Category Archives: ekonomi

Peranan Pelabuhan Dalam Pertumbuhan Ekonomi

Pelabuhan, yang dalam hal ini adalah pelabuhan umum yang dikomersilkan, memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ada beberapa alasan mengapa pelabuhan berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara, yaitu:

  1. Pelabuhan sebagai mesin ekonomi menciptakan multiplier effect yang sangat besar bagi ekonomi di daerah dimana pelabuhan tersebut berada. Multiplier effect berarti bahwa kegiatan di pelabuhan akan menciptakan kegiatan-kegiatan ekonomi baru yang berkaitan (linkage) dengannya, baik backward linkage maupun forward linkage. Semakin besar pelabuhan, maka multiplier effect (efek pengganda) yang diciptakanakan semakin besar.
  1. Pelabuhan sebagai pintu gerbang negara (nation gate) dapat dikatakan sebagai tempat dimana kegiatan ekonomi global dimulai. Kegiatan ekonomi global berarti ada transaksi yang terjadi di pelabuhan, dan transaksi tersebut tidak lagi bersifat lokal namun sudah antar negara. Semakin besar suatu pelabuhan, maka jumlah transaksi yang tercipta akan semakin besar.
  1. Pelabuhan sebagai suatu perusahaan/industri tersendiri (port as a corporation) merupakan sumber devisa negara bernilai tambah sangat tinggi. Pelabuhan memiliki nilai tambah yang tinggi karena ia merupakan suatu industri sektor tersier dimana ia memberikan pelayanan jasa kepada para penggunanya baik lokal maupun internasional. Pelayanan jasa yang diberikan akan memberikan income kepada negara. Semakin besar suatu pelabuhan maka income yang diperoleh akan semakin besar.

Oleh karena ketiga alasan tersebut, maka suatu negara akan berusaha untuk mengembangkan pelabuhan yang dimilikinya menjadi semakin besar. Besar pelabuhan yang dimaksud tidaklah hanya mengartikan tentang luas pelabuhan secara geografis saja, melainkan juga mengenai volume aktifitas pelabuhan tersebut. Volume aktifitas pelabuhan dapat dilihat dari jumlah kapal yang singgah, ukuran kapal, jumlah muatan, serta nilai muatan. Dan untuk memperbesar volume aktifitas pelabuhan, maka pelabuhan harus dapat bersaing dengan pelabuhan-pelabuhan lain sehingga kapal-kapal berminat untuk singgah dan melakukan kegiatan bongkar muat di pelabuhan tersebut.

Dari sisi suatu industri, dimana pelabuhan dikatakan sebagai suatu industri tersendiri (port as a corporation), maka seperti layaknya perusahaan lain, agar dapat bersaing dengan kompetitornya ia harus mempertahankan dan meningkatkan performance yang dimilikinya. Performance suatu pelabuhan dapat dianalogikan sebagai keunggulan suatu produk jika dalam suatu perusahaan. Sama halnya seperti perusahaan yang menawarkan keunggulan suatu produk, maka pelabuhan pun menawarkan performance yang dimilikinya kepada calon konsumen. Harapannya adalah bahwa performance atau keunggulan yang dimilikinya dapat membuat konsumen setia untuk menggunakan jasanya.

Menurut Rasha Fouad (2016), performance suatu pelabuhan adalah menyangkut efektifitas, efisiensi, dan kepuasan partisipan/penggunanya. Efektifitas berarti ketepatan dalam pencapaian tujuan, sedangkan efisiensi menyangkut hubungan antara manfaat yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Jika suatu pelabuhan tidak efisien maka biaya bongkar muat akan tinggi, dan hal ini akan berdampak kepada harga barang-barang baik impor maupun ekspor menjadi tinggi. Inefisiensi pada pelabuhan disebabkan oleh pemanfaatan sumberdaya yang tidak maksimal, penurunan produktifitas, dan waktu tunggu kapal yang lama. Kepuasan partisipan/kepuasan pelanggan merupakan ukuran yang  mungkin dapat dilihat dari jumlah keluhan yang disampaikan oleh pengguna terkait dengan pemanfaatan berbagai fasilitas yang ada di pelabuhan. Dalam istilah bisnis, kepuasan pelanggan yang menunjukkan performa terbaik adalah dengan tidak adanya keluhan sama sekali atau “zero complaint”.

Pengelolaan SDA Maritim Renewable dan Non-Renewable Agar Tidak Terjadi Tragedy of Commons

Tragedy of Commons atau “tragedi atas kepemilikan bersama” merupakan suatu kondisi ketidakbahagiaan kelompok manusia karena lahan yang biasanya mereka manfaatkan untuk hidup, dalam hal ini sumber daya alam, sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya. Dikatakan tragedy karena kesedihan atau ketidakbahagiaan kelompok manusia tersebut terjadi karena ulahnya sendiri dalam memanfaatkan SDA. Tragedy of commons berkaitan erat dengan carrying capacity sumberdaya alam, jumlah populasi, modal kapital, teknologi, serta pasar yang tidak lain merupakan faktor-faktor produksi.

 Carrying capacity berarti kemampuan sumberdaya alam dalam memenuhi kebutuhan manusia. Tragedy terjadi ketika carrying capacity SDA sudah mencapai titik maksimum dalam melayani kebutuhan manusia sehigga terjadi deminishing return. Jumlah populasi berarti jumlah manusia atau kelompok manusia yang ikut bersama-sama memanfaatkan SDA tersebut. Tragedy terjadi misalnya ketika jumlah populasi yang memanfaatkan SDA yang terbatas tersebut terlalu banyak sehingga hasil yang diperoleh tidak memenuhi kebutuhannya atau yang diharapkannya. Modal kapital adalah jumlah uang yang dikeluarkan sebagai biaya memanfaatkan SDA tersebut. Contoh tragedy akibat kapital terjadi ketika kapital yang dikeluarkan sangat besar namun hasil yang diperoleh jauh lebih kecil, atau dapat pula terjadi ketika kelompok yang memiliki kapital besar mengancam kelangsungan hidup kelompok bermodal kecil Teknologi merupakan cara/alat yang digunakan untuk memanfaatkan SDA tersebut. Contoh tragedy akibat teknologi terjadi ketika teknologi yang digunakan justru merusak atu menghancurkan lahan SDA tersebut sehingga biasanya menimbulkan dampak kerusakan lingkungan. Pasar merupakan tempat terjadinya transaksi. Tragedy terjadi ketika misalnya jumlah SDA yang ada di pasar sangat besar sehingga tidak memiliki nilai atau nilainya sangat kecil. Kecilnya harga ini membuat SDA yang dieksploitasi menjadi sia-sia.

 Oleh karena itu, pengelolaan SDA maritim berarti adalah pengelolaan dan pengendalian atas seluruh faktor-faktor produksi yang berpotensi menimbulkan tragedi.

Faktor Produksi

Bentuk Pengelolaan dan Pengendalian

Sumberdaya Alam Membuat aturan yang membatasi jumlah SDA yang diekstraksi
Populasi/perusahaan Menentukan jumlah peserta yang mengeksploitasi SDA
Kapital Menyediakan bantuan/subsidi kepada peserta yang memiliki modal sedikit untuk melakukan eksploitasi. Atau dapat juga dengan cara ekslusifitas, yaitu mengkhususkan lahan tersebut dekstraksi oleh kelompok-kelompok bermodal kecil
Teknologi Membuat aturan yang mengharuskan teknologi yang digunakan tidak merusak lingkungan. Atau menciptakan sumber-sumber alternatif sebagai pengganti SDA
Pasar Membuat kebijakan atas kestabilan harga

 Contoh eksplorasi SDA Maritim dengan pendekatan teori ekonomi mikro

Dari sisi demand atau permintaan, minyak bumi tidak hanya dibutuhkan oleh tumah tangga saja, namun juga oleh transportsai, industri, dan kegiatan komersial yang lain. Begitu pentingnya sumber energi minyk ini, membuat pelaku-pelaku ekonomi sangat bergantung terhadap keberadaan minyak bumi tersebut.  Ketergantungan dan kebutuhan minyak bumi ditangkap oleh negara-negara yang kaya akan sumber daya minyak bumi sebagai peluang untuk menciptakan supply dengan cara melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya minyak di wilayah terirorialnya. Persediaan serta permintaan SDA yang ada akan menciptakan pasar dimana harga jual beli minyak ditentukan. Berhubung minyak merupakan SDA yang non-renewable, maka pada suatu saat akan ada keadaan dimana terjadi kelangkaan energi yang menyebabkan harga minyak tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme supply and demand, namun ditentukan oleh persediaan stok yang ada (monopoli) yang menyebabkan harga minyak menjadi sangat tinggi. Berikut adalah diagram mekanisme supply and demand pada pasar sumber daya energi tak terbarukan.

 Peran pemerintah dalam mengendalikan pasar SDA maritim

 Pemerintah ikut serta dalam kegiatan perekonomian dalam rangka untuk menanggulangi kegagalan pasar. Kegagalan pasar terjadi ketika mekanisme harga yang terbentuk di pasar gagal dalam memperhitungkan biaya maupun manfaat dari SDA, baik untuk yang menyediakan maupun yang mengkonsumsinya. Bentuk-bentuk kegagalan pasar adalah seperti monopoli dan eksternalitas yang merugikan.

 Agar tidak terjadi kegagalan pasar, maka pemerintah melakukan intervensi terhadap mekanisme pasar SDA. Bentuk intervensi pemerintah bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Intervensi langsung adalah dengan menentukan harga minimum atau maksimum untuk harga SDA. Contohnya adalah penentuan harga jual Bahan Bakar Minyak. Intervensi tidak langsung adalah dengan cara memberikan subsidi atau menetapkan tarif pajak impor maupun ekspor SDA. Subsidi diberikan kepada pelaku-pelaku ekonomi yang baru berkembang untuk menekan biaya produksi agar mampu bersaing. Contohnya adalah pemberian subsidi harga bahan bakar minyak untuk para nelayan, sehingga para nelayan mampu melaut dengan biaya operasional yang tidak terlalu besar. Sementara itu, tarif pajak diberlakukan dengan tujuan untuk melindungi            produsen dalam negeri. Contohnya adalah penetapan tarif pajak impor produk-produk perikanan dengan tujuan agara konsumen dalam negeri membeli produk perikanan dalam negeri dengan harga yang lebih murah.

 Intervensi pemerintah selain tersebut diatas, dapat juga dilakukan intervensi pemerintah dalam rangka menciptakan iklim pasar domestik yang baik, yaitu dengan cara membuat peraturan-peraturan dan menciptakan hak ekslusifitas. Contoh intervensi pemerintah dalam kebijakan peraturan adalah menetapkan peraturan mengenai jumlah tangkapan maksimum yang diperbolehkan oleh suatu perusahaan penangkapan ikan. Tujuannya adalah untuk melindungi dan mengatur ketersediaan stok agar tidak terjadi kelangkaan ikan yang menyebabkan kegagalan pasar. Sedangkan contoh hak ekslusifitas adalah dengan cara menetapkan Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia (WPPI) dan Jalur Penangkapan Ikan (JPI). WPPI dan JPI pada prinsipnya menetapkan daerah-daerah penangkapan ikan yang diperbolehkan menurut ukuran kapal dan alat tangkap tertentu. Sehingga kapal-kapal berskala industri tidak melakukan penangkapan di jalur penagkapan untuk  nelayan kecil. Tujuannya adalah agar ketersediaan ikan untuk masyarakat kecil selalu tersedia dengan harga yang wajar.

Sektor Maritim Yang Paling Cepat Membentuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Ini adalah rangkuman paper yang berisi 13 halaman. Untuk lebih lengkapnya anda bisa unduh di SEKTOR MARITIM YANG PALING CEPAT MEMBENTUK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

Sektor tertier atau disebut service based sactor merupakan sektor ekonomi dimana output yang dihasilkan merupakan brang yang dibutuhkan oleh masyarakat (end product). Produk pada sektor tertier tiak memerlukan pemrosesan lagi, sehingga ia dapat langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sektor ekonomi maritim yang termasuk dalam sektor tertier adalah pariwisata bahari, jasa angkutan laut, dan jasa perdagangan.

Alasan yang menyatakan bahwa sektor tertier dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, adalah: efek sumberdaya alam, value added, eksternalitas, dan pasar. Pada efek sumberdaya alam, sektor tertier tidak terkendala stock seperti halnya eksploitasi sektor primer (renewable dan non-renewable resources), sehingga sektor ini tidak akan memunculkan “kutukan sumber daya alam”, maupun “tragedi kepemilikan bersama” yang berujung kepada konflik sosial dan politik di dalam negeri. Sektor tertier merupakan sektor yang memiliki value added tertinggi. Value added merupakan parameter pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dari sisi eksternalitas, sektor tertier membentuk eksternalitas positif yaitu penyerapan tenaga kerja yang banyak, iklim ekonomi yang mandiri, dan pembentukan pasar-pasar baru. Dari sisi pasar, sektor tertier dapat membentuk banyak pasar, mempertinggi nilai output tiap unit, dan apabila suatu output memiliki daya saing, maka jumlah transaksional output tersebut akan semakin besar.

Agar ekonomi sektor tertier bidang maritim dapat lebih cepat tumbuh, maka kualitas sumberdaya manusia bidang maritim harus ditingkatkan sehingga mereka mampu menggunakan dan memanfaatkan faktor produksi teknologi utnuk mengolah material atau sumber daya menjadi bernilai tambah baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Meningkatnya kualitas dan kuantitas nilai tambah suatu output akan menciptakan iklim investasi yang lebih baik. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, maka negara harus membangun dan mempersiapkan sekolah-sekolah bidang kemaritiman di berbagai level pendidikan, membuat program beasiswa untuk belajar teknologi maritim di negara yang lebih maju, dan memfasilitasi penelitian-penelitian bidang kemaritiman, dan penyediaan fasilitas kredit untuk usaha bidang maritim. Iklim politik dan sosial dalam negeri yang kondusif dapat membuat kenyamanan para sumberdaya manusia maritim yang unggul untuk menciptakan lapangan-lapangan kerja baru dan membangun negaranya secara mandiri.

Untuk paper versi lengkapnya anda bisa unduh di SEKTOR MARITIM YANG PALING CEPAT MEMBENTUK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

Menghitung Carbon Footprint Usaha Kecil

Apa itu carbon footprint?

Carbon footprint adalah jumlah emisi karbon yang dikeluarkan oleh suatu aktifitas, baik aktifitas bisnis maupun aktifitas individu. Carbon footprint atau jejak karbon merupakan perhitungan yang menentukan jumlah karbon yang dikeluarkan ke atmosfer dalam kaitannya untuk mengetahui kontribusi suatu aktifitas terhadap efek rumah kaca secara global. Lalu bagaimana menghitung carbon footprint?

Berikut adalah contoh menghitung carbon footprint untuk penjualan bakso selama satu hari. Patut diingat, bahwa kasus ini hanyalah contoh saja. Intinya adalah cara untuk menghitungnya saja, bukan hasil akhirnya. Hasil akhir setiap usaha tergantung dari banyaknya proses yang dilakukan.

Carbon Footprint Penjual Bakso Dalam Satu Hari (Sektor Tersier)

Diketahui:

  1. Jumlah daging sapi yang dibutuhkan untuk membuat bakso dalam satu hari adalah 5 kg
  2. 1 kg daging sapi bisa menjadi 90 butir bakso ukuran sedang
  3. Waktu merebus 1 kg daging sapi hingga matang adalah 30 menit
  4. Waktu untuk membuat bakso adalah 3 jam dengan cara direbus
  5. Bahan bakar untuk membuat bakso adalah LPG Propana
  6. Pembuatan bakso dilakukan di malam hari dengan penerangan lampu 40 Watt selama 10 jam
  7. Bakso dijual di siang hari dengan waktu kerja 10 jam, dimana kuah bakso dipanaskan dengan LPG secara terus menerus.
  8. Emisi gas CO2 dari LPG = 12,17 lbs/gallon (Departemen Energi AS Administrasi Informasi Energi)
  9. Emisi listrik = 1,297 CO2 per kWh (0,0005883 metrik ton CO2 per kWh) (Departemen Energi AS Administrasi Informasi Energi)
  10. Debit LPG dalam 8 jam pemakaian adalah 500 gram

Ditanyakan : Total Emisi Karbon dioksida dari usaha dagang bakso selama satu hari

Jawaban :

I.                   Pembuatan Bakso

a. Memasak daging sapi

Waktu rebus daging sapi hingga matang:

5 kg x 30 menit = 150 menit = 2,5 jam

LPG yang terpakai :

(2,5 jam/8 jam ) x 500 gram = 156,25 gram = 0,156 kg

b. Konversi 1 kg LPG ke liter

Jika massa jenis LPG adalah 0,493 gr/cm3 atau 493 gr/liter, maka

V = m/ρ = 1000 gram : 493gr/liter

= 2,028 liter

Maka 1 kg LPG = 2,028 liter

c. LPG yang terpakai dalam satuan liter

0,156 kg x 2,028 liter = 0,31 liter

d. LPG yang terpakai dalam satuan gallon

Jika 1 gallon = 4,55 liter, maka

(0,31 liter/4,55 liter) x 1 gallon = 0,068 gallon

e. Emisi gas CO2 dari LPG pada saat memasak daging sapi:

Diketahui  Emisi gas CO2 dari LPG = 12,17 lbs/gallon

(Departemen Energi AS Administrasi Informasi Energi) maka:

0,068 x 12,17 lbs = 0,0827 lbs = 3,75 x 10-4metric ton

(1 Metric Tonne = 2204.6 Pounds)

 f. Emisi gas CO2 dari listrik pada saat pembuatan bakso

Waktu pemakaian listrik = 10 jam

Daya lampu yang digunakan = 40 Watt

Watt Hour = 40 x 10 = 400 WH = 0,4kWH

Emisi listrik = 1,297 lbs CO2 per kWh (0,0005883 metrik ton CO2 per kWh)

(Departemen Energi AS Administrasi Informasi Energi)

 Maka CO2 yang dikeluarkan : 0,4 kWH x  0,0005883 = 2,35 x 10-4 Metric Ton

 g. Perebusan Bakso

Waktu perebusan = 3 jam

Diketahui Debit LPG selama 8 jam = 500 gram

Debit LPG selama perebusan bakso = (3 jam/8 jam) x 500 gram

= 0,375 x 500

= 187,5 gram

= 0,187 kg

= 0,38 liter

= 0,083 gallon

h. Emisi CO2 Pada saat perebusan

Diketahui  Emisi gas CO2 dari LPG = 12,17 lbs/gallon

(Departemen Energi AS Administrasi Informasi Energi)

Maka

 0,083 gallon x 12,17 lbs = 1,017 lbs = 4,6 x 10-4 Metrik Ton

 

Emisi Pembuatan Bakso = Emisi Memasak daging sapi + Emisi pemakaian listrik +  Emisi perebusan bakso

                                        = 3,75 x 10-4 + 2,35 x 10-4 + 4,6 x 10-4

                                        = 0,00107 metrik ton

 II. Penjualan bakso

a. Jumlah Pemakaian LPG pada saat berjualan

Waktu berjualan = 10 jam

Diketahui Debit LPG selama 8 jam = 500 gram

Debit LPG selama berjualan   =  x 500 gram

= 1,25 x 500

= 625 gram

=0,625 kg

b. LPG yang terpakai dalam satuan liter

0,625 x 2,028 liter = 1,27 liter

 c. LPG yang terpakai dalam satuan gallon

 (1,27/4,55) = 0,28 gallon

 

d. Emisi CO2 pada saat berjualan

Diketahui  Emisi gas CO2 dari LPG = 12,17 lbs/gallon

(Departemen Energi AS Administrasi Informasi Energi)

Maka

 0,28 gallon x 12,17 lbs = 3,41 lbs = 0,00154 Metrik ton

 TOTAL EMISI CO2 PADA USAHA BAKSO SELAMA SATU HARI ADALAH

Emisi Pembuatan Bakso + Emisi CO2 pada saat berjualan

= 0,00107 + 0,00154= 0,00261 metrik ton

 

Kesimpulan:

1.      Semakin berkembang suatu usaha, maka makin besar emisi CO2

2.      Makin panjang proses produksi, maka makin besar emisi CO2

Kutukan Sumber Daya Alam: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Mengantisipasinya

Pengertian “kutukan sumberdaya alam”

Kutukan sumberdaya alam atau “ curse of natural resources” merupakan suatu istilah yang menyatakan bahwa negara yang memiliki ketersediaan alam berlimpah cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dibandingkan dengan negara yang tidak memiliki atau sedikit memiliki sumberdaya alam. Dengan kata lain, ketersediaan sumberdaya alam yang berlimpah di suatu negara tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

Contoh mengenai hal ini dikemukakan oleh Sachs dan Warner merujuk pada hasil penelitiannya bahwa pada rentang tahun 1970 hingga 1989, negara-negara Teluk seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab memperoleh penerimaan terbanyak dari ekspor minyak bumi, bahkan lebih dari 60% dari total GDP negara tersebut berasal dari ekspor minyak. Namun pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita rakyatnya justru sangat kecil. Ini berbanding terbalik dengan negara Singapura, yang pada rentang waktu yang sama tidak memiliki sumber daya alam untuk di ekspor namun memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Selain pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah, negara dengan potensi sumber daya alam yang berlimpah juga biasanya mengalami keterlambatan dalam hal inovasi industri, tingkat aktivitas wirausaha yang sangat kecil, sistem pemerintahan yang buruk dan penuh korupsi, serta rawan konflik.

Penyebab “kutukan sumberdaya alam”

Negara yang memiliki kelimpahan sumberdaya alam menurut Shinji Asanuma akan menerima “kutukan” jika kelimpahan tersebut tidak memberikan kesejahteraan yang nyata dan merata bagi rakyatnya. Shinji mengemukakan bahwa ada tiga faktor yang membuat suatu negara mendapatkan “kutukan” sumberdaya alam, yaitu:

1. Dutch Disease

Dutch disease adalah suatu kondisi dimana sektor industri dan manufaktur tidak berkembang sebagai akibat dari ketergantungan pendapatan dari eksploitasi faktor produksi primer seperti agrikultur, minyak, dan mineral.

2. Voracity Effect

Voracity effect adalah suatu keadaan dimana sumberdaya alam yang ada dimanfaatkan untuk menerapkan praktek sewa pengelolaan sumberdaya alam. Pengaturan sewa ini cenderung dimanfaatkan oleh para politisi atau penentu kebijakan untuk melakukan praktek korupsi, sarana melanggengkan kekuasaan, atau pemanfaatan pendapatan untuk investasi yang tidak ekonomis dan salah dalam penggunaannya. Kesalahan dalam pemanfaatan dana dari hasil kegiatan sewa kelola ini mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan korupsi, dan negara menjadi memiliki utang banyak.

3. Volatility Effect

Volatilitas menyangkut kepada perubahan harga pasar atas komoditas-komoditas primer di tingkat internasional. Harga-harga komoditas sumber daya alam di pasar internasional mempengaruhi perdagangan domestik secara keseluruhan, dan ini dipengaruhi pula oleh pengaruh alam dan kondisi politik di negara pemilik sumberdaya alam tersebut. Ketika harga komoditas melambung tinggi, negara pemilik komoditas primer atau sumberdaya alam akan memperoleh pendapatan yang besar. Namun pendapatan yang besar ini, negara justru mengalami kesulitan dalam memetakan pengeluarannya. Pada saat harga komoditas tinggi ini pun, negara cenderung untuk membuat proyek-proyek raksasa yang berbiaya besar, sehinggga tanpa perhitungan yang cermat negara melakukan pinjaman skala besar ke pihak lain. Ketika harga mulai turun, negara mulai mengalami kesulitan keuangan karena tidak memiliki revenue yang cukup ditambah dengan kewajiban membayar utang atau pinjaman ke negara lain.

 Indonesia pernah mengalami kutukan sumberdaya alam dari sektor minyak pada rentang waktu tahun 1970-1980. Kala itu negara melakukan monopoli atas eksploitasi minyak di Indonesia melalui Pertamina. Pada tahun 1974, pendapatan ekspor sebanyak 70% merupakan kontribusi hasil ekspor minyak. Akibatnya pendapatan pemerintah sangat bergantung pada hasil ekspor minyak ini dan melemahkan industri manufaktur  maupun sektor industri sekunder dan tertier lainnya (Dutch Disease).

Harapan untuk eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi sebanyak-banyaknya tidak dibarengai dengan kemampuan teknologi yang dimiliki, sehingga Indonesia menawarkan kontrak kerjasama eksploitasi dengan negara lain tanpa ada pertimbangan matang dari para pemangku jabatan, bahkan bersifat otoriter. Pada tahun 1974, negara memiliki surplus yang luar biasa dari ekspor minyak, dan pendapatan ini digunakan untuk membiayai proyek-proyek raksasa seperti pembangunan pabrik Krakatau Steel, proyek “Floating Fertilizer”, dan pembangunan armada tanker super besar. Semua proyek ini didanai oleh hasil ekspor minyak ditambah dengan dana pinjaman pihak ketiga (voracity effect).

 Ketika kemampuan eksploitasi dan harga minyak menurun, maka penerimaan negara menjadi berkurang. Negara mengalami kesulitan keuangan karena penerimaan yang diperoleh lebih kecil daripada pengeluaran negara rutin. Ketika Pertamina diaudit, ternyata telah memiliki utang sebanyak 10,5 milyar US$ sementara nilai produksi ekspor Indonesia hanya sebesar 7 Miliar US$ (volatility effect).

 Mengantisipasi “kutukan sumberdaya alam”

Dalam mengantisipasi kutukan sumberdaya alam diperlukan analisi secara mendalam mengenai faktor mana yang lebih dominan sebagai penyebab  kutukan. Secara ringkas antisipasi kutukan sumberdaya alam melalui “Dutch Disease” dan “Volatility Effect” dapat dilakukan dengan cara mendorong peningkatan inovasi di bidang industri-industri lain sehingga tidak bergantung pada hasil ekspor sumberdaya alam.

Selain itu inovasi dan studi teknologi eksploitasisumberdaya dilakukan agar praktek sewa atau kontrak eksploitasi berkurang dan nilai tambah produk sumberdaya alam menjadi menjadi lebih tinggi. Investasi di lura negeri pun bisa dilakukan sebagai langkah mengantisipasi “Dutch Disease”, sedangkan transparansi keuangan yang termasuk didalamnya mengenai perjanjian atas hak-hak eksploitasi, syarat-syarat eksploitasi yang dilakukan pihak ketiga merupakan antisipasi pada “voracity effect”. Transparansi akan mendorong masyarakat, media, maupun stakeholder internasional untuk ikut mengawasi dan memastikan agar keuangan negara dikelola dengan baik dan tidak dikorupsi. Seara kongkrit, pengelolaan pendanaan harus lebih profesional baik dari sisi teknis maupun leadership sehingga terbebas dari pengaruh politik yang dapat mengakibatkan kesalahan penggunaan.

“Volatility Effect” dapat diantisipasi melalui kebijakan fiskal negara tersebut. Kebijakan ini termasuk didalamnya mengenai program subsidi pemerintah, restrukturisasi anggaran, skema penerimaan ekspor, maupun pengaturan pajak. Antisipasi “volatility effect” cenderung kepada cara untuk melakukan penyeimbangan antara anggaran pendapatan dengan anggaran pengeluaran.