Aksi Debat Cawapres Gibran: Marketing Politik Gagal atau Berhasil?

Visits: 8

Aksi debat cawapres Gibran Rakabuming Raka yang menampilkan berbagai gestur, mimik, dan pertanyaan menjebak kepada lawan-lawannya di debat keempat Pilpres 2024, Minggu (21/1/2024), menuai beragam reaksi dari publik. Ada yang menganggap aksi Gibran sebagai bentuk marketing politik yang cerdas, ada juga yang menilai aksi Gibran sebagai tindakan tidak sopan, provokatif, dan tidak profesional.

Marketing politik adalah strategi komunikasi yang dilakukan oleh para pelaku politik untuk mempengaruhi opini publik, membangun citra diri, dan meningkatkan elektabilitas. Marketing politik biasanya melibatkan penggunaan media massa, sosial media, iklan, kampanye, dan berbagai aktivitas lain yang bertujuan untuk menarik simpati dan dukungan dari masyarakat.

Salah satu bentuk marketing politik yang sering digunakan adalah gimik, yaitu aksi atau peristiwa yang sengaja dibuat atau dimanfaatkan untuk menarik perhatian, mengundang kontroversi, atau menciptakan sensasi. Gimik bisa berupa ucapan, perilaku, penampilan, atau hal-hal lain yang menonjol atau berbeda dari biasanya.

Aksi Gibran di debat cawapres bisa dikategorikan sebagai gimik, karena ia melakukan hal-hal yang tidak lazim dilakukan oleh seorang calon pemimpin negara. Beberapa contoh aksi gimik Gibran adalah:

  1. Melakukan gestur clingak-clinguk, menggeleng-gelengkan kepala, atau menunjuk-nunjuk jari saat mendengarkan jawaban lawan-lawannya, seolah-olah mencari jawaban yang sesuai dengan pertanyaannya atau mengejek jawaban yang tidak sesuai.
  2. Menggunakan istilah-istilah asing yang jarang dipahami oleh masyarakat umum, seperti greenflation, carbon tax, atau green bond, tanpa menjelaskan maknanya atau relevansinya dengan konteks pertanyaan.
  3. Menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi, seperti berapa jumlah anak atau cucu lawan-lawannya, atau apakah mereka pernah bermain golf bersama, yang tidak ada hubungannya dengan tema debat.
  4. Menyebut nama-nama tokoh dunia, seperti Elon Musk, Bill Gates, atau Angela Merkel, tanpa menjelaskan kaitannya dengan isu yang dibahas atau posisi Indonesia dalam hubungan internasional.

Aksi gimik Gibran ini mendapat sorotan dari media asing, yang menilai sikap Gibran sebagai tidak sopan, provokatif, dan tidak menonjol dalam debat. Media asing juga menyoroti bahwa Gibran ingin terlihat pandai dengan menggunakan istilah-istilah asing, tetapi tidak menjelaskan maknanya atau relevansinya dengan isu yang dibahas.

Aksi gimik Gibran ini juga mendapat kritik dari berbagai pihak, termasuk dari Ketua KPU Hasyim Asy’ari, yang menilai aksi Gibran sebagai provokatif dan tidak sesuai dengan etika debat3. Selain itu, aksi gimik Gibran juga dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap lawan-lawannya, terutama Mahfud MD, yang merupakan mantan ketua Mahkamah Konstitusi dan ahli hukum terkemuka di Indonesia.

Namun, tidak semua orang menilai aksi gimik Gibran sebagai hal negatif. Ada juga yang menganggap aksi Gibran sebagai bentuk marketing politik yang cerdas, yang bertujuan untuk menarik perhatian publik, mengundang kontroversi, dan menciptakan sensasi. Aksi Gibran juga dianggap sebagai strategi untuk menunjukkan karakter Gibran yang berbeda dari lawan-lawannya, yaitu lebih muda, dinamis, kreatif, dan humoris5.

Selain itu, aksi gimik Gibran juga mendapat dukungan dari tim pemenangan Prabowo-Gibran, yang menilai aksi Gibran sebagai bentuk kritik yang tajam, cerdas, dan berani terhadap lawan-lawannya. Tim pemenangan Prabowo-Gibran juga menilai aksi Gibran sebagai bentuk pembelaan terhadap Prabowo, yang sering diserang oleh lawan-lawannya.

Lalu, apakah aksi gimik Gibran ini berhasil atau gagal sebagai bentuk marketing politik? Jawabannya tergantung pada bagaimana publik menanggapi aksi Gibran tersebut. Jika publik menganggap aksi Gibran sebagai hal yang positif, yang menunjukkan kepribadian dan kemampuan Gibran sebagai calon pemimpin negara, maka aksi Gibran bisa dikatakan berhasil. Tetapi, jika publik menganggap aksi Gibran sebagai hal yang negatif, yang menunjukkan ketidakseriusan dan ketidakprofesionalan Gibran sebagai calon pemimpin negara, maka aksi Gibran bisa dikatakan gagal.

Untuk mengetahui apakah aksi gimik Gibran berhasil atau gagal, kita perlu melihat hasil survei atau polling yang mengukur elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran sebelum dan sesudah debat cawapres. Jika elektabilitas Prabowo-Gibran meningkat setelah debat cawapres, maka bisa dikatakan aksi gimik Gibran berhasil. Tetapi, jika elektabilitas Prabowo-Gibran menurun atau stagnan setelah debat cawapres, maka bisa dikatakan aksi gimik Gibran gagal.

Selain itu, kita juga perlu melihat dampak aksi gimik Gibran terhadap hubungan antara Prabowo-Gibran dengan lawan-lawannya, terutama dengan Ganjar-Mahfud, yang merupakan rival terkuat mereka dalam Pilpres 2024. Jika aksi gimik Gibran memicu konflik atau permusuhan antara Prabowo-Gibran dengan Ganjar-Mahfud, maka bisa dikatakan aksi gimik Gibran gagal. Tetapi, jika aksi gimik Gibran tidak mempengaruhi hubungan antara Prabowo-Gibran dengan Ganjar-Mahfud, atau bahkan mempererat hubungan mereka, maka bisa dikatakan aksi gimik Gibran berhasil.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa aksi debat cawapres Gibran merupakan suatu bentuk marketing politik yang memiliki risiko dan peluang. Aksi Gibran bisa berhasil atau gagal tergantung pada bagaimana publik dan lawan-lawannya menanggapi aksi tersebut. Oleh karena itu, aksi Gibran perlu dievaluasi secara objektif dan kritis, agar tidak menjadi bumerang bagi Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024.

Leave a Reply

Your email address will not be published.