Perlengkapan Mengajar : Alat Untuk Presentasi

Selain pengetahuan, faktor penting yang harus dimiliki oleh seorang guru atau pembicara publik lainnya adalah kemampuan komunikasi. Ya, ini jelas, sebab bagaimanapun pintarnya ilmu seorang guru atau apabila tidak dapat mengkomunikasikan materi dengan baik maka para siswa relatif tidak akan mendapatkan apa-apa dari sang guru tersebut. Oleh sebab itu maka seorang guru harus mengetahui tentang prinsip-prinsip komunikasi yang baik, alat-alat bantu mengajar, dan teknik-teknik komunikasi disamping rencana pembelajaran, metode pembelajaran, dan hal-hal lain sebagainya yang berhubungan dengan belajar mengajar.
Di zaman digital ini, multimedia memberikan pengaruh dan perubahan besar dalam kegiatan belajar mengajar. Jika jaman dulu proses belajar mengajara hanyalah dengan menggunakan papan tulis dan kapur tulis, kini komputer dan multimedia ikut andil dalam proses belajar mengajar, bahkan pengaruhnya sangat besar sekali terhadap kesuksesan penyampaian materi di kelas. Kini mau tidak mau seorang guru harus juga memahami mengenai multi media dan komputer yang ada hubungannya dengan proses belajar mengajar, salah satu contohnya adalah ketika melakukan presentasi.
Presentasi merupakan suatu bagian dalam proses belajar mengajar. Agar materi dapat diserap oleh siswa, maka presentasi yang disampaikan haruslah menarik, sederhana, dan jelas. Untuk membantu agar presentasi menjadi mudah diserap oleh siswa, maka dapat digunakan komputer, LCD projector, dan wireless presenter VP-110 sebagai alat bantu presentasi. Slide presentasi tidak perlu terlampau banyak, karena hal itu akan membosankan. Perhitungkan waktu presentasi ketika membuat slide presentasi. Harus diingat bahwa slide presentasi yang ditampilkan haruslah berupa kata-kata kunci saja, selebihnya adalah paparan lisan dari sang presenter dengan gaya komunikasinya masing-masing.

Lagi Promo!!

Seorang penjahat tertembak oleh polisi ketika sedang beraksi. Penjahat itu langsung koma di rumah sakit, kemudian dia pun bermimpi dibawa oleh malaikat ke neraka. Tapi ia terkejut karena di neraka sangat ramai. Banyak orang berdisko, minum, judi, dan banyak pula artis-artis cantik. Langsung saja ia ingin cepat-cepat masuk, tapi ditahan oleh iblis, “Tunggu dahulu!”,kata iblis itu.”Waktumu belum tiba, kembalilah ke dunia. Buatlah yang lebih jahat lagi, maka kau pasti masuk ke neraka ini!”, kata iblis itu dengan penjelasan penuh meyakinkan.
Akhirnya ia dikembalikan ke dunia. Sesuai pesan sang iblis, ia berbuat lebih jahat lagi dan akhirnya tertembak mati oleh polisi. Ia diantar oleh malaikat masuk neraka, tapi terkejut setengah matikarena di dalam neraka itu banyak api dimana-mana, bau amis darah, banyak binatang berbisa, dan banyak teriakan minta tolong. Bingung dan ketakutan, penjahat itu berkata, “Waktu lalu neraka tidak begini!?” Sang iblis tersenyum dan berkata, “Oh, waktu itu lagi promo…” Betapa kecewa dan menyesalnya sang penjahat karena menuruti pesan sang iblis. Ia tertipu, dan kini ia benar-benar merugi.
Ada kalanya suatu perusahaan bisnis berprilaku seperti sang iblis, presentasi produk dengan sangat meyakinkan, ditambah dengan promosi yang besar-besaran. Padahal secara kualitas produk yang dimilikinya tidak sesuai dengan presentasi awal. Perusahaan tersebut hanyalah bermaksud menipu pelanggan dan calon pelanggannya. Perusahaan yang seperti ini mungkin dapat meraup keuntungan penjualan yang banyak, karena promosi dan presentasinya yang meyakinkan, tetapi ini hanyalah sementara. Perusahaan ini tidak akan bertahan lama, karena pelanggannya telah ditipu hingga akhirnya mereka tidak bersedia untuk membeli kembali. Bahkan dengan kekuatan “word of mouth” mereka akan menyebarkan pengalamannya kepada teman-temannya, dan mereka merekomendasikan untuk tidak menggunakan produk perusahaan tersebut. Lambat laun perusahaan ini akan mengalami kebangkrutan, dan menghilang karena ditinggalkan oleh pelanggannya.
Dalam suatu bisnis, promosi dan resentasi produk itu adalah suatu hal yang wajar, dan pasti dilakukan. Hanya saja promosi dan presentasi tersebut haruslah sewajarnya, dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Apabila kita berpromosi bahwa produk kita berkualitas baik, maka kita harus membuktikan hal itu. Pada intinya apa yang kita lakukan janganlah membohongi pelanggan kita, sebab hal tersebut justru akan merugikan bisnis kita sendiri. Tidak apa memperoleh keuntungan sedikit, yang penting berjalan terus menerus. Seharusnya tujuan utama suatu bisnis adalah meraih pelanggan setia sebanyak-banyaknya, karena itulah yang akan memberikan penghasilan rutin untuk bisnis kita, dan secara otomatis akan mempromosikan bisnis kita kepada kolega-koleganya.

Ada Pelajaran Dari Orang Yang Telah Meninggal

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri pemakaman seseorang yang baru saja meninggal dunia. Suasana haru dan sedih membayangi rumah duka, demikian pula dengan alam yang ikut bersedih ditandai dengan cuaca mendung sepanjang hari. Saya menghadiri pemakaman adalah untuk berbelasungkawa dan ikut membantu prosesi pemakaman, walaupun bantuannya hanya sebatas doa saja.
Namun ternyata apa yang saya alami hari itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Saya menemukan suatu pelajaran dan ilmu kehidupan yang luar biasa. Kita tahu bahwa kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana cara kita meninggal,hal itu adalah rahasia Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah berusaha menjalani hidup dengan baik agar kita meninggal dalam keadaan baik pula. Bagi saya, orang yang baru saja meninggal memberitahu saya bahwa ketika kita mati, kita tidak akan membawa apa-apa. Kita hanya dibungkus oleh sehelai kain kapan, dan diberi ruangan yang sangat sempit. Bahkan untuk membersihkan diri pun kita harus dibantu oleh orang-orang. Kita meninggalkan semua yang kita miliki di dunia ini, termasuk anak dan istri.
Jadi apalah artinya kita mengejar kekayaan hingga menggunung dengan cara-cara yang tidak baik, jika kita mati saja tidak membawa apa-apa. Apalah artinya kita dengki kepada orang-orang jika ternyata pada akhirnya pun kita akan dibantu oleh orang-orang. Itulah pelajaran yang saya peroleh hari itu. Bahkan orang meninggal pun masih bisa menjadi guru untuk kita.

Kesiapan Mengajar

Ada kalanya guru bingung untuk memberikan materi, walaupun rencana mengajar sudah siap. Akan tetapi berhubung setiap waktu kita bertemu sama siswa, maka kita sebagai guru harus selalu memikirkan agar proses belajar tidak membosankan.
Banyak cara agar mengajar tidak membosankan, bisa melalui permainan, kerja kelompok atau yang lainnya. Namun yang pasti semua itu harus diawali dengan kesiapan kita untuk menyampaikan materi pemblejaran. Jika kita sudah siap mengajar, maka biasanya akan muncul ide dan improvisasi di lapangan agar bagaimana siswa merasa belajar dengan kita menjadi lebih menyenangkan.
Namun tidak dipungkiri bahwa guru pun suka dihinggapi kebosanan dan kemalasan, sehingga pada akhirnya akan berujung pada cara mengajar yang tidak bermutu. Bisa saja minggu kemarin pelajaran yang disampaikan dapat sukses diberikan, dan para siswa merasa bersemangat. Tapi di minggu berikutnya justru malah berbalik, proses belajar menjadi membosankan. Hal ini mungkin berhubungan dengan suasana hati sang guru di waktu tersebut.
Memang tidak mudah untuk mempersiapkan proses belajar mengajar. Bahkan guru yang sudah berpulu-puluh tahun mengajar pun masih saja dihinggapi suasana membosankan seperti ini, walau tidak selamanya. Untuk itu kita sebagai guru memang harus benar-benar mersapi bahwa mengajar itu ibadah, dan siswa menjadi lebih pintar sebagai akibat dari cari mengajar kita adalah suatu kebanggan tersendiri bagi kita.

Model Pembelajaran Model IMO 6.09

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti Pelatihan mengajar IMO Model Course 6.09. Apa itu IMO Model Course 6.09? Bagi yang belum tahu, IMO adalah singkatan dari International Maritim Organization, suatu badan cabang dari PBB yang menangani masalah-masalah kemaritiman dan kepelautan. Model Course 6.09 adalah model pelatihan yang dikhususkan untuk para pengajar/instruktur yang akan melatih atau mengajar calon-calon pelaut. Dengan demikian IMO Model Course 6.09 adalah pelatihan untuk para pengajar/instruktur para calon pelaut berdasarkan standar internasional yang dibadani oleh Organisasi Maritim Internasional atau International Maritim Organization (IMO).
IMO Model Course 6.09 hanyalah merupakan satu dari rangkaian pelatihan-pelatihan standar IMO untuk para pelaut atau calon-calon pelaut. Sebut saja IMO Model Course 3.12 untuk sertifikat penguji kepelautan, IMO Model Course 1.12 untuk pelatihan Bahasa Inggris Maritim, dsb. Jika seseorang telah memiliki sertifikat mengajar dari IMO, maka sudah dipastikan bahwa orang-orang tersebut telah memiliki pengetahuan standar mengajar untuk calon-calon pelaut.
Isi dari pelatihan ini sebetulnya sama saja dengan materi Diklat Kompetensi Guru yang biasa diadakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional untuk sertifikasi guru. Pengertian mengenai psikomotor, pedagogik, metode mengajar, membuat rencana mengajar, dsb, semua dipelajari di pelatihan IMO Model 6.09 ini. Karena intinya pelatihan ini adalah untuk melatih para peserta yang akan menjadi instruktur pelaut dengan standar internasional.
Namun tidak mudah untuk mengikuti IMO Model Course 6.09, sebab para peserta harus memiliki pengalaman berlayar dan sertifikat kepelautan yang disahkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, atau Kementerian Kelautan Dan Perikanan RI untuk pelaut kapal ikan. Kenapaharus demikian, karena sebetulnya IMO Model Course 6.09 adalah model pelatihan bagi para pelaut-pelaut untuk melatih generasi-generasi pelaut berikutnya. Oleh karena itu maka pengalaman pengajar harus sudah teruji agar proses belajar mengajar semakin sempurna.
Seorang guru biasa mungkin lebih memahami mengenai cara belajar mengajar yang baik. Akan tetapi mengajar secara sistematis untuk calon-calon pelaut rasanya kurang sempurna jika tidak dibarengi dengan pengalaman para pengajarnya. Bisa saja orang yang mengajar kepelautan tapi belum pernah memegang kemudi kapal atau melakukan perhitungan pelayaran, atau bahkan belum pernah berlayar sama sekali akan mengalami kehilangan kepercayaan diri ketika berhadapan dengan para siswa. Akhirnya semangat siswa calon-calon pelaut ini akan menurun, atau jika tidak pun maka kemungkinan kualitas mereka akan dibawah standar. Kenapa? Karena gurunya saja bukan pelaut dan belum pernah ke laut.
Kesimpulannya, pelaut merupakan suatu profesi sama seperti halnya pilot atau dokter. Tidak sembarangan orang mengajar mereka. Para pengajar mereka adalah pelaut-pelaut yang sudah senior dan pengalamannya sangat luar biasa. Namun mereka belum memahami bagaimana cara mentransfer ilmu mereka dan pengalaman mereka kepada calon-calon generasi penerusnya. Untuk itulah maka IMO membuat standar pelatihan untuk para pengajar yang dinamakan dengan IMO Model Course 6.09, agar cara guru dalam mengkomunikasikan pengalaman dan ilmu mereka menjadi lebih baik.