Tesis Saya : Desain Konseptual Pelabuhan Perikanan Terapung

Hai…barangkali ada teman-teman atau para pembaca yang ingin membaca mengenai tesis saya yang berjudul “Desain Konseptual Pelabuhan Perikanan Terapung: Studi Kasus Perairan Lepas Pantai Sumatera Barat”. Anda dapat download disini.

Berikut adalah abstraknya:

Kecenderungan penurunan nilai tangkapan per ton setiap tahun mengindikasikan bahwa ada penurunan ukuran ikan hasil tangkapan sehingga harga jual ikan mengalami penurunan. Dengan harga jual ikan yang lebih kecil karena ukuran ikan yang semakin kecil, maka jumlah pendapatan yang diterima oleh kapal ikan akan mengalami penurunan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kapal ikan yang terkonsentrasi hanya di tempat-tempat tertentu. Untuk meningkatkan nilai tangkapan per ton, kapal ikan harus mencari daerah penangkapan baru yang lebih jauh dari pelabuhan pangkalan. Akan tetapi semakin jauh jarak daerah penangkapan dari pelabuhan pangkalan maka biaya operasi penangkapan ikan menjadi semakin meningkat. Salah satu solusi untuk mengakomodasi kapal-kapal ikan agar mampu beroperasi lebih jauh, adalah dengan cara membuat pelabuhan perikanan yang terapung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi perikanan di perairan Sumatera barat, pola operasi dan menghitung ukuran minimum pelabuhan perikanan terapung.

Potensi sumberdaya ikan dihitung dengan menggunakan metode surplus produksi. Data yang digunakan adalah data time series jumlah tangkapan ikan, jumlah kapal penangkap ikan, dan jumlah upaya penangkapan ikan. Untuk mengetahui kondisi perikanan di perairan Sumatera Barat, hasil perhitungan pada metode surplus produksi dibuat grafik Maximum Sustainable Yield (MSY). Penelitian dilanjutkan dengan metode optimasi untuk mendapatkan jumlah tangkapan ikan maksimum masing-masing tipe kapal ikan dan jumlah kapal maksimum tiap tipe kapal ikan. Hasil optimasi jumlah kapal ikan digunakan bersama dengan panduan dari FAO mengenai pembangunan fasilitas pelabuhan perikanan untuk menghitung kapasitas setiap fasilitas yang akan disediakan oleh pelabuhan perikanan terapung. Total kapasitas fasilitas pelabuhan perikanan terapung selanjutnya digunakan untuk menghitung ukuran pelabuhan perikanan terapung.

Jumlah ikan pelagis yang boleh ditangkap adalah sebanyak 3.025,78 ton per tahun. Jumlah tangkapan ikan maksimum untuk kapal tipe longline adalah 1.004,7 ton dan kapal tipe purse seine adalah 2.019,96 ton. Pelabuhan perikanan terapung dibangun untuk melayani jumlah optimal kapal ikan sebanyak 31 unit kapal longline dan 146 unit kapal purse seine. Untuk memindahkan ikan dari pelabuhan ikan terapung ke daratan, digunakan 3 unit kapal pengangkut berukuran 78 GT. Pelabuhan perikanan terapung berbentuk ponton dan memiliki panjang keseluruhan (LOA) 82,41 meter, lebar (B) 16,48 meter, dan tinggi 5,89 meter dengan estimasi biaya pembangunan sebesar Rp. 43.182.536.474,00.

Hotel Murah Di Dekat Bandara Raden Intan Bandar Lampung

Sudah lama saya tidak aktif menulis. Bukan malas, tapi karena kesibukan saya menyelesaikan studi di Surabaya sehingga tidak ada waktu untuk menulis di website ini. Pada kesempatan pertama setelah menyelesaikan studi di Surabaya, saya ingin menulis pengalaman saya ketika kembali pulang dari Surabaya ke Bandar Lampung.

Saya kembali dari Surabaya menuju Lampung dengan menggunakan pesawat Lion Air pada pukul 18.40 dan mendarat Radin Intan alias Bandara di Lampung pada pukul 20.04. Setelah mendarat di Bandara Lampung, sebetulnya tujuan saya adalah ke Way Kanan, akan tetapi karena bis tujuan Way Kanan sudah tidak ada maka saya terpaksa harus menginap dulu. Perlu diketahui bahwa bis tujuan Way Kanan hanya ada pada pagi hari sekitar jam 8-10 pagi dan jam 12-13.00. Bis ini hanya ada dua kali pemberangkatan setiap harinya, ditambah dengan travel pada jam 16.00.

Saya menginap di Hotel Aero Guesthouse. Jaraknya adalah 600 meter ke arah Tanjung Karang jika dilihat di Google Map, dan jika berjalan kaki menghabiskan waktu 15 menit, sedangkan dengan menggunakan motor seperti Go-jek membutuhkan waktu 1 menit perjalanan. Hotel ini walaupun kamarnya kecil, akan tetapi boleh dibilang bagus jika hanya untuk sekedar transit saja. Di hotel ini sudah tersedia wi-fi, AC, dan TV khusus untuk kamar tertentu. Saya menginap semalam dengan biaya Rp. 200.000 per malam. Tidak ada TV sih, akan tetapi Wi-fi super kencang. Jadi walau tidak ada TV saya tetap dimanjakan dengan hiburan menggunakan wi-fi. Toh TV juga hanya siaran lokal saja dan itu pun bisa streaming kalo saya mau. Jika mau yang ada TV ya ongkos per malamnya lebih malam, yaitu Rp. 300.000 per malam. Tapi menurut saya sayanglah, mending yang Rp. 200.000 saja.

Luas kamar yang saya tempati mungkin hanya berukuran 3×3 meter. Hanya ada satu tempat tidur dan kamar mandi. Tidak ada lemari ataupun wastafel. Namun begitu, kondisi kamarnya bagus, rapi, dan bersih. Ada handuk dan peralatan mandi serta air mineral disediakan bagi pengunjung yang ingin menginapdi hotel Aero Guesthouse ini. Pelayanan juga baik. Penerima tamunya bapak-bapak namun energik dan gaul enak untuk diajak ngobrol. Tanya sedikit saja dia bakal cerita banyak he..he.. Jadi kalo bete di kamar ngobrol aja sama bapaknya di lobby hotel wkwkwk. Jadi kesimpulannya jika anda mendarat di bandara Raden Intan dan ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan anda, Hotel Aero Guesthouse sangat direkomendasikan.