Pentingnya Data Bagi Dunia Marketing

Bayangkan, pemerintah yang memiliki kekuatan dan kemampuan besar untuk menggali data pun seringkali pusing mencari data, apalagi bisnis yang mengandalkan data dari pemerintah?
Memang, setiap kali membuat perencanaan pemasaran, salah satu hal yang membuat orang pemasaran pusing adalah soal data. Mereka selalu bingung, data semacam apa yang harus mereka cari untuk dijadikan dasar pembuatan perencanaan pemasaran. Kalau pun mereka tahu data apa yang harus mereka cari, pertanyaan berikutnya adalah, dimana mereka harus mencari data tersebut.
Mencari data memang ibarat mencari jarum di tengah jerami. Kalau Anda hanya sendirian mencarinya, tidak akan ketemu. Namun kalau Anda mempergunakan banyak orang sebagai team work untuk mencari, kemungkinan menemukannya pun jauh lebih besar. Jadi, mungkin bukan susah mencarinya tapi biaya untuk mencarinya bisa besar sekali (karena Anda membutuhkan lebih banyak usaha). Itu pun belum tentu menghasilkan data yang 100 persen akurat. Contoh paling sering yang ditanyakan oleh para pemasar adalah bagaimana mencari data market share.
Mengapa tidak mudah bagi para pemasar untuk mencari data market share? Lihat saja, 70 persen channel distribusi (untuk consumer product) mempergunakan channel tradisional seperti toko kelontong, pasar, asongan, dan lain-lain. Channel seperti ini banyak sekali dan titiknya tersebar di mana-mana. Jika Anda ingin melakukan pengumpulan data relatif lebih sulit dan lebih lama dibandingkan di negara maju. Pedagang kecil mana punya data yang canggih? Semua penjualan ditulis ke dalam buku tulis. Bahkan pedagang asongan pun hanya mencatat di selembar kertas bekas bungkus rokok.
Pada negara-negara maju, sebagian besar ritel disana sudah mempergunakan teknologi informasi seperti barcode sehingga kuantitas dan nilai penjualan pun dengan cepat terdokumendasi. Makanya di sana data market share bisa cepat diketahui.
Lucunya, kadang-kadang kita menemukan data yang kita inginkan secara tidak sengaja. Seorang pemasar pernah ingin mencari tahu berapa pertumbuhan industri dari produk yang dijualnya. Berminggu-minggu keluar masuk departemen, namun hasilnya tidak pernah ada.
Akhirnya, jawabannya ditemukan lewat sebuah koran yang sudah mau dibuang. Di dalam koran tersebut ada pernyataan dari Dirjen Pajak yang mengeluarkan statement bahwa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di sektor industrinya bertumbuh tahun lalu sebesar 7 persen. Artinya, kalau diasumsikan industri dimana dia memasarkan produknya kira-kira bertumbuh 7 persen. Lumayan juga untuk memperkuat perencanaan, sekalipun menemukannya di tong sampah!
Dalam dunia marketing research ada dua jenis penggalian data. Pertama adalah data yang digali lewat sumber-sumber yang bersifat primer. Contohnya adalah data dari konsumen langsung. Kedua adalah data yang digali dari sumber yang bersifat sekunder. Artinya, data diperoleh dari pihak lain yang telah melakukan penggalian data. Contohnya adalah melalui kantor-kantor pemerintah, bank dan lain-lain.
Menggali data lewat sumber primer relatif memang jauh lebih mahal. Anda harus mempergunakan tim pencari data yang cukup besar. Sebaliknya, untuk menggali data sekunder, Anda hanya membutuhkan sedikit orang yang ke luar masuk institusi untuk meminta data. Hanya saja di Indonesia, kredibilitas data sekunder seringkali menjadi pertanyaan.
Hal yang sering menjadi masalah dalam penggalian data adalah kejujuran dari subyek data. Banyak perusahaan yang sering low profile ketika berhubungan dengan pihak pajak, namun menjadi high profile ketika berbicara untuk urusan publikasi. Artinya, penjualan di laporan pajak dikecil-kecilkan, namun kalau diwawancara angkanya dibesar-besarkan. Dalam kasus BLT pun, banyak orang yang mengaku-aku termasuk golongan miskin ketika ditanya. Makanya bantuan akhirnya bisa salah sasaran.
Di sisi lain, masih banyak pelaku bisnis yang kurang menghargai data. Melihat kasus sang pemasar itu, berapa sih sebenarnya nilai data tersebut? Kalau dilihat cara dia menemukan data tersebut di tong sampah, data tersebut barangkali tidak akan dinilai tinggi. Contoh lain, banyak pelaku bisnis melihat ukuran data dari tebalnya laporan data. Semakin tebal semakin mahal. Tapi kalau cuma selembar, apalagi cuma satu angka berarti semakin murah. Tapi cobalah melihat proses yang harus dijalani selama berhari-hari untuk mencari satu angka tersebut, barangkali si pemasar rela mengeluarkan satu juta rupiah ketimbang opportunity lost yang terjadi gara-gara mencari data.
Dengan berbagai masalah ini, pada akhirnya orang-orang pemasaran lebih sering mempergunakan banyak asumsi data ketika melakukan perencanaan. Bahkan yang lebih ekstrim, ada yang tidak percaya data sama sekali dan mengandalkan pada insting. Bagaimanapun, insting kadangkala memang benar sekalipun tidak selalu benar. Adanya data sebenarnya lebih bertujuan untuk memperkuat keyakinan dibandingkan menjadi alasan untuk menjalankan strategi. Tapi kalau terlalu banyak asumsi, ya lebih baik mempergunakan strategi yang bersifat langsung.
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris.

Mempergunakan Halaman Belakang Rumah Untuk Lahan Bisnis

Setiap orang berkata bahwa untuk memulai bisnis perlu modal yang lumayan besar. Well, bagi saya pemikiran itu sedikit keliru. Sebab pemikiran tentang perlunya modal besar untuk usaha adalah persepsi bahwa kita akan berbisnis berskala besar. Padahal sebetulnya berbisnis itu tidak harus berskala besar. Bisnis lebih enak dimulai dari skala kecilsaja. Kenapa ? Sebab langsung berbisnis dalam skala besar relatif beresiko,apalagi jika sebagai pemula. Kita belum cukup memiliki ilmu berbisnis, kemudian langsung berinvestasi dalam skala besar maka kemungkinan berhasilnya akan kecil sekali. Dan andaikata gagal, jelas sekalikita akan merasakan stress.
Untuk memulai berbisnis sebaiknya kita belajar dari skala kecil dan tentunya dengan modal kecil saja dulu. Lambat laun kemampuan kita dalam berbisnis akan terasah, dan pada akhirnya bisnis akan mengarah kepada skala yang lebih besar.
Bisnis skala kecil dapat anda mulai dari belakng rumah anda.Anggaplah jika anda tertarik pada dunia ikan, maka belakang rumah anda dapat dimanfaatkan untuk membuat suatu kolam pembesaran ikan. Bagaimana dengan modal yang diperlukan ? Tak perlu mengeluarkan uang banyak. Cukup dengan menggaji satu atau dua orang untuk membuatkolam, membeli beberapa ratus benih ikan, dan sekarung pakan ikan. Kerjakan dengan tekun, amati setiap tindakan yang dilakukan, dan tunggu beberapa bulan kemudian untuk memanen hasilnya, dan anda akan terkejut bahwa anda memperoleh uang dari hasil penjualan ikan anda. Dan anda sudah mulai berbisnis.
Pemikiran bisnis membutuhkan modal banyak harus dirubah, karena itu adalah pemikiran ketika kita biasanya memandang dan memperhatikan pengusaha-pengusaha yang telah sukses. Mereka memiliki banyak uang, perusahaan berskala nasional maupun internasional. Padahal yang seharusnya diperhatikan adalah awal ketika mereka memulai berbisnis. Dan anda akan terkejut bahwa hampir semua pengusaha sukses mengawali bisnisnya dengan modal kecil, bahkan tanpa modal sekalipun. Ada yang memulaibisnisnya dari garasi rumah, rumah kontrakan,hingga kios kecil di pinggir jalan. Dengan ketekunan dan keyakinan diri,mereka berhasil menjadi pengusaha-pengusaha sukses. Lalu kenapa kita tidak bisa ? Tentu saja bisa. Dan itu bisa diawali dengan memanfaatkan halaman rumah anda.
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris

Memenangkan Kompetisi Bisnis

Kompetisi bisnis tidak bisa dihindari dan pasti akan terjadi dengan berbagai alasan. Kenapa ? Pertama, karena sesuatu yang bagus dan menguntungkan akan mengundang pemain lain masuk ke dalam bisnis yang sama, apalagi di bisnis retail yang sangat mudah untuk dimasuki baik skala kecil maupun menengah. Kedua, adalah karena pasar selalu membutuhkan suatu pilihan. Kehadiran kompetitor merupakan hal yang selalu dinanti oleh konsumen.
Sudah menjadi suatu hal yang umum bahwa kehadiran kompetitor mengancam kestabilan suatu bisnis. Akan tetapi dibalik keadaan tersebut kehadiran kompeatitor bisa menjadi pemicu bagi pebisnis untuk menjaga kualitas dirinya sehingga mampu mempertahankan pelanggannya.
Pasar ibarat kue yang diperebutkan oleh sejumlah orang yang berminat Diantara orang-orang yang berminat tersebut, akan ada yang makan lebih banyak dan ada yang hanya bisa makan sedikit saja. Tidak bisa dihindari, setiap kali bisnis kedatangan kompetitor baru, maka bisnis tersebut mau tidak mau akan berbagi kue untuk pendatang baru tersebut.
Pertanyaannya adalah seberapa besar kue yang harus terbagi atau “tercuri” oleh kompetitor ? Sedikit atau banyak pasar yang hilang oleh kedatangan kompetitor baru tergantung dari kemampuan bisnis tersebut dalam mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk dan service yang dimilikinya. Kehilangan pasar adalah kehilangan pelanggan. Berarti jika bisnis anda tidak mau tercuri pasarnya, maka anda harus mempertahankan pelanggan anda. Slah satu cara untuk mempertahankan pelanggan adalah melalui service beyond “service” excellent.
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris.

Tugas dan Tanggung Jawab Store Manager

Dalam suatu bisnis toko retail, kemajuan dan kelancaran operasional toko dipengaruhi oleh kecakapan seorang manager toko. Manager toko merupakan orang yang penting di suatu toko dan merupakan representasi manajemen perusahaan di garis depan. Karena itu seorang manager toko harus mengerti dan memahami tugas dan tanggung jawabnya agar operasional toko dapat berjalan dengan lancar dang menghasilkan profit yang maksimal bagi perusahaan.
Tugas dan tanggung jawab seorang store manager sangat kompleks. Oleh karena itu, mengetahui tugas dan tanggung jawab utama seorang store manager menjadi suatu keharusan agar dia bisa menyusun skala prioritas dari tugas-tugasnya tersebut.
Tanggung jawab seorang store manager adalah sebagai berikut :
1. Sales dan Profitability
Store manager tahu bahwa mereka harus mencapai target penjualan yang ditetapkan, namun hanya sedikit sekali yang menyadari bahwa mereka harus memperoleh profit atau laba dari hasil usahanya. Seharusnya seorang store manager sadar betul bahwa kesehatan tokonya diukur dari profit yang dihasilkan, bukan semata-mata hanya dari omzet. Penjualan itu penting karena merupakan tujuan dari adanya suatu toko, akan tetapi profit adalah tujuan utama dari sebuah bisnis. Apalah artinya suatu penjualan yang banyak tetapi profit yang sedikit, apalagi tanpa profit sama sekali. Profitabilitas sangat ditentukan ole jumlah sales yang diperoleh dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Untuk emmperoleh profit yang maksimal, seorang store manager harus memiliki kemampuan yang baik dalam hal pengendalian biaya.
2. Penanganan Inventory
Toko ritel adalah bisnis yang tergantung dari ketersediaan inventori atau barang dagangan. Bahkan boleh dikatakan bahwa inventori adalah jantung dari sebuah toko ritel. Seorang store manager harus memiliki kemampuan yang baik dalam hal penanganan inventori, sebab hal ini sangat mempengaruhi omzet toko yang dipimpinnya. Perlu kecakapan analisa yang baik untuk memperhatikan Inventory Turn Over (ITO)agar barang yang tersedia di tokonya dapat cepat dikonversi menjadi uang.
3. Pengendalian Sumber Daya Manusia
Kemampuan store manager dalam mengendalikan sumber daya manusia adalah tanggung jawab yang mungkin paling sulit dilakukan. Karena pengendalian sumber daya ini membutuhkan kemampuan penunjang yang sangat komplek meliputi kemampuan komunikasi, manajerial, psikologi, melatih,dan memotivasi,dan melakukan evaluasi.

4. Pengendalian Aset
Tujuan dari pengendalian aset ini adalah untuk memastikan bahwa semua aset yang ada di toko berfungsi sebagaimana mestinya sehingga mendukung pencapaian tujuan operasional toko. Aset yang menjadi tanggung jawab store manager adalah :
a. Tangible aset, yaitu aset yang berwujud seperti equipment dan gedung.
b. Intangible aset, yaitu aset yang tak berwujud seperti image perusahaan, merk, service.
5. Customer Service
Every business is a “service” business. Jargon ini mengindikasikan tentang betapa pentingnya pelayanan kepada pelanggan, karena service inilah yang menentukan loyalitas, kepuasan, dan kenyamanan pelanggan dalam berbelanja. Pada akhirnya tentu saja menentukan omzet penjualan. Oleh karena itu seorang store manager bertanggung jawab dalam menentukan dan melaksanakan bentuk service yang dilakukan oelh semua timnya. Service bukan hanya menentukan omzet penjualan saja,akan tetapi lebih jauh lagi adalah bahwa hal tersebut menentukan citra dan brand awareness toko yang dipimpinnya. Dan brand image tak lain merupakan aset bisnis yang harus dijaga dan dikendalikan.
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris.

Pengertian Segmentasi Pasar

Bagi suatu perusahaan tidaklah mudah untuk memuaskan semua orang. Jumlah konsumen yang begitu banyak, berpencar dan beraneka-ragam tuntutannya membuat perusahaan harus selektif dalam menawarkan produk atau jasanya kepada kelompok-kelompok konsumen yang sekiranya dapat memuaskan kebutuhan mereka. Untuk itu dibutuhkan segmentasi pasar.
Segmentasi pasar adalah proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok-kelompok pasar yang terdiri dari orang-orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa. Maksudnya adalah untuk merancang suatu bauran pemasaran (atau lebih) yang secara tepat sesuai dengan kebutuhan para individu dalam segmen (atau segmen-segmen) pasar yang dipilih. Pengertian lainnya adalah proses membagi pasar keseluruhan suatu produk dan jasa yang bersifat heterogen ke dalam beberapa segmen, di mana masing-masing segmennya cenderung bersifat homogen dalam segala aspek.
Untuk membangun strategi segmentasi langkah awal yang dilakukan adalah menentukan pendekatan segmentasi yang sesuai dengan segmen yang ada di pasar. Umumnya ada 2 pendekatan utama segmentasi yaitu pendekatan a-priori dan pendekatan post-hoc.
Pendekatan A-priori adalah pendekatan yang dilakukan sebelum suatu penelitian dilakukan, dimana peneliti sudah mengkotak-kotak pasar berdasarkan ciri-ciri seperti yaitu geographic, demographic ,psichological , psichographic (life style), sociocultural, kesamaan kegunaan, kesamaan kondisi, benefit, dan segmentasi campuran..
Pendekatan post-hoc adalah pendekatan yang tidak mengkotak-kotak pasar sebelum data dikumpulkan dan dianalisis. Segmen dibuat setelah data dikumpulkan dan dianalisis sesuai dengan atribut-atribut yang dianggap penting oleh peneliti. Jadi pendekatan post-hoc adalah pendekatan yang berorientasi pada riset dan dikembangkan untuk produk-produk spesifik pada suatu jangkauan waktu tertentu. Dengan demikian kekuatannya sangat bergantung pada pengetahuan pemasar terhadap produk dan pasar yang ditekuninya. Pengetahuan inilah yang akan membimbing pemasar menentukan atribut-atribut yang layak digunakan sebagai dasar analisis segmentasi yang dilakukan. Pengetahuan ini menentukan kepekaan pemasar dalam mengamati pasar.
Klik disini untuk artikel versi Bahasa Inggris.

Enterpreneurship: Dapatkah Dilatih ?

Apakah menjadi seorang pengusaha disebabkan oleh sesuatu yang ada dalam DNA Anda, atau hal itu dapat dilatih? Sebuah penelitian baru dari Babson College menemukan bukti “luar biasa”, yaitu bahwa jika mahasiswa Fakultas Bisnis mengambil setidaknya dua mata kuliah kewiraswastaan, itu dapat secara positif mempengaruhi mereka untuk memulai sebuah bisnis.
Profesor di perguruan tinggi Wellesley, yang berada di Massachusetts, menganalisis sebuah survei dari 3.755 alumni, dan ia menemukan bahwa dua mata kuliah kewiraswastaan (atau lebih baik lagi tiga sesi) sangat mempengaruhi keputusan mahasiswa untuk membangun sebuah start-up. Selain itu, ia juga melihat bahwa menulis business-plan dapat memberikan pengaruh ke arah itu, meskipun tidak terlalu signifikan.
“Kini sudah saatnya membuang pertanyaan skeptis, ‘Apa perlu belajar kewiraswastaan?’ karena sekarang kita memiliki bukti empiris yang membuat perbedaan cara pandang. Kami rasa, kewiraswastaan yang harus diajarkan tidak hanya untuk produksi dan pelatihan pengusaha, tetapi juga untuk membantu para mahasiswa memutuskan apakah mereka memiliki ‘modal’ yang tepat untuk menjadi pengusaha, sebelum mereka memulai karir yang mungkin tidak cocok bagi mereka,” tulis sang Profesor, dalam penelitiannya yang diberi judul “Does An Entrepreneurship Education Have Lasting Value? A Study of Careers of 3,775 Alumni”.
Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada pengaruh apakah si mahasiswa memiliki orang tua seorang pengusaha atau tidak. Juga ditemukan bahwa pria lebih mungkin untuk menjadi pengusaha daripada wanita. Ia juga menemukan sebuah pola, yaitu semakin tinggi pendapatan, semakin kecil kemungkinan para alumni berniat untuk menjadi pengusaha. Di sisi lain juga ditemukan bahwa semakin besar ketidakpuasan mereka terhadap pekerjaan, semakin besar kemungkinan bahwa alumni memiliki niat untuk menjadi pengusaha.
“Pada tingkat yang lebih abstrak, kami percaya bahwa kewiraswastaan harus diajarkan untuk setiap mahasiswa Fakultas Bisnis, karena pada hakikatnya kewiraswastaan adalah asal-usul semua bisnis,” tulis sang Profesor. “Tidak akan ada sekolah bisnis, jika tidak pernah ada pengusaha!” lanjutnya.
Sebuah studi pada tahun 2002 di Harvard Business School juga menunjukkan bahwa jika Anda dapat meyakinkan mahasiswa bahwa mereka memiliki modal yang diperlukan untuk menjalankan bisnis, mereka akan terjun berwiraswasta.
Profesor Harvard, Howard H. Stevenson, menjelaskan, “Jika Anda menganggap bahwa sebagian besar siswa kami adalah pengambil kesempatan, berorientasi pada prestasi, cerdas, dan pekerja keras (buktinya mereka telah diterima di sini), maka tindakan yang kami lakukan hanyalah memberi mereka ‘alat’ dan teknik untuk meningkatkan peluang keberhasilan mereka.”