Category Archives: Pendidikan

Analisis Sederhana Agar Toko Anda Tetap Bertahan

Hidup dan mati suatu perusahaan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan itu dalam berkompetisi dengan pesaing-pesaingnya untuk memperebutkan pasar yang ada. Untuk memenangkan suatu kompetisi bisnis, suatu perusahaan dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menganalisa diri dan lingkungannya secara tepat dan cermat. Kemampuan dalam menganalisa tersebut sebetulnya merupakan suatu seni dalam berbisnis yang dimiliki oleh orang-orang yang berada di dalam perusahaan tersebut. Kemampuan untuk menganalisa ini tidak hanya harus dimiliki oleh pemilik usaha, direksi, atau para manager saja, tetapi kemampuan ini pun harus dimiliki oleh orang-orang yang ada di barisan terdepan dalam suatu perusahaan. Dalam hal ini, jika anda memiliki suatu toko, maka para pramuniaga toko anda harus memiliki kemampuan analisis sederhana agar toko anda tetap bertahan.

Kemampuan dalam menjaring konsumen langsung  adalah suatu tugas yang wajib diemban oleh toko, dan Store Supervisor merupakan pemimpin terdepan di dalam sistem ini. Karena itu maka pemimpin-pemimpin di barisan ini tentu harus memiliki kemampuan dalam menganalisa diri dan lingkungannya agar mampu mendukung kelangsungan hidup toko tersebut.

Secara mendasar,kemampuan untuk menganalisa tersebut terdiri dari empat bagian, yaitu kekuatan diri (strength), Kelemahan diri (Weakness), Peluang (Opportunity), dan ancaman (Threat). Karena itu kemampuan dalam menganalisa diri dan lingkungannya tersebut dinamakan SWOT Analysis. Setiap toko harus meng-update secara berkala analisis SWOT ini, karena analisis ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang ada di suatu toko, sehingga akan dibuat suatu strategi dalam menghadapi segala kendala yang dihadapi toko.

Tentunya diperlukan data-data untuk mendukung analisis SWOT ini. Data yang diperlukan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan dalam hal ini di dalam toko. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari beberapa sumber, diantaranya adalah :

  1. Data-data tentang lokasi toko, struktur organisasi, dan inventaris barang.
  2. Wawancara dengan pihak yang berkompeten, dalam hal ini adalah store manager, store supervisor, kasir, dan crew toko.
  3. Wawancara dengan pihak luar yang dalam hal ini adalah konsumen toko, tenant, dan security gedung.

Data-data yang diperoleh harus mewakili masing-masing segi pengamatan analisa SWOT yang meliputi man, machine, method, material, dan environment (4M+1E). Itulah hal-hal yang harus diperhatikan dalam analisis sederhana agar toko anda tetap bertahan.

5 Hal yang harus diamati dalam menentukan SWOT Analysis di toko anda

SWOT ANALYSIS adalah analisa yang sering digunakan di berbagai persoalan, baik bisnis maupun hal lainnya. Anda tentunya sudah sering mendengar tentang istilah analisa SWOT, dan setiap bisnis harus melakukan hal itu secara berkesinambungan. Pun demikian halnya jika anda terjun di bisnis retail, dimana anda memiliki toko jualan eceran yang menjadi harapan kesuksesan bisnis anda. Lalu dalam melakukan analisa SWOT ini, apa saja yang harus diamati agar analisa toko anda menjadi efektif den efisien ? Berikut adalah 5 hal yang harus diamati dalam menentukan SWOT analysis di toko anda.

Inilah 5 hal yang harus diamati untuk mendukung SWOT analysis.

  1. Sumberdaya manusia (MAN).

Sumber daya manusia merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh setiap toko. Semakin baik sumber daya manusia yang dimiliki oleh toko tersebut maka semakin efektif pula kinerja toko tersebut. Karena itu suatu toko harus memiliki sumber daya manusia atau karyawan toko yang berketerampilan, bersikap, dan berpengetahuan baik, selain itu sumber daya manusia tersebut harus dapat mengembangkan dirinya mengikuti lingkungan dan perkembangan teknologi yang ada.

2. Metode

Metode merupakan suatu cara yang dibuat oleh suatu toko agar tujuannya dapat terwujud. Metode yang dimaksud disini adalah berupa hal-hal yang menyangkut konsep pemasaran dan penjualan, promosi produk, keselamatan kerja,dan jaringan informasi.

3. Material

Kualitas,kuantitas,dan harga suatu produk yang dijual merupakan hal yang termasuk dalam segi pengamatan material. Selain hal tersebut, keragaman dan kenyamanan produk juga termasuk dalam segi pengamatan ini. Setiap toko memiliki memiliki produk-produk unggulan yang berbeda dengan yang dimiliki oleh toko lain. Material ini nantinya akan mengarah kepada suatu peluang yang ada di pasar. Berdayakan Point Of Purchase (POP) dengan tepat dan ditempatkan di tempat yang tepat.

4. Lingkungan

Segi pengamatan yang terakhir adalah lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah lokasi, kenyamanan, persaingan dagang, dan juga termasuk kebijakan pemerintah. Suatu usaha tidak akan maju jika kondisi lingkungan tidak mendukungnya. Oleh sebab itu maka suatu usaha dalam hal ini toko, tentu akan melihat sisi lingkungan sebagai faktor penting dalam penentuan strategi untuk meraih keberhasilan.

5. Money

Perhatikan data transaksi yang diperoleh dari Point Of Sales atau POS anda setiap harinya. Perhatikan kapan saja transaksi-transaksi yang dalam kondisi ramai dan kapan transaksi dalam kondisi tidak ramai. Jika transaksi ramai, anggaplah misalnya hingga mencapai 30 transaksi dalam satu jam, maka ini disebut dengan peak time. Pada kondisi ini, ini adalah saatnya bagi anda untuk melakukan maksimasi kecepatan dalam pelayanan. Jangan biarkan customer anda menunggu terlalu lama di antrian POS. Jika transaksi sedang sepi, misal 5 transaksi dalam satu jam, maka ini disebut dengan weak time. Pada kondisi ini, maka anda dapat melaksanakan strategi Impulse Buying Customer. Impulse Buying Customer dapat mendorong memperbesar nilai penjualan tiap transaksinya.

Inilah 5 hal SWOT analysis yang harus diamati kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancamannya, sehingga akan disusun suatu strategi SWOT yang mampu membuat toko anda atau bisnis retail anda memenangkan kompetisi bisnis yang ada geluti.

Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia terbaru berubah jabatannya menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau disingkat Mendikbud Ristek. Walaupun berubah nama jabatannya, akan tetapi jargon pendidikan yang diusungnya tidak berubah semenjak beliau diangkat menjadi menteri di kabinet Presiden Joko Widodo. jargon itu adalah Merdeka Belajar. Sekarang saya plesetkan jargon tersebut menjadi Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar-Bagaimana menjadi guru yang baik.

Sudah sekian lama saya mengajar (tapi gak begitu lama sih), tapi saya merasa belum bisa menemukan cara mengajar yang pas, dan saya belum juga menemukan prinsip dari guru yang baik. Saya mengajar berdasarkan feeling saya. Yang saya lakukan adalah bagaimana jika saya diajari oleh seorang guru. Bagaimana caranya agar saya dapat mengerti apa yang diajarkan oleh seorang guru kepada saya.

Menurut saya, seorang guru harus punya feeling seperti itu. Dengan demikian maka kita dapat memahami isi hati seorang murid. Ini adalah teori, adakah ilmunya? Ya tentu saja ada, namun saya belum menemukan guru yang pas untuk mengajari saya tentang bagaimana menjadi seorang guru yang baik. Belum lagi belajar menjadi guru yang baik, kali ini karena Covid-19 para guru dituntut untuk punya keterampilan tambahan, yaitu mempunyai keterampilan dalam menggunakan berbagai aplikasi komputer. Bahkan, jika ingin tampil kreatif, bisa juga guru masa kini ikut membuat video belajar yang di upload ke youtube. yang akhirnya dapatlah kita sebut Guru Youtuber.

Guru adalah pelayan, dan murid adalah pelanggan kita. Bagaimana sikap dalam melayani adalah suatu hal yang sangat penting agar siswa didik merasa nyaman. Bagaiman kita ingin dilayani, maka itulah sikap yang harus kita berikan kepada anak didik kita. Dengan demikian maka siswa tentunya akan merasa senang belajar dengan kita. Kita tidak bisa menyalahkan secara mutlak seorang murid yang bolos tidak masuk kelas kita. Bisa jadi mereka membolos karena cara mengajar kita. Kita harus melihat sisi itu. Karena itu evaluasi cara kita mengajar oleh para rekan-rekan guru dan siswa juga harus dilakukan untuk memahami isi hati mereka, dan agar kita dapat mengajar dengan lebih baik. Adakah saran lain untuk menjadi guru yang baik?

OPTIMASI JUMLAH KAPAL PENANGKAP IKAN BERBASIS POTENSI LESTARI SUMBER DAYA IKAN

Optimasi jumlah kapal penangkap ikan berbasis potensi lestari sumberdaya ikan adalah judul jurnal saya yang saya submit di jurnal wave milik BPPT atau Badan pengkajian dan Penerapan Teknologi. Berikut adalah abstraknya.

Trend produksi ikan tahun 2016 di PPS Bungus yang terletak di Kota Padang Provinsi Sumatera Barat meningkat dalam kurun waktu 2007-2015. Hasil tangkapan tertinggi adalah di tahun 2015 sebanyak 5.025,59 ton. Akan tetapi kecenderungan peningkatan produksi tangkapan ini tidak menyebabkan peningkatan pada nilai tangkapannya. Nilai produksi per ton justru memperlihatkan trendpenurunan. Pada tahun 2015, nilai produksi ikan per ton adalah Rp. 60.118.000. Nilai produksi ini sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai produksi pada tahun 2012 sebesar Rp. 89.645.000 per ton dengan hasil tangkapan sebanyak 4.155,9 ton. Penurunan nilai produksi ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah tangkapan meningkat namun mutu ikan yang dalam hal ini adalah ukuran ikan yang ditangkap justru semakin mengecil. Ini menandakan bahwa terdapat dugaan bahwa perairan Sumatera Barat tersebut telah terlalu banyak dieksploitasi sehingga menimbulkan kelangkaan sumber dayaikan tersebut. Untuk menghindari kelangkaan sumerdaya tersebut, maka perlu pengendalian jumlah kapal penangkap ikan. Untuk menentukan jumlah kapal ikan, langkah pertama adalah menentukan jumlah potensi lestari sumber daya ikan (Maximum Sustainable Yield). Potensi lestari sumber dayaikan dihitung dengan menggunakan metode surplus produksi. Jumlah kapal ikan dihitung dengan metode optimasi dengan kendala asli adalah jumlah tangkapan yang diperbolehkan, dan kendala sasaran adalah jumlah tangkapan masing-masing tipe kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi overfishing di perairan Sumatera Barat sebanyak 2.011,27 ton dari jumlah yang seharusnya diperbolehkan yaitu 3.013,82 ton. Jumlah kapal ikan yang diperbolehkan adalah 31 unit kapal longline dan 146 unit kapal purse seine.

Artikel ini merupakan abstrak jurnal yang telah dibuat oleh Yusep Sugianto dan telah diterbitkan di JURNAL WAVE BPPT.

ilmu matematika yang wajib diketahui Para Pelaut

Hallo sobat millenial, kali ini saya akan berbagi informasi tentang ilmu matematika yang wajib diketahui para pelaut. Seorang atau calon pelaut, harus memiliki kemampuan pelajaran matematika ini
agar nantinya mudah dalam mempelajari ilmu-ilmu pelayaran. Jika tidak mampu menguasainya, maka dapat dipastikan pelaut tidak akan mampu membawa kapal dengan aman dan selamat. Dengan demikian, sudah dapat dipastikan, jika pelaut itu pasti jago matematika wkwkwk…Apalagi pemimpinnya, alias kaptennya. Kapten kapal bukan hanya jago berhitung, tapi juga tentu saja harus memiliki kemampuan leadership yang sangat baik karena ia harus menentukan keputusan, memperjelas, dan berkomunikasi secara efektif.

Ok, mari kita mulai

Yang pertama…
Vektor…
Vektor adalah besaran yang mempunyai besar/nilai dan arah. Secara geometris vektor digambarkan sebagai ruas garis berarah, dengan panjang ruas garis menyatakan besar vektor dan arah ruas garis menyatakan arah vektor. Dalam ilmu pelayaran, vektor merupakan dasar untuk membuat rencana pelayaran di peta laut. Garis-garis yang dibuat di atas peta laut merupakan vektor-vektor yang memiliki arah dan besar vektor. Arah vektor merupakan haluan kapal, dan besar vektor merupakan jauh yang dituju oleh kapal. Apa itu haluan kapal, klik video mengenai haluan kapal disini.

Ilmu matematika yang kedua adalah…
SISTEM KOORDINAT
Sistem koordinat Kartesius dalam dua dimensi umumnya didefinisikan dengan dua garis sumbu yang saling tegak lurus dan terletak pada satu bidang (bidang xy). Sumbu horizontal diberi label x dan sumbu vertikal diberi label y. Titik pertemuan antara kedua sumbu, titik asal, umumnya diberi label 0. Untuk mendeskripsikan suatu titik tertentu dalam sistem koordinat dua dimensi, nilai x ditulis (absis), dan nilai y ditulis (ordinat).
Dengan demikian, format yang dipakai selalu (x,y) dan urutannya tidak dibalik-balik. Dan ini disebut dengan koordinat. Dalam ilmu pelayaran, sistem koordinat ini digunakan untuk menentukan posisi atau lokasi kapal, sehingga disebut dengan koordinat posisi kapal. Sumbu X merupakan sumbu yang merepresentasikan bujur bumi, dan sumbu Y merepresentasikan lintang bumi. Sama halnya dengan sistem koordinat kartesius pada matematika, koordinat posisi juga terdiri dari 4 kuadran
Kuadran I adalah koordinat (Lintang Utara, Bujur Timur) atau (disingkat LU,BT)
Kuadran II adalah koordinat (Lintang Selatan, Bujur Timur) atau (disingkat LS,BT)
Kuadran III adalah koordinat (Lintang Selatan, Bujur Barat) atau (disingkat LS,BB)
Kuadran IV adalah koordinat (Lintang Utara, Bujur Barat) atau (disingkat LU,BB).

Dengan demikian, lokasi suatu kapal di titik P akan ditulis xx derajat LU, yy derajat BT

Yang ketiga Ilmu matematika yang dipergunakan dalam bidang Pelayaran adalah Logaritma.
Logaritma merupakan suatu operasi kebalikan dari perpangkatan,
yaitu mencari nilai yang menjadi pangkat dari suatu bilangan. Dalam ilmu pelayaran, angka-angka logaritma disimpan dalam buku Daftar Ilmu Pelayaran yang harus selalu tersedia di atas kapal. Dan sifat-sifat logaritma dipergunakan sebagai rumus untuk menentukan perubahan lintang atau delta lintang, perubahan bujur atau delta bujur, perhitungan haluan dan jauh, dan perhitungan tempat tiba.

Ilmu matematika keempat yang harus dikuasai oleh pelaut dan calon pelaut adalah Trigonometri…
Trigonometri berasal dari bahasa Yunani, trigonon artinya “tiga sudut”
dan metron artinya “mengukur”). Dengan kata lain, trigonometri artinya mengukur tiga sudut. Trigonometri dalah sebuah cabang matematika yang mempelajari hubungan yang meliputi panjang dan sudut segitiga.
Sama halnya dengan logaritma, trigonometri digunakan untuk menentukan haluan, jauh, perbedaan lintang, perbedaan bujur, dan simpang.

Yang kelima adalah Derajat atau satuan sudut..
Derajat (secara lengkap, derajat busur), biasanya disimbolkan dengan °,
adalah ukuran sudut yang dapat dibentuk pada sebuah bidang datar, menggambarkan 1/360 dari sebuah putaran penuh. Artinya, besar 1 derajat adalah satu juring pada lingkaran yang dibagi menjadi 360 buah juring yang besarnya sama. 1° sama dengan 60 menit (ditulis 60′) dan 1′ sama dengan 60 detik (ditulis 60″). Dalam ilmu pelayaran, satuan sudut ini merupakan satuan yang digunakan dalam menyebut sudut haluan kapal terhadap arah Utara. Penggunaan satuan sudut adalah karena bumi berbentuk bola atau lingkaran. Selain itu derajat juga dipergunakan dalam penyebutan lintang, bujur, dan koordinat tempat pada peta laut.

OK. Itulah ilmu matematika yang wajib diketahui para pelaut yang dipergunakan dalam bidang Pelayaran. Sebetulnya masih banyak lagi ilmu -ilmu yang lain, tapi sebagai dasarSimak video 5 ilmu matematika dasar yang digunakan dalam ilmu pelayaran agar lebih jelas. Anda pun dapat melihat daftar seluruh tulisan yang saya buat melalui daftar artikel saya. adsterra

ALTERNATIF mengajar Praktek Secara Daring? ……dengan “video reaction”

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung selama satu tahun ini telah merubah berbagai cara hidup biasa menjadi tidak biasa. Dan ketidak biasaan itu akhirnya terpaksa harus dibiasakan . Dengan kata lain, secara ilmiah boleh dikatakan bahwa ada penambahan variabel dalam menentukan suatu tujuan. Dan variabel itu adalah…..VIRUS COVID-19Itulah cara hidup ini yang sekarang umum dikenal dengan “NEW NORMAL” atau “NORMAL BARU”. Berbagai cara hidup itu artinya berbagai aktivitas yang menyangkut kehidupan kita terpaksa harus dilakukan dengan cara yang baru agar virus COVID-19 tidak menyebar. Hal yang sama terjadi di dunia pendidikan. Telah hampir setahun pendidikan kita dilaksanakan tidak dengan cara bertatap muka di kelas seperti biasanya. Kebiasaan baru atau New normal dalam mengajar sekarang adalah mengajar jarak jauh, dimana siswanya berada di rumah, sedangkan gurunya berada di kampus atau bahkan di rumah juga. Interaksi mereka dihubungkan dengan berbagai aplikasi teknologi yang keseluruhannya menyatu di dalam jaringan internet. Kebiasaan baru dalam belajar seperti ini disebut dengan “BELAJAR DARING”. Ok..belajar tatap muka dalam jaringan memang tidak jauh berbeda dengan belajar tatap muka seperti biasanya di kelas, atau gampangnya kita sebut belajar luar jaringan. Guru menerangkan di depan komputer, siswa mendengarkan di depan komputer atau handphone androidnya masing-masing. Sesederhana itu…no problem….it is easy…gampang…dengan merancang kelas hybrid learning selesai. Persoalannya adalah ketika siswa belajar praktek untuk keterampilan tertentu. Bagaimana caranya agar siswa dapat melakukan belajar praktek jika siswanya ada di rumah? Terus bagaimana cara guru dalam mentransfer ilmu atau materi belajarnya? Itulah persoalan yang sekarang muncul di pendidikan-pendidikan vokasi. Di dalam pendidikan vokasi, sesuai kurikulumnya, porsi belajar praktek harus lebih banyak dari porsi belajar teori… Lalu bagaimana ALTERNATIF MENGAJAR PRAKTEK SECARA DARING?

OK..saya adalah guru…tepatnya guru vokasi bidang kelautan dan perikanan. Saya rasa saya punya problem yang sama dengan para guru vokasi lainnya atau guru SMK dalam mengajarkan praktek untuk para siswanya. karena itu saya mencoba berbagi mengenai cara mengajar praktek kepada siswa di dalam jaringan. Ok ini yang saya lakukan…

Yang pertama adalah saya membuat video tutorial. Anda bisa lihat video tutorial saya mengenai cara membuat jaring. Memang tidak gampang membuat video tutorial; perlu skenario, alat dan bahan, audio sistem, keterampilan edit video, dsb. Butuh tambahan pengetahuan yang lain. Namun apa mau di kata inilah NEW NORMAL….Terpaksa harus dibiasakan dalam mencari alternatif mengajar praktek secara daring.

Kemudian yang kedua, ketika saya masuk kelas daring (biasanya menggunakan aplikasi zoom), kemudian ucapan pembuka sebentar lalu saya memutarkan video belajar praktek yang saya buat tersebut kepada para siswa sambil saya mengomentari video tersebut. Kegiatan seperti ini; mengomentari video yang sedang diputar; jika dalam youtube lebih umum dikenal dengan “video reaction”. Jadi saya upload video saya ke channel youtube, kemudian ketika mengajar diputar videonya, dan di komentari saat video berlangsung. Itulah kira-kira video reaction. Setelah video berakhir, guru boleh demonstrasi lagi di depan kamera secara live atu tidak pun tidak apa-apa…

Lalu ketiga…nah ini yang utama…saya menugaskan para siswa untuk meniru materi yang ditampilkan di video tersebut. Pada video cara membuat jaring, saya berarti memerintahkan para siswa untuk membuat jaring sesuai dengan langkah-langkah yang ada di video tersebut. Mengenai alat dan bahan untuk mereka praktek, karena kondisi siswa adalah berada di rumah, maka tentu mereka harus menyediakan sendiri bahan prakteknya..Oleh sebab itu guru mengupayakan bahan praktek haruslah berbiaya murah, namun tidak mengurangi tujuan pembelajaran yang akan di capai. Penugasan ini tentu berbatas waktu, dan biasanya saya menyuruh upload tugas ke google classroom hasil karyanya dalam bentuk foto. Lho….koq upload foto? bagaimana itu kita bisa tahu bahwa mereka bisa? Bisa jadi fotonya foto orang kemudian di upload…Penilaiannya tidak valid dong??

Tenang….saya menyuruh upload foto tidak bertujuan untuk melakukan penilaian. Tentu saja hal itu saya juga ketahui. Saya meyuruh mereka uplaod foto ke google classroom semata-mata hanya agar mereka merasa terawasi . Saya sih maunya mereka mengerjakan tugas sambil di videokan, namun saya rasa itu sangat memberatkan siswa lah…bikin jaringnya aja belum tentu bisa, ditambah lagi persiapan ambil video…. Bisa jadi mereka malah fokus bagimana bikin videonya yang bagus… wah…malah bisa keluar dari tujuan pembelajaran aslinya. Jadi foto saja. Penilaian mereka mengenai apakah mereka menjadi bisa atau tidak mengenai materi tersebut dilakukan tetap dengan tatap muka. Misal di akhir semester mereka dipanggil ke kampus per kelompok-kelompok kecil, lalu kemudian mereka unjuk keterampilan.

Saya tidak tahu apakah alternatif mengajar praktek secara daring cara ini berhasil membuat si anak menjadi bisa dalam melakukan suatu keterampilan atau tidak, karena ya itulah…semuanya terkendala karena jarak jauh…dalam jaringan…pada akhirnya semua kembali kepada siswanya apakah mereka mau melakukan atau tidak. Guru hanya bisa memantau, dan menegur jika belum melakukan atau terlambat mengumpulkan…Selebihnya siswa yang menentukan perihal ketekunan, kemauan, kerajinan, dan kejujuran mereka sendiri. Karena ada saja siswa yang tidak jujur mengumpulkan foto bagus hasil pekerjaannya padahal yang buat adalah bapaknya ha..ha…Pokoknya itu nanti terlihat pada saat penialain unjuk terampil di akhir semester..Semoga ini bisa menjadi inspirasi para guru semua dalam mengajar praktek secara daring. Oh iya…sebagai informasi, aplikasi yang saya gunakan untuk saya mengajar praktek secara daring adalah youtube (tentu saja channel saya sendiri ya he..he..), google classroom, dan zoom. Untuk contoh inspirasi, atau contoh video belajar, Anda semua bisa melihat video-video pembelajaran yang telah saya buat di yusep channel 33.

Kepemimpinan AUTOPILOT:…BAGUSKAH?

Kepemimpinan autoplot…apakah itu? dan baguskah gaya kepemimpinan tersebut? Di dunia ini, banyak sekali pemimpin yang sukses dengan berbagai gaya kepemimpinan. Seringkali kita melihat atau mempelajari gaya kepemimpinan dari pemimpin-pemimpin yang sukses tersebut. Tujuannya untuk apa? tentu saja agar gaya mereka tersebut ditiru dan diikuti, dengan harapan bahwa mengikuti gaya mereka akan berbuah kesuksesan yang sama.

Namu sebetulnya, mempelajari gaya kepemimpinan seseorang tidaklah harus melihat yang sukses-sukses terus. Dalam mempelajari gaya kepemimpinan yang gagal pun kita akan memperoleh pelajaran yang berarti. Artinya, jika kita mengikuti gaya kepemimpinan mereka yang gagal, maka dikhawatirkan kita pun akan mengalami kegagalan yang sama.

Ok…kali ini saya akan membahas sedikit mengenai gaya kepemimpinan auto pilot..yang kata sebagian orang bahwa gaya kepemimpinan ini membuat para bawahan berfikir dan bertindak kreatif…tapi betulkah begitu?

Ok sebelum membahas lebih jauh, saya sampaikan dulu persepsi saya mengenai gaya kepemimpinan autopilot ini berdasarkan literasi yang saya baca. Autopilot secara bahasa dapat diterjemahkan sebagai kendali otomatis. Itu artinya, sang pilot cukup tekan tombol tujuan, dan selebihnya biarkan mesin yang bekerja..kira-kira begitu lah definisi autopilot dalam dunia pelaut atau penerbangan. Dalam dunia kepemimpinan, autopilot menurut pandangan saya berarti bahwa pemimpin hanya memtuskan tujuan institusi saja, selebihnya…prosesnya…persoalannya…pelaksanaannya… biarkan anak buah yang bekerja…pemimpin berharap autopilot ini bahwa para bawahan bergerak secara otomatis apa yang menjadi tujuan pemimpin. Sementara pemimpin tidak melakukan apa-apa lagi…alias kendali diserahkan sepenuhnya secara otomatis…

Pendapat saya, kepemimpinan autopilot ini tentu akan berhasil jika sistem atau para bawahannya bekerja secara baik dan teratur. Energi kerja selalu penuh, semangat kerja stabil, semua pegawai ikhlas….maka sudah dapat dipastikan autopilot akan bekerja dengan baik. Persoalannya adalah manusia itu berbeda dengan mesin. Energi kerja tidak selalu stabil, semangat kerja kadang naik turun…soal ikhlas? belum tentu setiap waktu. Jarang ada yang ikhlas seterusnya ketika semua masalah diselesaikan oleh bawahan sementara pimpinan tidak tahu menahu atau hanya ingin tahu beres saja…Lama-kelamaan mereka akan jenuh pada pimpnan model seperti ini. “Pemimpin ini ingin enaknya saja”…”Pemimpin apaan? giliran ada masalah gak mau di depan bertanggung jawab” Itulah kalimat-kalimat yang keluar dari hati sang bawahan ketika pemimpin yang membanggakan kendali otomatis mendiamkan organisasi atau institusi tak terurus… Bahkan jangankan diurus…tujuan pun gak jelas…mana tujuan primer dan mana tujuan sekunder,,, menjadi gak jelas..

Pemimpin autopilot cenderung membiatkan masalah selesai dengan sendirinya. Atau membiarkan anak buah menyelesaikan persoalan sementara dia sendiri sedapat mungkin meminimalisir keterlibatan… Baguskah model kepemimpnan seperti itu> menuru saya sih kurang bagus ya…Sistem itu bekerja harus dengan kontrol baik oleh pimpinan. Pemimpin bahu membahu bekerja sama menyelesaikan persoalan. Jika ada masalah, dia selalu tampil membela di depan.

Omong kosong autopilot membiarkan agar anak buahnya bekerja secara mandiri dan kreatif. Itu hanya pembenaran saja, yang sebetulnya adalah bahwa pemimpin tersebut bersikap tidak mau berpusing-pusing memikirkan persoalan. Biarkan anak buah menyelesaikan persoalan….itulah sikap kepemimpinan autopilot …Jadi jika ada yang mengatakan bahwa saya memimpin dengan metode autopilot, maka pemimpin itu adalah pemimpin yang imajiner…Itu menurut pendapat saya sih…bagaimana menurut pendapat anda?

Merancang Kelas Hybrid Learning

Kelas Hybrid Learning atau dalam Bahasa Indonesia adalah kelas campuran merupakan terobosan baru dalam mengajar di era pandemi COVID-19. Hybrid learning merupakan gabungan antara belajar tatap muka dengan belajar di dalam jaringan. Pada masa COVID-19 ini, pemerintah mengatur bahwa setiap isi kelas harus terisi maksimal 50 persen dari jumlah seluruh peserta didik. Itu artinya jika jumlah siswa ada 30 orang, maka kelas hanya boleh diisi sebanyak 15 orang saja. Lalu bagaimana dengan sisanya yang 15 orang lagi? Maka mereka akan belajar secara online atau belajar di dalam jaringan.

Dengan hybrid learning, secara sederhana berarti bahwa jika ada 30 siswa, maka guru atau pendidik mengajar 15 orang secara tatap muka, dan 15 orang di dalam jaringan dengan memanfaatkan aplikasi seperti zoom, google meet, atau platform video konferensi lainnya secara sekaligus. Dengan demikian maka dibutuhkan bukan hanya papan tulis dan alat tulis saja dalam belajar dengan menggunakan kelas hybrid. Teknologi pun diperlukan untuk mendukung lancarnya proses belajar secara hybrid. Audio visual system, jaringan internet, hingga alat-alat bantu mengajar lainnya seperti pen tablet atau display touch screen adalah hal-hal yang harus diperhatikan dan disiapkan agar proses belajar model hybrid learning dapat terlaksana dengan lancar.

Selain itu, para guru atau dosen pun dituntut memiliki kemampuan tanbahan dalam proses belajar model hybrid learning ini. Mereka setidaknya harus mampu dalam mengoperasikan komputer, menggunakan aplikasi konferensi video, hingga aplikasi pengujian para peserta didiknya. Lalu bagaimana cara merancang kelas hybrid learning? apa saja yang dibutuhkan dalam merancang kelas seperti ini? Simak rancangan kelas hybrid di video kelas hybrid ini. Video ini memberikan bagaimana rancangan kelas hybrid, tentunya dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan, selain itu dapat digambarkan pula bagaiamana nantinya proses belajar model hybrid learning tersebut berlangsung. google-site-verification: googlea7c70fd5c9cf88f2.html

ISTILAH-ISTILAH PENTING PADA BUDIDAYA UDANG

Udang merupakan komoditas yang luar biasa gurih.
Dalam satu kali panen, hasil penjualannya dapat mencapai ratusan juta rupiah. Akan tetapi budidaya udang ini tidak mudah. Budidaya udang tidak hanya memberi makan agar udang menjadi besar.
Pada budidaya udang, perlu kolaborasi antara pengetahuan teori, analisis data, dan pelaksanaan teknis di lapangan. Agar tidak terjadi gagal panen, maka kekompakan antara tim teknis lapangan
dengan analis data sangatlah perlu.

Ada beberapa istilah-istilah dalam budidaya udang yang harus diketahui
oleh pembudidaya udang, baik analis, manager, maupun pelaksana lapangan. Istilah-istilah ini sangatlah penting dan merupakan parameter-parameter utama dalam analisis operasional budidaya udang. Semua istilah ini pada prinsipnya merupakan deskripsi dari suatu angka yang yang berkaitan, yang pada akhirnya digunakan untuk mengestimasi dan menentukan kapan panen, berapa jumlah panen, dan berapa jumlah pakan, dan sebagainya. Berikut adalah istilah-istilah tersebut:

Yang pertama ada istilah yang namanya Average Body Weight atau disingkat ABW. ABW ini merupakan berat rata-rata udang per ekor.
Untuk mengetahui ABW, maka petambak akan selalu melakukan sampling udang secara berkala. Contoh perhitungannya adalah sebagai berikut:
Jika diumpamakan hasil sampling udang adalah 200 gram,
dan jumlah udang dalam 200 gram tersebut terdapat 10 ekor,
Maka ABW adalah 200 gram dibagi 10 ekor sehingga ABW sama dengan 20.

Istilah yang kedua adalah SIZE..
Size merupakan ukuran yang menyatakan jumlah udang dalam berat 1 kilogram. Untuk mengetahui size udang, maka ABW harus diketahui,
karena rumus untuk mennetukan Size udang adalah 1 kg udang atau 1000 gram udang dibagi dengan ABW.

Pada contoh pertama diketahui bahwa ABW adalah 20. sehingga Size udang tersebut adalah 1000 gram dibagi dengan 20 gram per ekor sama dengan 50 yang artinya adalah bawa dalam 1 kilogram terdapat 50 ekor udang.

Semakin kecil nilai size maka ukuran udang akan semakin besar, dan semakin kecil size udang, maka harga udang per kg akan semakin tinggi.

Istilah penting yang ketiga adalah Average Daily Gain atau disingkat ADG. ADG merupakan istilah yang menyatakan pertambahan berat harian udang pada periode tertentu. Sama seperti size, parameter untuk menentukan ADG adalah dengan menggunakan nilai ABW atau Average Body Weight.

Jika kita umpamakan pada hari ke 15 ABW udang adalah 23
dan hari ke 20 abw bernilai 31, maka pertumbuhan udang per hari adalah ABW 31 dikurangi ABW 23 dibagi dengan hari 20 dikurangi hari 15 sehingga diperoleh ADG sebesar 1,6 gram per hari.

Istilah berikutnya, yang keempat dan kelima adalah:

Populasi dan Biomass

Istilah ini adalah istilah untuk udang dalam kolam budaidaya
jika populasi adalah jumlah udang yang hidup dalam suatu kolam, maka biomass adalah berat total udang yang hidup dalam suatu kolam budidaya. Hubungan antara biomass dengan populasi sangat berkaitan erat..

Untuk mencari biomass, maka nilai ABW yang diketahui dikalikan dengan populasinya sedangkan untuk mencari populasi, maka Biomass dibagi dengan ABW.

Mari kita lihat contoh perhitungan berikut ini…

Jika diketahui populasi udang dalam suatu kolam tambak adalah 120 ribu ekor dan dari hasil sampling diketahui ABW adalah 31, maka…
Biomass adalah 120 ribu dikali 31 sama dengan 3 juta 720 ribu gram
atau biomass atau berat udang yang hidup di kolam tersebut pada saat ABW 31 adalah 3.720 kg.

Istilah yang ke enam adalah SR atau survival rate..

SR atau Survival Rate mengindikasikan tingkat kehidupan udang pada suatu periode tertentu. Satuan SR dinyatakan dalam (persen). SR dapat diperoleh dengan melihat perbandingan antara udang yang dipanen
dengan jumlah udang yang di tebar di awal budidaya.

Sebagai contoh

Jika diketahui jumlah udang pada saat panen adalah 100.000 ekor dan jumlah tebar saat awal budidaya udang adalah 120.000 ekor, maka SR adalah 100.000 dibagi 120.000 dikali 100% sama dengan 83% artinya bahwa selama melakukan budidaya tersebut, dari 100 ribu ekor yang ditebar, udang yang hidup hinga panen adalah sebanyak 83 persen.


Istilah berikutnya yang penting untuk diketahui adalah…
Feeding Rate atau disingkat FR

FR menyatakan prosentase pakan yang yang harus diberikan dalam satu hari. Dengan diketahui feeding rate, dan diketahuinya ABW serta Biomass, maka dapat ditentukan jumlah pakan yang dibutuhkan per hari

Perhatikan contoh berikut

Diketahui berdasarkan sampling, ABW udang suatu kolam adalah 30 dan Biomass dihitung sebanyak 3.720 kg. Tentukan jumlah pakan per hari kolam tersebut.

Untuk menentukan jumlah pakan per hari kolam tersebut,
yang pertama harus dilakukan adalah menentukan FR untuk ABW 30 tersebut. Dari tabel diketahui bahwa nilai FR untuk ABW 30 (klik) adalah 2,8. Dengan demikian jumlah pakan per hari kolam tersebut adalah
3.720 dikali 2,8% sama dengan 104,16 kg.

Istilah penting yang terakhir dalam budidaya udang adalah
Feed Convertion Ratio atau disingkat FCR

Feed Convertion ratio atau FCR merupakan nilai yang menyatakan
perbandingan antara jumlah pakan yang dihabiskan dalam satu siklus
budidaya udang dengan biomass udang saat panen, atau total berat udang yang di panen.

Sebagai contoh
Jika diketahui bahwa berat udang yang dipanen atau biomass akhir adalah 3.720 kg, dan jumlah pakan yang dihabiskan adalah sebanyak 4.500 kg, maka FCR untuk budidaya udang pada siklus tersebut tersebut adalah 4.500 dibagi dengan 3.720 sama dengan 1,20.

Penjelasan pada nilai FCR ini, semakin kecil nilai FCR maka operasi budidaya udang pada siklus tersebut semakin baik. Nilai FCR yang besar menunjukkan bahwa pakan terlalu banyak, dan hal ini berujung pada membengkaknya biaya pembelian pakan.

Semakin membengkak biaya pakan, maka tentu saja akan semakin
memperkecil laba usaha budidaya udang tersebut….

Itulah beberapa istilah-istilah penting dalam budidaya udang dimana semuanya adalah saling terkait dan menentukan sukses tidaknya
budidaya udang. Semakin cermat dalam menganalisis parameter-parameter ini, maka keputusan yang dibuat dalam operasi budidaya udang akan semakin tepat. Dan akhirnya laba operasi akan menjadi maksimal…

4 Level mengajar Secara Online

Kali ini saya mau review mengenai 4 level mengajar secara online. Ini merupakan pendapat saya mengenai bagaimana cara pengajar mentransfer ilmunya secara daring kepada peserta didiknya dalam kondisi #mengajarpascapandemi. Ok, kita mulai:

LEVEL 1.

Pada level ini, pengajar mengajar seperti biasa layaknya mengajar secara tatap muka dimana peserta didiknya ada di kelas. Papan tulis dan spidol boardmarker menjadi media untuk mengajar. yang membedakan adalah bahwa pada mengajar daring, peserta didiknya sekarang tidak di kelas melainkan ada di rumah masing-masing. Peserta didik ditampilkan melalui aplikasi zoom dan di proyeksikan melalui proyektor InFocus ke layar. Oleh sebab itu setting kelas dibuat seperti biasa, namun ditambahkan perlengkapan multi media seperti laptop, kamera, dan microphone. Lihat video setting kelas online sederhana.

LEVEL 2

Pada metode mengajar daring atau online level 2, pengajar tidak menggunakan papan tulis sebagai medianya, namun menggantinya dengan pen tablet. Pen tablet ini sebagai alat tulis digital, dimana dikombinasikan dengan aplikasi microsoft whiteboard. Dengan demikian, whiteboard virtual ini akan di share melalui fasilitas share screen pada zoom.

LEVEL 3

Pada mengajar level 3, pengajar menyampaikan materinya berupa slide-slide presentasi yang dibuat melalui aplikasi Microsoft Power Point. Slide presentasi ini di share melalui fasilitas share screen pada zoom.

Level 4

Mengajar pada level ini merupakan metode mengajar level paling tinggi, dan membutuhkan kreatifitas pengajarnya yang sangat tinggi. Pengajar membuat video pembelajaran baik animasi, praktek, maupun lainnya, dan selanjutnya video ini dishare ke para peserta didik baik melalui aplikasi zoom atau aplikasi lainnya. Di ujung video, biasanya pengajar memberikan penugasan kepada siswa terkait dengan materi belajar yang di-video-kan tersebut. Untuk melihat contoh video belajar LEVEL 4 ini, bisa klik video ini.

Itulah 4 level mengajar secara online untuk menyikapi pandemi yang saat ini sedang mewabah. Semua tergantung kesiapan pendidik, kelengkapan alat, dan tentu saja kemauan pendidik dalam berkreasi menyampaikan materi belajarnya. Salam #mengajarpascapandemi