru tidak harus mencoba untuk merasionalisasi suatu masalah, tetapi ia harus fokus pada membuka dan menjaga saluran komunikasi yang jelas dengan anggota tim sehingga anggota tim mengerti apa yang akan terjadi dan apa artinya perubahan tersebut bagi mereka dan bagi organisasi.

– Pemimpin yang baru harus dapat membantu anggotanya dalam mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang situasi terbaru sebagai akibat dari perubahan, baik positif dan negatif.

– Pemimpin yang baru harus menginformasikan kepada anggota mereka tentang perubahan apa yang akan dilakukan, kapan itu akan terjadi, mengapa itu harus dilakukan, dan apa hasil yang diharapkan dari perubahan tersebut. Demikian pula sebaliknya, bahwa pemimpin yang baru juga harus menjelaskan kepada anggota tim tentang apa yang tidak berubah.

– Pemimpin tim harus mampu memahami kekhawatiran khusus dari setiap anggota. Apa kekhawatiran mereka dan seberapa kuat perasaan mereka tentang hasil potensial dari perubahan yang akan dilakukan, baik positif dan negatif (apakah mereka menganggap hal itu sebagai baik atau buruk?).

The Bottom Line

Menaklukkan tantangan “perubahan” melalui manuver team building memerlukan inovasi dan kreativitas. Kita harus yakin bahwa setiap orang sebetulnya merindukan ide-ide (baik besar atau kecil) yang dapat memberikan tambahan warna untuk tim atau organisasi, dan berharap bahwa ide tersebut akan mendulang sukses di masa yang akan datang. Namun faktor emosi, kepentingan, dan gengsi cenderung menutupi kerinduan tersebut, dan ini diimplementasikan dalam bentuk “perlawanan” terhadap perubahan yang diusung. Mereka sebetulnya takut bahwa perubahan itu akan gagal dan berujung pada kinerja yang jauh lebih buruk dari yang sudah diterapkan. Pendekatan komunikasi  dan menghilangkan arogansi pemimpin adalah jalan yang bagus untuk mengatasi hal tersebut.

Hambatan Utama Dalam Empowerment

Empowerment , yaitu upaya mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat..Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku atau aktor yang menentukan hidup mereka sendiri. Empowerment memerlukan penciptaan budaya yang mendorong pegawai dalam setiap tingkatan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan membantu pegawai untuk percaya diri dan kemampuan untuk melakukan perubahan.
Empowerment mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
  • Adanya pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab untuk membuat keputusan yang didukung oleh sumber daya yang memadai.
  • Adanya kontrol atas pelimpahan kewenangan dari manajemen.
  • Adanya penciptaan lingkungan agar pegawai dapat memanfaatkan kemampuan atau kompetensinya secara maksimum untuk mencapai sasaran organisasi.

Konsep pemberdayaan atau empowerment menuntut partisipasi penuh dan interaksi dari semua tingkatan organisasi. Masalah timbul ketika kurang adanya komitmen dari para pemimpin untuk benar-benar menerapkan strategi pemberdayaan di seluruh lini organisasi. Mereka bermulut manis mengeluarkan kata-kata pemberdayaan tetapi gagal untuk mengaktualisasikannya dengan tindakan nyata terhadap seluruh karyawan.

Pemimpin memiliki posisi yang kuat untuk bermain dalam menerapkan pemberdayaan karyawan di seluruh organisasi. Para pemimpin memahami bahwa proses pelaksanaan pemberdayaan tidaklah mudah. Proses pemberdayaan adalah lebih dari sekedar aspek mekanik melainkan disertai juga didalamnya adalah proses transisi dan perubahan.

Hambatan untuk melakukan pemberdayaan akan selalu nyata muncul dalam suatu organisasi, apalagi ketika suatu organisasi mendapatkan pemimpin yang baru. Pemberdayaan dari pemimpin yang baru datang ini melibatkan masalah kepercayaan, tanggung jawab, harmonis, partisipasi dan upaya kelompok dalam bekerjasama. Seringkali pemimpin yang tidak memiliki ketegasan akan mengalami kegagalan dalam pelaksanaan empowerment.

Salah satu frase kunci yang mendefinisikan pemberdayaan adalah “manajemen partisipatif.” Penelitian telah menunjukkan hubungan positif antara partisipasi karyawan dan kepuasan kerja dan antara motivasi dan kinerja. Link ini akan gagal terjadi ketika para pemimpin gagal dalam mengenali potensi karyawan mereka dan gagal untuk melihat berapa banyak kekuatan individu-individu yang berpotensi untuk membawa perubahan dan memecahkan masalah-masalah strategis. Proses empowerment menjadi hanya sekedar wacana atau ide saja ketika:

“Pemberdayaan hanya istilah yang digunakan untuk menghasilkan tindakan yang sama untuk mendapatkan hasil yang sama.”

Artinya bahwa pemimpin hanya mendelegasikan hal-hal yang sifatnya rutin kepada orang-orang baru yang ada dilingkungan organisasi tersebut. Maksudnya struktur organisasi dirubah, sementara tugas-tugas rutinnya tidak mengalami perubahan. Hal ini umumnya disebabkan oleh para pemimpin gagal untuk mendelegasikan tugas-tugas yang bermakna, tugas dan proyek yang dapat memiliki dampak nyata pada pembangunan kepercayaan diri dan kepuasan kerja.

Banyak pemimpin percaya bahwa pemberdayaan masih dapat dicapai melalui pendelegasian, tapi itu harus ada beberapa bentuk kontrol baik secara langsung atau tidak langsung dalam hal pengawasan kegiatan yang sedang didelegasikan.

“Kita semua ini bersama-sama … sampai titik tertentu.”

Banyak pemimpin gagal menyadari satu fakta penting: jika karyawan langsung dipengaruhi oleh perubahan yang diusulkan dan tidak terlibat dalam keputusan untuk melakukan perubahan, maka mereka akan melawan kebijakannya. Kebanyakan resistensi terhadap pemberdayaan berasal dari manajemen menengah. Pemimpin gagal untuk melihat bagaimana ketakutan ini dapat dikurangi atau dihilangkan. Mereka menggagalkan keberhasilan pembaharuan karena mereka tidak memahami konsep-konsep pemberdayaan, garis besar dari nilai ide-ide atau bagaimana sikap secara pribadi dalam menghadapi perubahan.

“Pemberdayaan dimulai di bagian atas dan bekerja ke bawah.”

Banyak organisasi merasa lebih baik untuk memulai perubahan pemberdayaan di bagian atas dan kemudian bekerja ke karyawan, meskipun ini membatasi beberapa aspek pemberdayaan. manajemen atas dan bahkan manajemen menengah sering berpendapat bahwa karyawan tidak mampu untuk mendapatkan seluruh gambar organisasi.

Organisasi sering lupa atau gagal untuk mengenali aspek lain yang penting dari pemberdayaan: mendelegasikan tanggung jawab ke tingkat terendah dari organisasi. Pemimpin perlu menekankan bahwa proses pengambilan keputusan harus sangat terdesentralisasi, dan karyawan dalam kelompok kerja yang dirancang atau tim harus bertanggung jawab atas peran mereka dalam proses kerja.

“Pemberdayaan dipandang sebagai produk sampingan.”

Banyak organisasi melihat pemberdayaan karyawan sebagai hasil dari strategi dan teknologi organisasi yang berfokus pada bagaimana menurunkan biaya, kecepatan dan efisiensi kerja, bukan sebagai unsur penting untuk mewujudkan suatu misi. Mereka gagal untuk memandang pemberdayaan sebagai strategi langsung untuk menghasilkan kualitas yang lebih tinggi, produktivitas dan efisiensi.

“Karyawan tidak hanya prioritas utama … banyak orang lain yang sama pentingnya.”

Organisasi sering gagal untuk menyadari bahwa tanpa karyawan produktif mereka bukanlah apa-apa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka kadang-kadang menjadi picik dan tidak menyadari bahwa pemberdayaan bekerja ketika karyawan membutuhkan organisasi sebanyak organisasi membutuhkan mereka.

Pemimpin lupa untuk mengikuti aturan emas: mereka harus memperlakukan karyawan mereka dengan cara seperti yang diinginkan oleh bos. Pemimpin harus mendefinisikan tindakan dan kata-kata mereka terhadap bawahan sehingga mereka menyadari konsep keadilan, rasa hormat.

Kualitas Manajer Efektif

Manajer yang efektif dapat memiliki banyak sifat yang membuat mereka menonjol. Misalnya, mereka dapat memiliki keterampilan organisasi yang sangat baik, mereka bisa sangat efisien dalam mendelegasikan atau memiliki loyalitas yang tak tergoyahkan. Meskipun sifat-sifat ini sangat penting dan esensial, tanda nyata dari seorang manajer yang efektif adalah salah satu yang dapat memberdayakan tim mereka. Ini berarti manajer harus menjadi pemimpin, yang dapat menginspirasi, memotivasi dan memberi energi kepada orang lain. Untuk melakukan hal ini manajer yang efektif memahami bahwa kepemimpinan ini, inspirasi, motivasi dan energi harus datang dari mereka.

Manajer besar memiliki kemampuan untuk menyalurkan gairah yang mereka miliki untuk pekerjaan mereka dan organisasi melalui tim mereka sendiri. Ketika terlibat dengan tim, seorang manager yang berkualitas akan lebih termotivasi dan bersemangat untuk mencapai tujuan mereka, menciptakan ide-ide baru dan lebih produktif.

Seorang manajer yang hebat mengerti konsep leverage dan berlaku secara efektif dalam peran mereka. Mereka memahami bahwa mereka harus bergantung pada orang lain untuk menyelesaikan sesuatu dan untuk membuat sesuatu terjadi. Oleh karena itu, manajer besar memiliki kemampuan untuk menyatukan upaya individu dari tim untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam struktur bisnis saat ini peran seorang manajer selamanya berubah. Peran dan tanggung jawab baru akan selalu ditambahkan. Salah satu bidang utama adalah bahwa seorang manajer harus mengambil peran yang lebih mendukung. Mereka harus memiliki kemampuan untuk melatih, memotivasi, dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi tim mereka yang menghargai setiap anggota tim. Kunci untuk menciptakan lingkungan yang mendukung di tempat kerja adalah kepercayaan dan keterbukaan. Dalam lingkungan ini karyawan lebih nyaman dan percaya diri untuk mengekspresikan kebutuhan dan ide-ide mereka. Ketika karyawan merasa bahwa manajer mereka terbuka dan bersedia untuk mendengarkan mereka, maka mereka merasa lebih dihargai.

Salah satu ciri yang paling penting dari seorang manajer yang hebat adalah komunikasi. Dalam dunia yang terus berubah, dipandang perlu bahwa manajer harus merupakan komunikator yang efektif. Ada begitu banyak cara untuk berkomunikasi apakah itu melalui telepon, kertas atau email. Namun, yang paling efektif adalah komunikasi tatap muka dengan tim Anda. Ini harus digunakan sebanyak mungkin ketika menetapkan target baru, tujuan tim, serta untuk memuji atau menegur karyawan.

Pemimpin Harus Menentukan, Memperjelas dan Berkomunikasi

Pemimpin harus dapat mendefinisikan dan mengkomunikasikan hasil yang akan dicapai kepada setiap anggota staf harus dilakukan oleh para leader manapun? Memastikan bahwa setiap anggota staf memiliki keterampilan khusus, pengetahuan dan atribut yang sesuai, merupakan dukungan yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang sukses.

Pemimpin harus dapat mengembangkan kriteria pengukuran, yang akan memungkinkan mereka untuk secara konsisten mengukur kinerja masing-masing anggota tim. Setiap anggota tim harus memiliki pemahaman yang jelas mengenai peran mereka dan apa yang dibutuhkan dari mereka setiap hari. Mereka harus juga dapat dengan mudah mengukur kinerja mereka sendiri sesering yang diperlukan untuk melihat apakah tindakan mereka sejalan dengan hasil yang mereka butuhkan untuk mencapai misiyang telah digariskan oleh pimpinan.

Pemimpin harus dapat mengembangkan dan membentuk budaya dalam tim dan organisasi mereka, yang akan mendukung visi keseluruhan. Ketika budaya mendukung visi dan setiap anggota tim memiliki sikap yang benar,  maka keberhasilan dalam mewujudkan visi dan misi sang pemimpin tidak bisa dihindari.

Untuk dapat mencapai hal-hal tersebut, maka pemimpin harus:

1. Isi Organisasi Anda dengan Orang-orang yang caliber alias berkemampuan tinggi
Peran paling penting dari setiap pemimpin adalah untuk menemukan dan menjaga staf-nya sebaik mungkin sehingga dapat mendukung visi mereka. Ini kemudian menjadi jelas bahwa menjadi seorang perekrut staf berkualitas baik adalah salah satu peran yang paling penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin besar. Keberhasilan atau kegagalan dari setiap pemimpin akan sangat tergantung pada orang-orang dalam organisasinya. Mengisi tim Anda dengan orang yang tepat harus dilakukan dengan kemahiran dan pemikiran yang mendalam.

2. Menemukan orang yang tepat
Hampir kebanyakan pemimpin mengatakan bahwa mereka mewarisi dengan komposisi “pemain” demikian terbatas, sehingga mereka mengalami kesulitan untuk mengubah keadaan. Kinerja organisasi demikian buruk akrena sumber daya manusia yang tidak tepat berada pada posisinya.

Seorang pemimpin, harus dapat dengan segera mereposisi orang-orang yang ada di organisasi agar sesuai dengan karakter, keahlian, dan kelebihan yang dimiliki oleh para staf. Cara terbaik untuk memulai adalah dengan membuat gambaran yang sangat jelas tentang criteria orang yang sempurna untuk posisi tertentu. Selanjutnya adalah anda melakukan wawancara, mengumpulkan data, dan dan menganalisis setiap subjek andasehingga menemukan orang yang hampir mendekati gambaran criteria anda.

3. Tahu Apa yang Anda inginkan
Tidak mungkin untuk membuat perubahan positif dalam tim Anda, jika Anda tidak tahu persis apa yang Anda inginkan. Cara terbaik untuk memulai proses ini adalah dengan cara menulis deskripsi yang sangat rinci dari hasil yang Anda inginkan. Semakin rinci setiap deskripsi persyaratan kerja, semakin mudah anda untuk mengidentifikasi orang yang tepat untuk mengisi posisi tertentu.

4. Buat Roadmap untuk Tim Sukses Anda
Deskripsi rinci ini berlaku seperti halnya garis atau peta jalan yang jelas untuk setiap anggota tim Anda; mereka akan memiliki kerangka yang jelas; jelas dalam mendefinisikan keinginan Anda, jelas dalam tugas dan tanggung jawab, serta jelas dengan apa peran mereka.  Mereka juga akan memahami kebutuhan pekerjaan mereka masing-masing. Setelah Anda jelas tentang apa yang setiap orang dalam tim atau organisasi lakukan, maka adalah bijaksana untuk kemudian menentukan jenis atribut, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh setiap orang di posisi barunya. Semakin anggota setiap tim mampu berkontribusi melalui peran masing-masing, maka akan berimbas pada pembentukan budaya kerja secara keseluruhan. Jika budaya kerja ini terbentuk, maka akan semakin mudah untuk dkatakan sebagai sebuah tim.

Pemimpin Pengecut

Apa yang dimaksud dengan pemimpin pengecut?

Bagiku, pemimpin pengecut adalah:

1. Pemimpin yang “mendelegasikan” segalanya kepada anak buahnya. Tidak pandang bulu apakah tugas itu seharusnya dikerjakan oleh pemimpin, namun pada faktanya ia “menyruh” orang untuk melakukannya.

2. Pemimpin yang tidak berani terbuka kepada bawahannya. ia selalu menutupi hal-hal yang seharusnya bisa dibuka atau dibagi kepada bawahannya.

3. Pemimpin yang tidak berani mengambil keputusan. Pemimpin ini tidak berani mengambil keputusan vital dan strategis. Segalanya diserahkan kepada forum untuk menyelesaikannya. Bahkan lebih parah lagi jika permasalahan tersebut dibiarkan mengambang tak berujung.

4. Pemimpin yang tidak berani berkorban. Dalam arti pemimpin ini pelit setengah mati. Ia tidak mau bermanuver untuk mengendalikan anggaran jika ada masalah di pembiayaan. Jangankan mengeluarkan uang pribadinya, mengatur anggaran yang sudah ada untuk menutupi masalah anggaran yang ada pun ia tidak bersedia berkorban.

5. Pemimpin yang tidak mau tahu. Pemimpin ini tidak mau tahu akan suatu masalah yang ada di organisasi. Ia hanya ingin segalanya “beres”. ia t

Cara Membangun Dan Menggali Inovasi-inovasi baru

Mengingat perubahan terbaru yang begitu cepat dalam gaya konsumerisme dan komoditisasi banyak produk, maka perusahaan mencari cara yang lebih baik untuk berinovasi sehingga akan tetap memiliki pelanggan, dan produk yang dimiliki akan selalu tampil menjadi yang terdepan.

Proses inovasi ini memerlukan berbagai macam hal, namun pada intinya, menurut Chip Heath dan Dan Heath dalam bukunya ” Made to Stick”, pada intinya adalah semua tentang menguasai proses perubahan sehingga inovasi yang benar dapat diambil dari akarnya. Ide mengenai proses perubahan ini adalah:

  • Menggunakan kerangka sederhana untuk mengubah perilaku. Tanpa modifikasi perilaku, perubahan (inovasi) akan banyak yang menolak.
  • Memanfaatkan kekuatan emosi. Inovator harus mempengaruhi rekan-rekannya untuk membuat ide-ide baru dalam merangkul pelanggan, yang pada gilirannya, adalah untuk menghasilkan produk baru sesuai dengan harapan pelanggan. Heath bersaudara  berpendapat bahwa ini paling baik dilakukan dengan menggunakan emosi, bukan pikiran rasional berdasarkan data.
  • Membuat mereka berpikir. Kekuatan brainstorming adalah penting, dan ini juga membantu memperkuat hal-hal yang sebenarnya masuk akal dan terpikirkan dari awal. Dengan membantu melalui cara memandu,  hal ini akan membuat hal masuk akal ini dapat terlaksana dengan lebh sederhana.
  • Menemukan keseimbangan antara fokus dan tujuan jangka pendek dengan jangka panjang. Artinya, menyeimbangkan kebutuhan untuk inovasi tambahan untuk jangka pendek dengan inovasi terobosan untuk masa depan perusahaan.
  • Menurut Dan Heath, karyawan perusahaan dapat didorong untuk menjadi kreatif dan inovatif jika perusahaan menyediakan tiga komponen penting:
    • Jelas arah. Berikan gambaran secara spesifik tentang cara Anda ingin berinovasi dan apa yang ingin Anda capai. Berikan pedoman yang jelas untuk mengasah orang dalam membuat perubahan yang Anda cari.
    • Motivasi. Gunakan emosi sebagai tuas untuk memotivasi orang untuk berinovasi mendapatkan mereka buy-in.
    • Membersihkan jalan. Menghapus hambatan yang menghalangi proses kreatif sangat penting. Dapatkah Anda memberikan waktu yang tenang untuk karyawan untuk berpikir tanpa PDA dan komputer? Dapatkah Anda merampingkan tugas? Dapatkah Anda melakukan sesi Brainstorming di lain tempat sehingga tiak ada gangguan?

Menurut Heaths, menciptakan pola pikir yang benar dan lingkungan yang tepat untuk inovasi adalah fungsi utama dari manajemen yang sukses.

Jangan Remehkan Kepemimpinan Anak Muda!

Sudah menjadi kebiasaan bahwa ketika seorang yang muda usia terpilih menjadi pimpinan tertinggi suatu organisasi, keniscayaan dalam memimpin akan selalu muncul. Terutama keniscayaan ini muncul dari para senior-senior yang sudah tidak muda lagi dan merasa memiliki banyak pengalaman.

Memang secara teori, bahwa makin banyak pengalaman maka ia akan semakin bijaksana. Tapi ini tidak menjadi dasar bahwa anak muda tidak dapat memimpin suatu organisasi. Ingat, ini adalah abad 21. Pemimpin di abad ini justru lebih memprioritaskan pada yang muda.

Pemimpin muda memiliki kelebihan yang dapat diandalkan dalam memimpin suatu organisasi, yaitu :

1. Pemimpin muda memiliki semangat yang menggebu. Semangat yang menggebu inilah yang menghadirkan mimpi dan ide yang bila terlaksana akan menjadi suatu karya yang cemerlang.

2. Anak muda melek teknologi. Ini adalah abad 21. Abad dimana internet dan gadget canggih merajai semua aktivitas manusia, termasuk bisnis. Anak muda jaman sekarang sudah dipastikan memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi informasi dengan lancar. Dan ini dapat mendukung kebijakan dan keputusan bisnis atau organisasinya. Tak perlu lagi surat berbentuk kertas, tak perlu lagi arsip-arsip administrasi berlembar-lembar. Semua bisa dilakukan hanya dalam satu buah komputer, laptop, atau tablet. Bandingkan dengan orang-orang senior yang mengetik di komputer pun mungkin tidak mampu.

3. Anak muda adalah penantang birokrasi. Biasanya birokrasi sering menghambat kecepatan kerja suatu organisasi. Memang benar bahwa birokrasi ditujukan untuk menertibkan suatu sistem. Namun ada kalanya birokrasi itu rumit dan bahkan ada saja yang dibuat menjadi sulit. Mungkin saja bukan sistem birokrasinya yang rumit dan sulit, tapi pelaksana birokrasi itulah yang memperumit dan mempersulit. Kehadiran anak muda sebagai pemimpin biasanya cenderung mengamati birokrasi dan mengolah untuk lebih mempermudah proses birokrasi itu. Adakalanya pemimpin anak muda menemukan ide untuk memperpendek alur birokrasi sehingga lebih efektif dan efisien.

4. Pemikiran anak muda lebih efisien. Tidak ada cerita atau pendahuluan yang panjang lebar. Seorang anak muda biasanya to the point, jarang untuk basa-basi. Komunikasi bentuk ini justru lebih mudah dicerna oleh bawahan, dan dapat segera dilaksanakan.

Itulah kelebihan anak muda menjadi pemimpin. Karena itu, sudah saatnya suatu organisasi dipimpin oleh anak muda. Soal kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan? Saya yakin bahwa setiap pemimpin anak muda pasti memiliki mentor yang usianya lebih senior. Jadi jangan takut jika anda adalah senior yang dipimpin oleh nak muda,  sebab dibelakangnya pasti ada senior yang mendampinginya.

Pemimpin Yang Gagal

“Jika Anda mengatakan Anda netral dalam suatu situasi ketidakadilan, Anda telah memilih sisi penindas. Jika gajah menginjakkan kakinya pada ekor tikus, dan Anda mengatakan Anda netral, maka tikus tidak akan pernah menghargai netralitas Anda” ~ Desmond Tutu.

Sikap seorang pemimpin ada kalanya memutuskan berada di posisi yang netral, namun di suatu saat ia harus memiliki keberanian untuk memutuskan berada di pihak mana. Penghargaan seorang bawahan kepada pimpinan akan muncul dengan sendirinya ketika pemimpin tersebut dapat dengan sigap menentukan dimana ia berperan. Jika suatu keputusan yang seharusnya adalah hak dan kewajiban pimpinan tertinggi, namun ternyata itu diambil alih oleh seorang bawahan, maka sudah dapat dipastikan bahaw pemimpin tersebut akan mengalami kegagalan. Kenapa bisa demikian? Karena sudah jelas ia tidak dapat menempatkan dirinya. Ia tidak peka. Dan lebih jauh lagi mungkin bisa dibilang bahwa ia tidak memiliki kemampuan leadership yang cukup.

Orang mengatakan bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik adalah ketika ia bersedia untuk mendengarkan keluhan dan pendapat dari berbagai pihak. Sebelum memutuskan suatu kebijakan, ia mendengarkan dahulu respon dan kebenaran suatu informasi. Ia tidak menerima informasi sepenggal-sepenggal, atau bahkan informasi yang belum teruji valid tidak akan ia gunakan. Pemimpin yang baik dan akan membuat keputusan berada di posisi yang benar akan berbekal informasi menyeluruh, insting yang tajam, dan kepercayaan diri yang kuat.

Tidak ada orang yang bersedia untuk diklaim sebagai pemimpin yang gagal, bahkan diri sendiri pun mungkin akan merasa berat untuk menyatakan dirinya gagal dalam memimpin. Akan tetapi proses dan hasil adalah bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa seorang pemimpin tersebut gagal atau tidak. Dan yang menyatakan bahwa pemimpin tersebut gagal atau tidak adalah bawahan (terutama bawahan yang teraniaya) seperti contoh tikus diatas, orang luar yang ada hubungan dengan organisasi, serta atasannya.

Lalu bagaimana agar seorang pemimpin tidak mengalami kegagalan dalam memimpin? Yang jelas ini semua dilandasi oleh:

  1. Jam terbang yang cukup di bidang managerial
  2. Kemampuan untuk membaca hati dan menggunakan hati dalam bekerja
  3. Kemampuan komunikasi
  4. Integritas

Paradigma Baru Kepemimpinan Abad 21

Paradigma baru dalam model pembelajaran kepemimpinan telah ditemukan melalui sistem nilai generatif, dan dirilis oleh Integral Cultural Creatives, Dr. Paul Ray, 2002. Dan penyebaran benih untuk warisan kepemimpinan baru telah ditaburkan di atas lanskap yang telah berubah. Revolusi leadership telah merubah segala hal tentang leadership meliputi pengertian, tujuan, target, dan pengelolaan.

Berikut adalah transformasi kepemimpinan dalam abad ke-21 yang membentuk paradigma baru dalam suatu kepemimpinan:

1. Pemimpin ingin kemajuan dan prestasi dengan membuka pintu peluang dengan benar.

Ini adalah otoritas intuitif, pewahyuan, dan transformatif otentik dalam tindakan. Mereka ingin dipersiapkan dengan baik dan dilengkapi untuk aplikasi kecerdasan spiritual dalam tujuan pemenuhan kepemimpinan dan dalam kehidupan organisasi.

2. Pemimpin ingin melakukan perubahan dan melakukan rekonsilisasi atas apa yang kurang dimanfaatkan atau hilang dari periode kepemimpinan sebelumnya.

Mereka ingin mengoptimalkan (dalam lingkungan tertentu dan dalam hati orang lain) semua kecerdasan spiritual yang dimiliki dirinya dan bawahannya untuk bisa digunakan dalam melayani masyarakat.

3. Pemimpin ingin membentuk pasar dengan menyamaratakan lapangan bermain untuk semua orang.

Hal ini dilakukan dengan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memperoleh pengalaman nilai, keterampilan, dan kebijakan melalui demonstrasi solusi untuk setiap kali permasalahan.

4. Pemimpin ingin memobilisasi kaum muda.

Secara spiritual, pemimpin abad ke-21 yang cerdas memfokuskan organisasi dalam mempersiapkan dan memperlengkapi kaum muda sebagai garis depan dengan berbagai pengalaman dan latihan keterampilan, sehingga mereka menjadi sumber daya yang handal dan semangat mereka dalam mewujudkan misi organisasi semakin tereksploitasi.

5. Pemimpin ingin secara etis untuk berpartisipasi dan mengontrol distribusi sumber daya dengan tepat melalui analisa kekayaan transferensi.

Mereka ingin mengambil bagian dalam pembentukan suatu warisan sistem yang dijadikan dasar untuk pencapaian tujuan inti di masa depan. Mereka berupaya untuk membantu menciptakan dan melestarikan suatu tradisi baru (baik itu tujuan maupun sistem manajemen).

Pemimpin abad ke-21 berusaha untuk hidup dari atribusi syukur, sehingga memperluas dan memperkaya kesadaran beroperasi dari tindakan yang benar-benar  terinspirasi. Mereka ingin mendeklarasikan diri sebagai kekuatan yang tangguh, siap untuk “all out” dalam berbagai pekerjaan untuk tujuan organisasi yang baik.

Terlepas dari perusahaan, militer, akar rumput, pemuda, menteri, atau peran kepemimpinan global, subjek tujuan kepemimpinan adalah penting. Apapun bentuk organisasinya, apakah itu industri bisnis atau organisasi non bisnis, kepemimpinan otentik di abad 21 merespon dorongan perasaan untuk membangun secara bersama-sama dan memberikan kesempatan dan memfasilitasi pada kaum muda untuk berkarya dan mengeksploitasi dirinya.