Category Archives: Kepemimpinan

Pemimpin Yang Gagal

“Jika Anda mengatakan Anda netral dalam suatu situasi ketidakadilan, Anda telah memilih sisi penindas. Jika gajah menginjakkan kakinya pada ekor tikus, dan Anda mengatakan Anda netral, maka tikus tidak akan pernah menghargai netralitas Anda” ~ Desmond Tutu.

Sikap seorang pemimpin ada kalanya memutuskan berada di posisi yang netral, namun di suatu saat ia harus memiliki keberanian untuk memutuskan berada di pihak mana. Penghargaan seorang bawahan kepada pimpinan akan muncul dengan sendirinya ketika pemimpin tersebut dapat dengan sigap menentukan dimana ia berperan. Jika suatu keputusan yang seharusnya adalah hak dan kewajiban pimpinan tertinggi, namun ternyata itu diambil alih oleh seorang bawahan, maka sudah dapat dipastikan bahaw pemimpin tersebut akan mengalami kegagalan. Kenapa bisa demikian? Karena sudah jelas ia tidak dapat menempatkan dirinya. Ia tidak peka. Dan lebih jauh lagi mungkin bisa dibilang bahwa ia tidak memiliki kemampuan leadership yang cukup.

Orang mengatakan bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik adalah ketika ia bersedia untuk mendengarkan keluhan dan pendapat dari berbagai pihak. Sebelum memutuskan suatu kebijakan, ia mendengarkan dahulu respon dan kebenaran suatu informasi. Ia tidak menerima informasi sepenggal-sepenggal, atau bahkan informasi yang belum teruji valid tidak akan ia gunakan. Pemimpin yang baik dan akan membuat keputusan berada di posisi yang benar akan berbekal informasi menyeluruh, insting yang tajam, dan kepercayaan diri yang kuat.

Tidak ada orang yang bersedia untuk diklaim sebagai pemimpin yang gagal, bahkan diri sendiri pun mungkin akan merasa berat untuk menyatakan dirinya gagal dalam memimpin. Akan tetapi proses dan hasil adalah bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa seorang pemimpin tersebut gagal atau tidak. Dan yang menyatakan bahwa pemimpin tersebut gagal atau tidak adalah bawahan (terutama bawahan yang teraniaya) seperti contoh tikus diatas, orang luar yang ada hubungan dengan organisasi, serta atasannya.

Lalu bagaimana agar seorang pemimpin tidak mengalami kegagalan dalam memimpin? Yang jelas ini semua dilandasi oleh:

  1. Jam terbang yang cukup di bidang managerial
  2. Kemampuan untuk membaca hati dan menggunakan hati dalam bekerja
  3. Kemampuan komunikasi
  4. Integritas

Paradigma Baru Kepemimpinan Abad 21

Paradigma baru dalam model pembelajaran kepemimpinan telah ditemukan melalui sistem nilai generatif, dan dirilis oleh Integral Cultural Creatives, Dr. Paul Ray, 2002. Dan penyebaran benih untuk warisan kepemimpinan baru telah ditaburkan di atas lanskap yang telah berubah. Revolusi leadership telah merubah segala hal tentang leadership meliputi pengertian, tujuan, target, dan pengelolaan.

Berikut adalah transformasi kepemimpinan dalam abad ke-21 yang membentuk paradigma baru dalam suatu kepemimpinan:

1. Pemimpin ingin kemajuan dan prestasi dengan membuka pintu peluang dengan benar.

Ini adalah otoritas intuitif, pewahyuan, dan transformatif otentik dalam tindakan. Mereka ingin dipersiapkan dengan baik dan dilengkapi untuk aplikasi kecerdasan spiritual dalam tujuan pemenuhan kepemimpinan dan dalam kehidupan organisasi.

2. Pemimpin ingin melakukan perubahan dan melakukan rekonsilisasi atas apa yang kurang dimanfaatkan atau hilang dari periode kepemimpinan sebelumnya.

Mereka ingin mengoptimalkan (dalam lingkungan tertentu dan dalam hati orang lain) semua kecerdasan spiritual yang dimiliki dirinya dan bawahannya untuk bisa digunakan dalam melayani masyarakat.

3. Pemimpin ingin membentuk pasar dengan menyamaratakan lapangan bermain untuk semua orang.

Hal ini dilakukan dengan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memperoleh pengalaman nilai, keterampilan, dan kebijakan melalui demonstrasi solusi untuk setiap kali permasalahan.

4. Pemimpin ingin memobilisasi kaum muda.

Secara spiritual, pemimpin abad ke-21 yang cerdas memfokuskan organisasi dalam mempersiapkan dan memperlengkapi kaum muda sebagai garis depan dengan berbagai pengalaman dan latihan keterampilan, sehingga mereka menjadi sumber daya yang handal dan semangat mereka dalam mewujudkan misi organisasi semakin tereksploitasi.

5. Pemimpin ingin secara etis untuk berpartisipasi dan mengontrol distribusi sumber daya dengan tepat melalui analisa kekayaan transferensi.

Mereka ingin mengambil bagian dalam pembentukan suatu warisan sistem yang dijadikan dasar untuk pencapaian tujuan inti di masa depan. Mereka berupaya untuk membantu menciptakan dan melestarikan suatu tradisi baru (baik itu tujuan maupun sistem manajemen).

Pemimpin abad ke-21 berusaha untuk hidup dari atribusi syukur, sehingga memperluas dan memperkaya kesadaran beroperasi dari tindakan yang benar-benar  terinspirasi. Mereka ingin mendeklarasikan diri sebagai kekuatan yang tangguh, siap untuk “all out” dalam berbagai pekerjaan untuk tujuan organisasi yang baik.

Terlepas dari perusahaan, militer, akar rumput, pemuda, menteri, atau peran kepemimpinan global, subjek tujuan kepemimpinan adalah penting. Apapun bentuk organisasinya, apakah itu industri bisnis atau organisasi non bisnis, kepemimpinan otentik di abad 21 merespon dorongan perasaan untuk membangun secara bersama-sama dan memberikan kesempatan dan memfasilitasi pada kaum muda untuk berkarya dan mengeksploitasi dirinya.

Kunci Menjadi Anak Buah Yang Baik

Tidak ada pemimpin yang tidak memiliki anak buah,dan tidak ada anak buah yang tidak memiliki pemimpin. Ada pemimpin maka sudah pasti ada anak buah. Anak buah merupakan ujung tombak keberhasilan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas. Dalam kemiliteran, anak buah adalah prajurit dan pemimpinnya mungkin seorang jendral. Dalam Bisnis, anak buah disebut karyawan, sedangkan pemimpinnya adalah direktur. Dalam suatu institusi, anak buah mungkin disebut pegawai, sedangkan pemimpinnya bisa disebut ketua atau kepala.  Dimanapun tempatny, yang pasti anak buah itu harus selalu loyal kepada pemimpin dalam organisasinya bukan kepada yang lain.

Bagaimana agar menjadi seorang anak buah yang baik? Gampang saja! Ikuti saja setiap perintah yang diberikan, tentu saja menyangkut pekerjaan, bukan yang lain. Jangan pernah membuat sesuatu alasan untuk tidak mengerjakan tugas, dan jangan pernah mengeluh akan tugas yang diberikan.

Bagaimana jika anda dimutasi atau dipindahtugaskan? Jangan mengeluh apalagi protes: “Kenapa gak ada konfirmasi dulu saya dipindahkan?” Perlu diketahui, ini adalah kunci utama suatu organisasi, bahwa seorang atasan memiliki hak untuk memindahtugaskan seseorang dengan atau tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Kenapa demikian? Karena hal ini sangat komplek alasannya. Bisa jadi ini menyangkut masalah keamanan, keberlangsungan bisnis, atau ini adalah suatu promosi. Karena itu, jika anda dimutasi, maka anda jangan protes. Laksanakanlah dengan baik.

Itu saja kunci menjadi seorang anak buah yang baik.

Menyusun Kekuatan Sang Pemimpin

Ketika seorang pemimpin pertama kali memegang jabatan di suatu organisasi, hal yang pertama ia lakukan biasanya adalah menyusun kekuatan. Penyusunan kekuatan ini adalah sangat penting untuk keberhasilan misi dan visi yang ia bawakan. Selain itu menyusun kekuatan berarti ia melakukan konsolidasi untuk mengetahui siapa saja yang bisa ia andalkan untuk menjadi tim suksesnya, serta untuk mengetahui siapa saja yang bisa menjadi hambatan baginya.

Penyusunan kekuatan oleh seorang pemimpin baru ada dua, yaitu secara internal dan eksternal. penyusunan kekuatan secara internal berarti penyusunan kekuatan dengan cara memperhatikan dan merangkul apra pegawai yang berada di bawah kepemimpinannya. Sedangkan penyusunan kekuatan secara eksternal adalah bahwa pemimpin tersebut melaukan konsolidasi dengan organisasi-organisasi luar yang dianggap berhunungan dengan organisasinya.

Prinsip dari penyusunan kekuatan ini adalah bahwa semakin banyak kawan-kawan yang mendukung, maka ia akan semakin mudah dalam bekerja, hingga pada akhirnya misi dan visi akan semakin cepat selesai. Seorang peimpin yang baik sudah tentu akan memiliki kemampuan seperti ini. Dan ia akan berusaha untuk terus meningkatkan kemampuannya akan hal ini.