Category Archives: branding

4 Hal yang Menyebabkan Re-Branding Mengalami Kegagalan.

Adakalanya bisnis yang kita jalankan mengalami kemunduran, pendapatan menurun, hingga akhirnya profit bisnis dan nilai jual merk menjadi rendah. Hal ini bisa terjadi oleh beberapa factor, misalnya tingkat persaingan yang semakin tinggi, manfaat produk diluar ekspektsi pelanggan, hingga factor-faktor mnajemen internal di perusahaan. Jika itu terjadi, apa yang harus dilakukan? Anda memerlukan pertimbangan cermat dan perencanaan Re-Branding dalam rangka mencapai hasil yang sukses dan membawa bisnis Anda ke tingkat berikutnya. Tapi ini juga beresiko.
Anda harus menyadari semua risiko re-branding sebelum Anda melakukannya. Ketika melakukan Re-Branding, anda tidak boleh terjebak dalam desain dan isu-isu lain yang kurang penting. Re-branding bukan hanya sekedar mengubah logo atau menambahkan gambar lebih berani. Hal ini juga tentang meneliti dan memahami konsumen, menganalisis perubahan target pasar saat menjajaki peluang untuk perluasan merek dan reposisi.
banyak para pebisnis yang melakukan kesalahan ketika melakukan Re-Branding, yang justru mengakibatkan bisnisnya semkin tenggelam. Berikut adalah beberapa kekeliruan pada saat melakukan Re-Branding yang mengakibatkan kegagalan total pada tujuan bisnis:
1. Re-branding tanpa penelitian
Asumsi yang salah jika pebisnis berpendapat bahwa Brand adalah hanya sebuah logo.
Merek Anda lebih bahwa hanya logo. Sebuah merek mengintegrasikan semua aspek dari bisnis Anda, mulai dari tampilan, rasa, budaya, nada, suara, kualitas produk, layanan pelanggan … yang mengarah ke persepsi konsumen.
Setiap brand memiliki karakter tersendiri yang mewakili citra produknya. Ketika suatu produk merubah karakternya, maka perubahan karakter tersebut harus mengakomodasi kebutuhan dan harapan pelanggan. Dan itu semua memerlukan penelitian.
2. Memulai tanpa rencana
Jika sesuatu dimulai tanpa rencana, maka kegiatan apapun akan terheniti di tengah jalan. Kalaupun tidak terhenti, maka akan mengalami kebingungan menentukan arah, karena tidak ada rencana sebelumnya.
Pastikan Anda memiliki rencana dari awal sampai akhir.dan semua berdasar pada hasil penelitian dan analisis.
3. Tidak memanfaatkan ekuitas merek yang ada
Sebuah perusahaan dengan ekuitas merek yang tinggi mungkin tidak perlu melakukan transformasi besar , atau lebih tepatnya, tidak perlu merombak total karakter yang sudah dimilikinya. Bila Anda memiliki ekuitas merek yang sudah kuat namun penjualan menurun, biasanya itu terjadi karena adanya pesaing yang memiliki strategi baru yang belum kita lakukan. Yang perlu anda lakukan adalah meningkatkan karkter merk dengan strategi baru, bukan merombak total merk.
4. Tidak merombak manajemen internal.
Ketika melakukan Re-branding, sudah selayaknya bahwa manajemen internal pun harus mengalami perombakan. Sosialisasi Re-branding dan meningkatkan kembali kepercayaan karyawan terhadap mrk sangatlah penting sebelum meluncurkan ulang brand ke pasar. Mendapatkan karyawan untuk memahami alasan dan tujuan re-branding sangat penting karena mereka harus menjualnya kepada konsumen. Ini sama lebih penting sebagai pengganti media sosial. Internal branding semakin penting karena karyawan juga berperan sebagai brand ambassador. Singkatnya, jika karyawan sendiri saja tidak percaya, maka dipastikan tidak akan ada konsumen.
Melakukan re-Branding dapat menjadi sangat menantang, karena ini tidak hanya berbicara tentang tujuan memperoleh profit, akan tetapi berbicara tentang kesuksesan dan keberlangsungan hidu suatu merk. Semakin besar perusahaan, maka semakin banyak waktu yang diperlukan untuk memastikan semua orang mengerti mengapa harus ada perubahan. Jika mereka mengerti, mereka akan dapat menjelaskannya kepada konsumen.
Kesuksesan re-branding membutuhkan visi yang menginspirasi konsumen, investor dan lain-lain untuk melihat perusahaan dalam cahaya baru. Kita dapat belajar dari perusahaan lain yang telah melakukan re-branding. Sebaiknya belajar pada dua perusahaan besar yang telah melakukan re-branding, dimana yang satu menunjukkan re-branding yang gagal, dan satu lagi adalah re-branding yang sukses. Kita harus mempelajari apa saja yang membuat mereka mengalami kegagalan dan kesuksesan. Akhir kata, Re-Branding itu penting untuk menjaga keberlangsungan hidup suatu bisnis.

Brand Loyalty

Sebagai pemasar, kita semua tahu, konsep brand loyalty sebenarnya merupakan ukuran keterikatan pelanggan terhadap sebuah merek. Ukuran tersebut mampu memberikan gambaran tentang mungkin tidaknya seorang pelanggan beralih ke merek lain, terutama jika didapati adanya perubahan, baik menyangkut harga atau atribut lainnya, pada merek dimaksud. Menurut Henry Assael , loyalitas terhadap merek merupakan hasil dari keputusan yang berulang-ulang dan kuatnya komitmen terhadap suatu merek.
Seorang pelanggan yang sangat loyal kepada suatu merek tidak akan dengan mudah memindahkan pembeliannya ke merek lain, apapun yang terjadi dengan merek itu. Dan, apabila kesetiaan meningkat, maka kerentanan pelanggan terhadap serangan atau ancaman merek lain tak perlu dikhawatirkan.
Mengapa demikian? Pelanggan loyal umumnya sulit dipengaruhi walau dihadapkan pada banyak merek alternatif. Tetapi, tidak sedikit pelanggan yang akhirnya berpaling pada rayuan merek lain. Sebab, biasanya merek alternatif tersebut menawarkan karakteristik produk yang lebih unggul dari berbagai sudut atribut, seperti harga, ukuran produk, kenyamanan pemakaian, dan lain sebagainya.
Manfaat Loyalitas
Jadi, tingginya kesetiaan pelanggan amat penting bagi sebuah merek. Ada beberapa manfaat yang menguntungkan dari kesetiaan merek tersebut.
Pertama, efektivitas dan efisiensi program pemasaran. Artinya, pemasar tidak perlu mengeluarkan biaya lebih banyak daripada merek lain karena merek yang dipasarkannya sudah berada di hati konsumen. Philips, contohnya, sedikit beriklan tetapi menjadi raja di kategori lampu listrik.
Kedua, mampu menurunkan daya tawar para perantara. Para perantara akan berada dalam posisi tawar yang lebih rendah jika dibandingkan dengan produsen sehingga mereka cenderung mengikuti dan tidak neko-neko (macam-macam). Apakah perantara atau mungkin peritel berani menolak Indomi yang sangat laris manis?
Ketiga, mampu menarik pelanggan baru. Pelanggan loyal memungkinkan untuk memengaruhi konsumen lain agar membeli merek pilihannya. Mereka bisa menjadi pembela merek tersebut melalui word of mouth, member get member, dan lain-lain. Ini yang dimanfaatkan oleh Unilever Indonesia dalam mendongkrak penjualan sabun cuci piring Sunlight.
Keempat, merek yang tingkat kesetiaan pelanggannya tinggi mempunyai zone of tolerance( Zot) tinggi pula. Maksudnya, pelanggan akan memberikan toleransi terhadap segala perubahan yang terjadi, salah satunya jika ada kenaikan harga. Berapa banyak sih pelanggan yang akan meninggalkan Pepsodent ketika harganya dinaikkan Rp 500?. Tentu lebih sedikit dibandingkan dengan merek Ciptadent. Jadi Zot konsumen terhadap merek Pepsodent lebih tinggi jika dibandingkan dengan Ciptadent.
Tetapi, pengukuran loyalitas pelanggan terhadap sebuah merek juga harus dilakukan secara terus-menerus. Untuk itu, banyak cara yang bisa ditempuh.
Pertama, mengukur perilaku pelanggan menyangkut tingkat pembelian ulang, persentase pembelian, dan jumlah merek yang dibeli dalam satu kategori produk.
Kedua, dapat dilakukan dengan menghitung switching cost. Di dalamnya, meliputi berapa banyak pelanggan yang akan melakukan perpindahan pembelian, ke mana saja mereka berpindah, mengapa mereka pindah, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu harus mendapatkan jawabannya.
Ketiga, pengukuran tentang komitmen pelanggan. Untuk mengukur seberapa besar komitmen pelanggan terhadap merek kita, salah satu hal yang harus dipelajari adalah mengetahui jumlah interaksi dan komunikasi terkait merek tesebut.
Meningkatkan Loyalitas
Setelah mengetahui manfaat dan langkah-langkah untuk mengukur brand loyalty, lantas bagaimana strategi pemasar untuk memelihara dan meningkatkan loyalitas tersebut? Banyak perusahaan yang menjalankan strategi frequency marketing program. Artinya, perusahaan akan memberikan suatu penghargaan jika konsumen membeli dalam frekuensi tertentu.
Sebagai contoh, jika kita sering naik maskapai tertentu dengan frekuensi tertentu, maka pada jumlah tertentu kita akan mendapatkan tiket gratis. American Airline mulai menerapkannya sejak 1980-an dan menjadi pionir dalam strategi itu. Hampir semua perusahaan kartu kredit menjalankan strategi yang sama. Para penerbit menawarkan sejumlah poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah jika pembelanjaan dilakukan dengan kartu kredit tertentu.
Selanjutnya, membership marketing program bisa juga menjadi strategi yang digunakan oleh pemasar. Harley Davidson punya HOG (Harley Owners Group), kumpulan pencinta fanatik sepeda motor mewah Harley. Jumlah anggotanya sekarang sudah mencapai 150.000-an. Ini pun dilakukan oleh hampir semua ritel besar, misalnya Hero dengan Hero Customer Club-nya, Carrefour dengan Carrefour BCA-nya, Giant dengan Giant Citi, Alfamart dengan Aku. Ritel tersebut memberikan diskon, mulai dari 1,5-5%, kepada pemegang kartu.
Program loyalitas yang lain adalah dengan menjalankan relationship marketing. Dengan menjalankan program tersebut, kita berharap dapat mengembangkan sebuah proses perjalanan pelanggan dari suspect, prospect, first time, repeat, clients, advocates, dan akhirnya menjadi partner atas merek kita.
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris.

Fakta-fakta Mengenai Pelanggan

Jika anda adalah seorang pebisnis dan memahami bahwa every business is service business, maka anda harus memperhatikan fakta-fakta mengenai pelanggan berikut ini :
1. Rata-rata perusahaan hanya mendengar keluhan 4%dari 100% pelanggannya yang tidak puas. Yang 96% lagi pergi secara diam-diam. Dan 91% dari pelanggan yang tidak puas itu tidak akan pernah kembali. Bagi perusahaan yang orang-orangnya tidak mengerti bagaimana harus memperlakukan pelanggan, hal ini merupakan kerugian finansial yang serius. Tapi sebaliknya pula hal ini merupakan keuntungan yang luar biasa bagi perusahaan yang orang-orangnya mengerti bagaimana harus memperlakukan pelanggan.
2. Suatu penelitian entang “mengapa pelanggan lari” menemukan kenyataan-kenyataan berikut :
– 3% karena pindah tempat tinggal
– 5% karena menemukan persahabatan baru di perusahaan atau toko lain
– 9% karena bujukan pesaing
– 14% karena merasa tidak puas dengan produk yang dibelinya
– 68% karena sikap masa bodoh yang diperlihatkan oleh pemilik, manajer,dan karyawannya.
3. Rata-rata seorang pelanggan yang tidak puas akan menceritakan masalahnya kepada delapan atau sepuluh orang temannya. Satu dari lima pelanggan yang tidak puas akan menceritakan masalahnya dan keluhannya di jejaring sosial. Untuk memperbaiki satu insiden yang negatif diperlukan selusin pelayanan yang positif.
4. Tujuh dari pelanggan yang mengeluh itu akan kembali meneruskan hubungan bisnisnya dengan anda setelah anda memecahkan masalah yang mereka hadapi. Jika masalah tersebut langsung anda pecahkan saat itu juga, maka 95% dari mereka akan meneruskan hubungan bisnis dengan anda. Seorang pelanggan yang puas karena keluhannya ditanggapi, rata-rata akan menceritakan pengalamannya itu kepada lima orang temannya.
5. Untuk menarik pelanggan yang baru, rata-rata perusahaan menghabiskan waktu enam kali lebih banyak daripada waktu yang dipakainya untuk mempertahankan pelanggan yang lama. Padahal dalam sebagian besar kasus, loyalitas pelanggan mempunyai nilai 10 kali lebih besar daripada uang yang dibelanjakannya dalam satu kali pembelian.
6. Bisnis yang kualitas pelayanannya rendah, rata-rata hanya memperoleh tambahan 1%pelanggan baru dan kehilangan pangsa pasar sebanyak 2% setahun. Pada pihak lain, bisnis yang kualitas pelayanannya sangat baik, bahkan beyond service excellent, rata-rata memperoleh 12% tambahan pelanggan baru, meraih pangsa pasar sebesar 6% setahun dan biasanya mampu menetapkan harga yang cukup tinggi.
Itulah beberapa fakta-fakta mengenai pelanggan yang harus anda perhatikan agar bisnis anda bertahan bahkan dapat terus berkembang.
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris.

Brand Follower!

Zaman telah berubah dan benar-benar terus berubah. Tak satu pun orang, atau bahkan perusahaan, yang mampu menghentikan perubahan itu. Ibarat air mengalir, ia akan terus mengalir deras tanpa batas. Arahnya jelas, menuju ke mana ia harus melangkah.
Begitu pula dengan dunia pemasaran. Andaikan pasar itu lautan, airnya tampak terhampar luas tanpa ujung. Di situlah ikan-ikan bersaing mencari makan. Di tempat itulah para marketer berlomba menaklukkan konsumen. Dan, saat ini persaingan itu sudah semakin rapat, padat, ketat, sengit. Karena itu, marketer rela melakukan apa saja untuk sekadar merebut secuil pasar yang dimasukinya. Salah satunya dengan menjadi brand follower.
Brand follower dapat didefinisikan sebagai merek pengikut atau imitasi (immitation brand). Di Indonesia, merek semacam ini sungguh berjubel. Jadi, yang harus diingat oleh brand pioneer, keberadaan merek pengikut tersebut tidak bisa diabaikan. Kita meminjam sebentar pendapat Steven P Schnaars dalam buku Managing Immitations Strategies yang menyatakan, “But many who are now first will be last and many for a last will be first. Now that is sage advice for later entrant…”. Artinya, banyak yang pertama menjadi terakhir dan yang terakhir menjadi pertama.
Sebagai marketer, kita bisa memahami ada banyak peluang bagi brand follower menjadi market leader dan market leader tergeser menempati posisi follower. Sebab, biasanya brand follower juga memiliki banyak keunggulan yang dapat mengancam pionir.
Meski demikian, brand pioneer tetap yang berpeluang paling besar menjadi market leader. Beberapa keunggulan pionir antara lain: memiliki konsumen yang loyalitasnya tinggi, posisi yang umumnya sangat mantap di pasar, biasanya dilatari kepemimpinan dalam hal teknologi, serta punya dana lebih besar dan research and development (R&D) yang kuat.
Pionir juga lebih dulu memiliki akses ke perantara (distributor) dan experience effect mereka juga jauh di atas para pendatang yang terlambat masuk ke pasar. Terakhir, mereka sudah menciptakan suatu hambatan yang sangat tinggi bagi pesaing yang masuk belakangan. Jadi, sebetulnya banyak sekali keuntungan yang telah digenggam oleh sang pionir. Itu harus dikelola tanpa henti.
Follower Chance
Melihat sederet keunggulan yang ditenteng merek pionir, tertutupkah kesempatan bagi para later entrants (follower) untuk memenangkan persaingan? Jawabannya, tidak! Betul kata Schnaars, yang pertama bisa jadi terakhir dan sebaliknya.
Alasannya, follower juga menawarkan banyak kelebihan. Pertama, mereka bisa menghindari produk-produk yang tidak potensial. Kedua, apabila produk itu punya risiko, risikonya sudah ditanggung oleh pionir. Ketiga, biaya R&D-nya lebih kecil karena follower masuk belakangan di saat pasar itu sudah terbentuk.
Keempat, mereka punya peluang untuk mendapatkan pangsa pasar dari market leader kalau pasarnya lemah. Kelima, biaya untuk mengedukasi konsumen sangat rendah. Sebab, proses edukasi sebelumnya sudah dilakukan oleh market leader. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa brand follower sebetulnya juga mengusung banyak keunggulan.
Lalu, strategi apa saja yang digunakan follower untuk menyerang market leader?
Umumnya strategi yang digunakan ada tiga, yakni: Cloner, Immitator, dan Adapter. Cloner berarti mengikuti produk, distribusi, iklan yang sama persis seperti pionir. Mereka meniru habis-habisan, hidup bak parasit dari investasi market leader.
Sementara Imitator meniru beberapa hal dari pionir dan mencoba membedakan dalam hal kemasan, iklan, harga, dan sejenisnya. Adapter, mereka mengikuti pionir lalu mengadaptasi serta memperbaiki apa yang menjadi kelemahan pionir itu. Cirinya, mereka selalu melihat apa yang menjadi kelemahan market leader, kemudian mencoba memperbaikinya. Contohnya, Smile Up mengikuti Close Up (Unilever), Mi Sedaap mengikuti Indomie (Indofood), Ale-Ale seperti Frutang, dan lain sebagainya.
Dari perusahaan lain, ada juga permen Kino (Kino Group) mengikuti Kopiko sehingga Kopiko sempat pontang-panting dan kemudian mengubah tagline-nya. Bahkan, minuman energi Kuku Bima Ener-G sukses mengambil alih tampuk pemimpin pasar. Merek follower besutan Sido Muncul ini berhasil melampaui penjualan Extra Joss yang pionir dan menguasai pasar sebelumnya.
Selain itu, strategi utama yang mereka sodorkan biasanya menawarkan harga lebih rendah. Mereka bermain di value marketing. Contoh mudah yang pernah kita lihat adalah hadirnya Star Mild ke pasar. Merek rokok ini berhasil “merampok” market share di kelas mild dengan persentase lumayan besar karena menawarkan harga lebih rendah daripada A Mild, merek yang lebih dulu ada.
Kedua, mereka juga punya kesempatan memperbaiki produk lewat teknologi yang lebih canggih. Ketiga, ini yang paling banyak dilakukan oleh para follower di Tanah Air dan cukup berhasil, yaitu menggunakan market power—seperti yang dilakukan Wings Food terhadap Indofood tadi. Implikasinya ialah iklan dan distribusi menjadi kekuatan utama dalam menghadapi penguasa pasar. Karena pasarnya sudah ada dan besar, dua sisi itu telah terbukti paling efektif untuk meraih pangsa pasar bagi follower.
Nah, sebenarnya masih banyak strategi dan taktik pemasaran yang bisa disiapkan brand follower dalam upaya menyalip merek pionir. Gampangnya, senjata yang mumpuni bagi follower adalah: value leadership, real supperior product, dan full superior marketing effort.
Ingat, perubahan dan persaingan merangkak seiring sejalan. Resesi finansial global sekarang ini juga memicu perubahan dan ketatnya persaingan. Di dalam perubahan dan persaingan itu terdapat kata “menang” dan “kalah”. Oleh karena itu, susunlah strategi dengan tepat dan smart, agar kemenangan ada di tangan merek Anda. Jika follower, jadilah brand follower yang sukses. Bukankah the last will be first?
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris.

Merek Dagang

Merk merupakan suatu identitas dari perusahaan yang diekspresikan melalui logo ataupun tagline. Merek sangat penting dimiliki oleh suatu bisnis untuk pengembangan usahanya. Dengan merek, suatu produk atau jasa yang ditawarkan akan dikenal oleh para pelanggannya.
Sebuah merek adalah kumpulan sifat yang sangat mempengaruhi pembelian. Merek memunginkan konsumen untuk mengidentifikasi produk atau jasa yang menjanjikan manfaat khusus. Merek membangkitkan harapan konsumen akan mutu, harga, tujuan, dan performa. Nama merk yang terkenal adalah aset perusahaan yang paling bernilai. Mereka mewakili akumulasipengalaman konsumen yang menyenangkan selama bertahun-tahun dan investasi yang tinggi pada iklan, presentasi, dan mutu.
Ada dua jenispenamaan merk yang utama, yatiu :
1. Master Brand. Yaitu nama tunggal dan proposisi yang digunakan untuk mencakup berbagai area produk yang berbeda. Contoh master brand yang terkenal adalah Sony, Canon, Honda, Toyota, Hitachi. Brand tersebut bisa digunakan untuk semua produk yang diproduksi oleh mereka sendiri.
2. Individual Brand. Individual brand selalu mengandung satu jenis produk untuk satu pasar, dan mencakup pilihan model, ukuran, produk, dan format kemasan yang berbeda. Contoh individual brand ini misalnya adalah McDonald, KFC, CFC, dan lainnya yang khusus berbisnis di satu pasar yaitu pasar restoran cepat saji.
Pada perkembangannya, indvidual merk dapat berubah menjadi master brand apabila bisnis yang dijalankannya memproduksi produk atau jasa lain dengan menggunakan merk tersebut. Demikian pula halnya master brand. Untuk membuat suatu merk menjadi semakin kuat dan tersegmen, master brand akan diikuti oleh individual brand. Misalnya adalah Sony Vaio. Sony merupakan master brand terkenal yang bergerak di bidang elektronik.Untuk membuat citra dirinya semakin kuat, serta untuk membuat merk tersebut memiliki suatu segmen pasar di suatu produknya, maka Sony menciptakan individual brand “Vaio” untuk pasar komputer. Pada penyebutannya biasanya indvidual brand ini ditempatkan setelah master brand-nya. Contoh Sony Vaio, Sony PlayStation, Apple Iphone, dsb.
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris.

Membangun Channel Ciptakan Top Brand

Steve Jobs sungguh sosok fenomenal. Apa pun yang dia lakukan selalu menjadi berita. Maklum, dialah CEO yang sangat disegani di seluruh dunia. Prestasinya dalam membuat perusahaan Apple dari yang hampir bangkrut menjadi perusahaan yang mempunyai kapitalisasi pasar lebih tinggi dari Microsoft sungguh mengagumkan. Sebuah kinerja bisnis yang belum pernah terpikirkan sebelumnya oleh pelaku bisnis atau investor di seluruh dunia.
Pada Januari 2011 ini, Steve Jobs memutuskan untuk mengambil cuti panjang sebagai upaya untuk mengobati penyakit kanker kolon yang diderita sejak tahun 2004. Dalam hitungan jam, bursa saham langsung bereaksi negatif. Harga saham Apple turun 8% dalam kurun waktu satu hari perdagangan. Penurunan ini setara dengan turunnya kapitalisasi pasar sebesar Rp 240 triliun. Wow! Inilah sebuah nilai kesehatan yang sangat mahal. Bahkan mungkin lebih mahal dari kesehatan seorang presiden.
Sejak Steve Jobs kembali menjadi CEO Apple di tahun 1997 setelah didepak pada tahun 1985, berbagai produk inovatif sudah dia luncurkan. Ipod, iphone, dan ipad adalah produk-produk fenomenal, yang pelanggannya rela mengantre untuk membeli. Ini yang kemudian membuat harga saham Apple naik lebih dari 100 kali lipat selama 10 tahun terakhir. Prestasi gemilang dari Apple ini bukan hanya terbatas dari inovasi produknya, tetapi juga merambah ke pengembangan bisnis dan layanan.
Apple telah berhasil mengembangkan jaringan ritelnya di seluruh dunia. Steve Jobs menyadari bahwa semua produk teknologi tinggi sudah mengalami perubahan, yang semula merupakan alat untuk produktivitas kemudian menjadi alat untuk mencari pengalaman. Diluncurkan pada tahun 2001, kemudian berkembang sangat pesat hingga tahun 2010. Kontribusi terhadap total revenue dari Apple Retail Store ini mencapai 20% terhadap penjualan dan sekitar 25% terhadap laba perusahaan. Apple Retail Store ini juga terbukti mendongkrak pangsa pasar Apple dan sekaligus memperkuat merek Apple agar menancap kuat dalam benak pelanggannya.
Apple Retail Store memulai konsep dengan memberikan pengalaman. Ini berbeda dengan produk-produk elektronik lainnya yang cenderung mementingkan penampilan produk. Pelanggan dibiarkan untuk mencoba dan bahkan melakukan berbagai aktivitas seperti mengunduh lagu atau memindahkan foto. Salah satu konsep yang terkenal dari Apple Store ini adalah Genius Bar, yaitu bagian dari ritelnya yang dijadikan sebagai proses pembelajaran bagi para pelanggan. Genius Bar ini memang salah satu daya tarik dan sekaligus memberikan keunikan yang membedakan dengan toko-toko elektronik dari merek-merek global lainnya.
Merek dan Saluran Distribusi
Cerita Apple Retail Store ini saya angkat untuk menunjukkan pergeseran strategi dalam membangun merek. Saluran distribusi seperti ritel ternyata memang memiliki peran yang penting dalam membangun nilai merek. Memang, dampaknya relatif pelan dibandingkan dengan iklan-iklan konvensional, terutama iklan televisi, namun dalam jangka panjang, pembentukan merek melalui saluran distribusi akan semakin penting baik dari segi efisiensi maupun efektivitasnya.
Dari berbagai analisis yang dilakukan oleh tim-tim analisis bisnis, betapa semakin pentingnya saluran distribusi dalam mempengaruhi kekuatan merek. Merek-merek yang menjadi Top Brand secara terus-menerus terlihat mampu mengombinasikan kekuatan iklan dalam membentuk merek dan juga menggunakan saluran distribusi sebagai bagian pembentuk merek.
Untuk industri jasa, kekuatan saluran distribusi ini sungguh mudah terlihat. Beberapa bank yang memiliki merek yang kuat, memang awareness dan image-nya sangat didukung oleh ribuan cabangnya yang tersebar. Bukan hanya cabang bank yang membantu membentuk merek yang kuat, tetapi ATM juga mempunyai peran yang penting. Bahkan ada kekuatan merek suatu bank yang bertumpu pada komunikasi ATM-nya, bukan pada iklan-iklan yang biasa tampil di media-media konvensional. Di masa mendatang, channel–channel lain seperti mobile banking dan internet banking akan memainkan peranan yang semakin penting dalam membentuk kekuatan sebuah merek.
Industri Durable dan Consumer Goods
Walau kontribusinya tidak sebesar industri jasa dalam menciptakan Top Brand, peran channel dalam industri durable dan consumer goods sudah mulai terlihat nyata. Kekuatan dari merek-merek otomotif sangat dipengaruhi oleh jaringan dilernya. Yamaha dan Honda misalnya, dengan jumlah diler yang lebih banyak dari merek-merek motor lainnya terlihat sangat perkasa menguasai pasar dan menjadi Top Brand. Demikian pula dengan Toyota dan Honda untuk kategori mobil. Peran diler ini juga semakin penting mengingat mereka mampu menciptakan channel yang lain. Merekalah yang sering kali membuat pameran-pameran di berbagai mal atau tempat-tempat keramaian lainnya.
Industri suku cadang juga semakin menikmati proses pembentukan merek melalui komunikasi di toko-toko yang menjual suku cadang. Dengan jumlah toko suku cadang yang banyak, pembentukan sebuah merek menjadi Top Brand banyak didukung oleh komunikasi di toko-toko ini.
Beberapa merek market leader sudah mulai goyah dengan merek-merek penantangnya yang banyak mengandalkan kekuatan channel mereka. Ini menunjukkan bahwa mempertahankan Top Brand dengan mengandalkan bujet yang besar untuk iklan-iklan di media televisi sudah mulai melemah.
Mengelola Channel
Di masa mendatang, para marketer ditantang untuk semakin efektif mengelola channel untuk membangun Top Brand. Channel di masa datang memiliki peran yang semakin beragam. Dalam konteks pembentukan Top Brand, mereka adalah juga saluran komunikasi yang semakin efektif. Channel akan membantu menciptakan top of mind. Selain sebagai saluran komunikasi, channel juga mampu menyediakan pengalaman pelanggan, terutama bila sudah masuk ke sektor ritel. Dan ini sangat penting dalam menciptakan loyalitas pelanggan.
Channel yang kuat juga akan membantu meningkatkan penjualan. Apalagi, bila kemudian perusahaan mengembangkan e-commerce dimana peran channel dalam mendorong penjualan akan semakin dominan. Pangsa pasar yang tinggi jelas akan membuat merek menjadi kuat dan berada di posisi Top Brand.
Melihat pentingnya channel ini, adalah tugas para pemilik bisnis untuk lebih kreatif menciptakan channel-channel yang baru. Pada saat bersamaan, channel yang sudah ada harus lebih dioptimalkan. Channel yang dahulu hanya sebagai saluran untuk menjual, saat ini harus ikut berperan dalam membangun merek yang kuat. Di sisi lain, kalau saat ini bisnis yang dijalankan adalah bagian dari channel itu sendiri, maka sangatlah penting untuk berperan semakin aktif dengan produsen atau supplier untuk membangun merek yang kuat.
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris

Pentingnya Sebuah Tagline/Slogan

Setiap kali saya sering bertanya kepada klien : “Apakah sudah punya tagline untuk bisnis anda?”
Kebanyakan dari mereka menjawab : “Belum, mungkin bisa dibuatkan sekalian” atau “Ada, We serve the best!”
Hal ini menunjukkan kurangnya pemahaman klien mengenai tagline. Sehingga, mereka tidak begitu menganggap tagline itu sebagai sesuatu hal yang penting atau tagline yang diciptakannya kurang menyentuh. Di sisi lain, sebuah tagline tidak bisa diciptakan secara instan apalagi menyuruh orang lain yang tidak mengetahui seluk beluk,visi dan misi perusahaan.
Eric Swratz, seorang penulis dan ahli brand, mendefinisikan tagline (slogan) sebagai susunan kata yang diringkas (biasanya tidak lebih dari 7 kata dan diletakkan mendampingi logo dan mengandung pesan brand yang kuat ditujukan kepada target audience tertentu.
Oleh karena itu, penciptaan sebuah tagline perlu disesuaikan dengan citra brand yang hendak dibangun. Berikut ini contoh tagline dari beberapa brand terkenal :
Nike : Just Do It (3 kata)
Sony: It’s A Sony (2 kata)
Citibank Visa: Not Just Visa (3 kata)
Nokia : Connecting People
Seperti juga disampaikan oleh ahli branding lainnya, sebuah tagline erat kaitannya dengan positioning sebuah produk atau jasa. Oleh karena itu, untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan, sebuah tagline juga harus diciptakan sesuai dengan tujuan dan sifatnya. Bisa untuk maksud menjelaskan suatu produk tertentu sampai sifatnya mengajak (provocative).
Descriptive
Yaitu tagline yang bertujuan untuk hanya menerangkan produk/servis/janji brand tersebut. Seperti Nokia: Connecting People.
Spesific
Tagline jenis ini mencoba memposisikan dirinya sebagai yang terunggul dibidangnya. Contohnya : Sony : It’s A Sony.
Superlative
Hampir sama dengan sifat sebelumnya, tagline juga bisa digunakan untuk memposisikan suatu produk sebagai yang paling unggul.
Imperative
Imperative berarti menyuruh untuk melakukan suatu aksi, biasanya diawali dengan kata kerja. Contohnya : Nike : Just Do It.
Provocative
Mengajak atau memancing logika atau emosi audiens biasanya tagline berupa kalimat tanya.
Begitu pentingnya peran tagline untuk membangun positioning sebuah brand. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita jangan asal-asalan membuat sebuah taglin untuk bisnis anda!
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris

Pentingnya Kartu Nama Untuk Bisnis Anda

Mungkin ada 1.001 cara agar bisnis kita bisa dikenal, tapi satu diantaranya yang paling penting dan palin mendasar adalah dengan menyebar kartu nama sebanyak-banyaknya. Kenapa? Karena kartu nama itu sendiri adalah identitas bisnis kita dimana dalam selembar kartu yang kecil itu terdapat berbagai informasi penting tentang bisnis Anda.
Sekarang, sebelum menyimak tulisan lebih lanjut, sudahkah Anda punya kartu nama bisnis Anda sendiri ?
Dalam sekenario pemasaran dapat dikatakan kartu nama itu berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam menjual atau memasarkan sesuatu, baik itu berupa produk, jasa, merek, organisasi bahkan individu sekalipun. Coba tempatkan diri Anda sebagai produk atau merek yang hendak dipasarkan, maka kartu nama itu ibarat brosur yang akan menceritakan siapa Anda, apa bisnis Anda dan apa yang bisa Anda jual untuk mereka.
Seorang pengusaha pernah mengatakan, andaikan Anda adalah buku, maka kartu nama itu adalah kata pengantarnya. Untuk menelusuri intisari buku itu, kita dapat menjajakinya melalui kata pengantar, meskipun hanya sekilas. Oleh karena itu, sempatkanlah untuk mempunyai kartu nama bisnis Anda sendiri dengan sungguh-sungguh karena selain menilai dari penampilan, gaya bicara, dan apapun yang Anda kenakan, calon klien dan konsumen juga cendrung akan memperhatikan kartu nama Anda sebagai pelengkap citra dan identitas Anda.
Kartu nama adalah elemen identitas yang saat orang lain bertanya : “Apa bisnis Anda?” Anda tidak perlu lagi menjawab dengan setengah ragu-ragu tetapi cukup dengan memberikannya kartu nama Anda dan kemudian menjelaskan dengan percaya diri siapa Anda.
Tentu saja kartu nama menjadi semakin penting perannya dalam bisnis seperti yang dikatakan oleh Tom Peters, seorang pembicara kelas dunia, bahwa kartu nama itu tidak ubahnya seperti kemasan, yang sedikit banyak menentukan apakah produk itu layak dipercaya atau tidak. Oleh karena itu, sangat penting dalam mendesain kartu nama yang menarik dan informatif agar dapat membangkitkan kesan pertama yang positif. Dan hal lain yang perlu juga diingat bahwa desain yang unik dan menarik itu tidak harus selalu rumit, namun tetap harus berkesan simpel.
Dalam karyanya “Make Millions Marketing”, Roger Konopasek berpesan, pesona kartu nama terletak pada sifatnya yang murah, mudah (maksudnya mudah dibawa) dan meriah (meriah dalam arti kaya akan informasi). Segala data mencakup nama, jabatan, pendidikan, bidang usaha, contact number, alamat atau apa saja yang relevan terekspos di kartu nama. Bayangkan semua data yang sangat penting itu dapat disampaikan dengan berharga murah. Tetapi, ada juga perusahaan tertentu yang mencetak kartu nama dalam bentuk CD. Nah, ini relatif agak mahal. Namun, percayalah dampaknya juga akan sepadan dengan biayanya, karena CD itu akan meninggalkan impression yang luar biasa!
Satu hal yang membuat sebagian dari kita sungkan untuk memberikan kartu nama adalah tidak lain karena budaya timur yang melarang orang untuk membanggakan diri atau mengagungkan keunggulan produk secara terbuka di hadapan kenalan kita. Padahal, seharusnya kita bisa bersikap lebih bijak bahwa saat menerima atau memberi selembar katu nama haruslah dengan sikap antusias dan ucapan terima kasih. Dengan demikian, Anda akan menerima respek yang baik dari orang lain.
Sekali lagi, sudahkah punya kartu nama?
Saya bertanya kedua kalinya, karena tidak jarang saya berjumpa dengan kaum profesional yang masih juga tidak/belum memiliki kartu nama. Menurut mereka, “Kami orang back office. Hanya orang front office yang dibekali kartu nama.” Atau ada juga yang mengatakan, “Bisnis saya masih kecil, jadi belum perlu kartu nama.”
Memang, terkadang ada beberapa orang pada level tertentu yang sudah tidak perlu lagi kartu nama untuk menjelaskan siapa mereka. Katakanlah, Bill Gates atau mendiang Steve Jobs. Tanpa mengantongi kartu nama pun orang-orang akan tahu siapa mereka. Tetapi, saya juga yakin, sebelum mereka sukses mereka juga pasti memasarkan produk dan diri mereka melalui kartu nama.
Jadi, kembali saya ingatkan bahwa salah satu resep sukses untuk bisnis cepat dikenal orang adalah dengan mencetak kartu nama sebanyak-banyaknya dan bagikanlah kepada orang yang tepat juga sebanyak-banyaknya! Bahkan kalau perlu berikan kartu nama dua-tiga kali kepada orang yang sama pada kesempatan yang berbeda. Jangan heran, karena setiap pelaku bisnis yang berpengalaman umumnya menyimpan lebih dari 300 kartu nama yang dikumpulkan dari relasi-relasinya. Semakin banyak kartu nama Anda ada dalam list kumpulan kartu nama orang lain, akan memudahkan nama Anda akan ditemukan (setidaknya jika yang satu hilang, masih ada kartu nama Anda yang lain).
Maka perkenalkanlah diri anda dan bisnis anda melalui kartu nama!
Klik disini untuk versi Bahasa Inggris.

Yamaha V-ixion : The Giant Killer

Sejak awal diluncurkan pada tanggal 12 Mei 2007, animo masyarakat terhadap Yamaha V-ixion sudah sangat antusias. Ini terbukti dari ribuan konsumen yang mengantri untuk mendapatkan produk ini sejak bulan Februari. Kenapa Yamaha vixion begitu sukses meraih pasar hingga mengalahkan pesaingnya Honda Tiger ? Ini dia jawabannya

Sebelum mulai diproduksi,Yamaha V-ixion memposisikan diri sebagai motor sport untuk orang-orang yang berjiwa muda. Sebelum Yamaha V-ixion ikut berkompetisi meraih market ini, sudah ada lebih dulu Honda Tiger yang menyasar target pasar ini. Saat itu Honda Tiger merajai pasar motor sport kawula muda,dan relatif tidak ada pesaing. Ini yang membuat Yamaha merasa memiliki peluang untuk meraih pasar tersebut, karena sesuai aturan, sedikit kompetitor maka kesempatan sukses menjadi semakin besar.
Akan tetapi positioning bukan salah satu hal yang menjadikan produk ini sukses. Advertising juga berperan penting. Iklan Yamaha V-ixion diluncurkan jauh-jauh hari sebelum produk ini release, baik melalui word of mouth, ataupun below the line. Kenapa iklan diluncurkan sebelum produk release ? Karena ini penting untuk sosialisasi dan mengetahui animo masyarakat,sehingga target produksi untuk melayani para pelanngannya dapat terpenuhi.
Memang tidak mudah memasarkan suatu produk baru yang telah dimonopoli oleh produk lain, akan tetapi dengan strategi marketing yang tepat, maka monopoli dapat dikalahkan. Berkaca dari kasus Yamaha V-ixion, maka sebetulnya bagi kita yang sedang dan akan melakukan suatu bisnis, tidak perlu takut akan kompetitor. Dengan mengetahui kekuatan akan produk kita, kelemahan produk pesaing, akan selalu ada peluang untuk produk kita dalam rangka meraih pasar. Yang penting harus dipikirkan strategi marketing yang tepat dari awal. Di segmen mana anda memposisikan produk anda, lalu bagaimana cara menyampaikan dan memperkenalkan produk anda, dan tak lupa juga harus dipikirkan pelayanan apa yang dapat anda berikan untuk konsumen, dan berbeda dengan kompetitor kita. Yang terakhir adalah proses. Proses disini adalah bahwa langkah-langkah dalam penyampaian produk hingga ke tangan konsumen telah melalui suatu alur yang sistematis sehingga tidak ada kesalahan komunikasi di setiap departemen perusahaan. Produk yang akan sampai konsumen harus diyakini telah mengalami sentuhan setiap departemen di perusahaan, bagian produksi, marketing, sales, dsb.
Jangan merasa inferior terhadap produk yang anda miliki dibandingkan dengan produk milik kompetitor, justru sebaliknya adalah meramu produk yang anda miliki tersebut sehingga siap dalam pertarungan meraih pasar. Siapa tahu produk anda adalah “Pembunuh Sang Raksasa”. (Klik disini untuk artikel versi Bahasa Inggris).