Category Archives: Pendidikan

Tentang “Teaching Tools” dan Perkembangannya

Proses pengajaran mengacu pada metode dimana seorang guru atau instruktur menanamkan pengetahuan kepada siswa atau murid dengan memanfaatkan alat-alat tertentu. Dengan peningkatan perkembangan teknologi, alat pengajaran baru dan lebih baik telah diperkenalkan untuk menggantikan alat-alat tradisional. Alat yang dipilih untuk mengajar harus didasarkan pada kompetensi dan kapasitas yang dimiliki baik guru maupun siswa. Sebuah alat pengajaran adalah instrumen yang harus dapat memfasilitasi komunikasi dengan cepat dan mudah digunakan dalam rangka transfer informasi dan pengetahuan kepada anak didik. Peralatan yang dibutuhkan untuk mengajar memainkan peran yang sangat penting dalam suatu proses pembelajaran.

Alat pengajaran yang digunakan telah berkembang selama beberapa periode waktu. Peningkatan pesat dalam teknologi telah menyebabkan pengenalan sejumlah alat pengajaran yang baru dan diikuti dengan penngkatan metode pembelajaran. Alat pengajaran yang dibutuhkan untuk mahasiswa lebih terikat dan bervariasi dibandingkan dengan alat pengajaran yang diperlukan untuk anak-anak prasekolah. Mereka juga bervariasi pada materi pelajaran yang diajarkan. Subyek yang berurusan dengan teori umumnya memerlukan alat pengajaran tradisional. Ini termasuk barang-barang alat tulis seperti, pena, pensil, penghapus, buku, dan kotak pensil. Sedangkan subyek yang membutuhkan mode praktek dalam mengajar dapat menggunakan teleskop, komputer, mikroskop, alat teknik, tabung reaksi dan berbagai bahan kimia sebagai alat pengajaran. Bertentangan dengan ini, mata pelajaran yang membutuhkan pembelajaran interaktif, studi kasus atau diskusi kelompok dapat menggunakan alat-alat seperti liquid crystal display (LCD) layar, proyektor overhead dan komputer.

Alat pengajaran modern dan kontemporer juga telah diperkenalkan seiring dengan kemajuan teknologi dan persaingan lulusan. Pengenalan Internet telah terbukti menjadi alat pengajaran yang efektif dan efisien bagi guru dan siswa. Informasi yang berkaitan dengan topik apapun sekarang dapat dengan mudah diperoleh secara online. Selain dari internet, sejumlah paket perangkat lunak juga telah dikembangkan untuk membantu para guru dan siswa. Televisi, radio dan koran juga terbukti menjadi alat pengajaran yang efektif dalam menyampaikan informasi dan pengetahuan.

Untuk mencapai hasil yang optimal, kombinasi yang cocok dari kedua alat pengajaran tradisional dan kontemporer harus dikembangkan untuk memfasilitasi pembelajaran yang efektif.

Kepala Sekolah Adalah CEO

Kepala sekolah adalah pemimpin tertinggi suatu institusi sekolah. CEO yang merupakan singkatan dari Chief Executive Officer adalah pemimpin tertinggi suatu organisasi bisnis atau dengan kata lain adalah pemimpin tertinggi suatu perusahaan. Lalu dimana letak persamaannya?
Persamaannya adalah keduanya sama-sama berperan sebagai pemegang fungsi manajerial tertinggi. Merekalah yang memiliki dan membuat visi, misi dan pembuat kebijakan suatu organisasinya. Visi dan misi inilah nantinya yang akan dieksekusi di tingkat bawah dalam bentuk operasional lapangan. Kebijakan yang dibuat merupakan wajah dari suatu organisasi yang dipimpinnya.

Dengan demikian, adalah suatu hal yang keliru jika seorang pemimpin tertinggi melaksanakan sesuatu yang bersifat operasional. Bahkan adalah suatu salah besar jika pemimpin tertinggi tidak memiliki visi, misi, dan kebijakan strategis.

Seorang CEO berperan penting dalam mengatur sistem yang menyeluruh di dalam organisasinya agar menjadi suatu kesatuan yang kompak di setiap departemen. Pun demikian dengan kepala sekolah, dimana ia harus dapat membuat kompak dan menyamakan persepsi setiap lini bagian dibawahnya, yaitu tata usaha, sarana diklat, pengajaran, dan keuangan.

Dari sisi kebijakan, seorang CEO dan Kepala Sekolah memiliki kewenangan dan harus mampu menggunakan anggaran dana dengan sebaik-baiknya. Ini termasuk dalam hal bermanuver kebijakan penggunaan anggaran. Pengakuan bawahan sedikit banyak memberikan pengaruh atas kecerdasan dan kecerdikan dalam membuat kebijakan anggaran yang dibuat oleh pemimpin tertinggi ini. Karena itu, pemimpin tertinggi (CEO dan Kepala Sekolah) memang harus memiliki kemampuan manajemen yang tinggi, serta memiliki jam terbang yang cukup di berbagai lini operasional dan manajerial. Alangkah bagusnya suatu sekolah, dan alangkah bernilainya suatu sekolah jika kepala sekolahnya berperan seperti layaknya seorang CEO yang menjalankan roda bisnis perusahaan.

 

 

 

 

Mengapa Perlu Ada Terobosan Baru Dalam Sistem Pembelajaran Sekolah?

Sangat sedikit tulisan untuk konsumsi masyarakat tentang lingkungan kelas dan deskripsi tentang perilaku siswa yang menggambarkan kondisi belajar mengajar yang kurang ideal. Perilaku siswa ditemukan mengkhawatirkan dan menyedihkan dan mungkin menunjukkan mengapa prestasi anak-anak sekolah publik sangat miskin. Dan, jika perilaku ini khas pada persentase yang besar dari sistem sekolah , maka penyebab kinerja siswa miskin telah diidentifikasi. Sekarang, harus ada solusi.

Satu hal yang harus terlebih dahulu dipahami adalah bahwa pendidikan memiliki dua sisi. Satu sisi melibatkan pembelajaran di kelas, dan disisi lain adalah keuangan yang merupakan bagian sangat penting yang memungkinkan pendidikan dapat berjalan dengan baik.

Kedua sisi ini sangat berkaitan erat dan saling mendukung saru sama lain. Dimana ketika pembelajaran di kelas tidak akan sempurna jika tidak didukung oleh pendanaan untuk pemeliharaan prasarana dan pembelian sarana pembelajaran, namun demikian pula bahwa sebesar apapun dana yang tersedia, bahkan mungkin juga ada kucuran dana dari APBN yang sangat besar, jika tidak dibarengi dengan kualitas para guru dalam mengajar serta sistem pembelajaran yang baik, maka pembelajaran tidak akan menghasilkan nilai yang berlebih.

Kredensial dan kinerja guru sekarang dipermasalahkan. Telah banyak informasi bahwa guru dipaksa mengubah nilai siswa untuk mengaburkan kinerja yang buruk, atau demi memperlihatkan data kelulusan suatu sekolah agar terlihat bagus. Jadi sekarang adalah waktu untuk mulai menganalisis apa yang terjadi di sekolah dan ruang kelas tersebut.

Pada masalah nilai prestasi rendah, pertanyaan ini harus dijawab: Bagaimana bisa seorang siswa bersekolah di tingkat SMA namun memiliki kemampuan membaca setaraf dengan kelas 3 SD? Tak dapat dibayangkan jika seorang siswa dapat lulus di tingkat itu sementara kualitas justru tidak terletak pada tingkat itu.

Mungkin, sekarang adalah waktu untuk memeriksa konsekuensi atas kebijakan yang telah dibuat oleh sekolah untuk pembelajaran. Konsekuensi ini harus secara menyeluruh, mulai dari sistem pembelajaran, sarana dan prasarana, konsep pembelajaran guru, dsb. Setelah semua itu dianalisa, sudah seharusnya untuk di review, dikomunikasikan, dirapatkan, dan dibuat kebijakan ulang jika ternyata konsep yang dijalankan selama ini tidak memperlihatkan peningkatan value pada lulusan-lulusannya.

Diperlukan terobosan-terobosan yang baru dan segar dalam merancang suatu konsep pembelajaran di kelas agar dapat memperlihatkan peningkatan yang signifikan dan nyata. Terobosan-terobosan ini mungkin penuh dengan resisitensi atau penolakan-penolakan dari berbagai kalangan, namun dengan komunikasi yang baik serta optimisme yang tinggi, saya yakin bahwa keberanian membuat suatu terobosan dalam merancang pembelajaran dapat membuahkan hasil. Hasil dari terobosan baru ini tidak akan terlihat dalam waktu dekat, tapi kita akan melihatnya dalam 2 atau 3 tahun ke depan. Dan apa yang dilihat oleh kita 3 mendatang  tersebut (entah buruk atau baik) adalah hasil yang nyata dan bukan rekayasa, sebab semua sumber informasinya adalah bukan dari internal sekolah melainkan dari masyarakat yang merupakan salah satu stake holder pendidikan.

Tinjauan Filosofi Pendidikan

Penyelenggaraan sekolah yang baik perlu didasari oleh filosofi pendidikan. Filosofi ini harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang ada dan dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, pro-perubahan, kreatif, inovatif, dan eksperimentif sehingga dapat mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan peserta didik. Filosofi itu juga harus berpandangan bahwa dalam proses belajar mengajar, peserta didik harus diberi perlakuan secara maksimal untuk mengaktualkan, mengeksiskan, dan menyalurkan semua kompetensinya, baik itu kompetensi intelektual, kompetensi spiritual, maupun kompetensi emosional.

Filosofi itu juga harus menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, yaitu kebutuhan individu, keluarga, dan kebutuhan berbagai sektor yang bersifat lokal, nasional, maupun internasional. Terkait dengan globalisasi, pendidikan harus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing secara internasional. Untuk mempersiapkan sumber daya tersebut, maka 4 pilar pendidikan, yaitu learnign to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelenggaraan praktek pendidikan. Patokan-patokan inilah yang nantinya secara kongkrit akan diimplementasikan ke dalam kurikulum, sarana dan prasarana belajar, proses belajar, kualifikasi pengajar, dan integritas penyelenggara pendidikan.

Pendidikan bukan merupakan peniruan dari hidup, tetapi  merupakan persiapan untuk hidup. Oleh karena itulah, setiap peserta didik harus dapat memahami bahwa sekolah adalah tempat yang penting untuk membangun dirinya dalam mengarungi hidup nanti pada saatnya. Di satu pihak, para guru harus menyadari bahwa apa YANG IA BERIKAN KEPADA PARA PESERTA DIDIK DAPAT MENJADI KUNCI PENTING DALAM KEHIDUPAN PESERTA DIDIK DI MASA DEPAN. Untuk itulah, maka Para guru harus dapat memberikan pelayanan yang prima kepada peserta didiknya. Para guru harus menyadari bahwa mengajar bukan merupakan kewajiban semata, tapi itu adalah sikap moral yang harus didasari pada keikhlasan.

Menjadi Mahasiswa Bisnis Tidak Harus Pandai Menulis

Bisnis identik dengan penciptaan hal-hal kreatif dan inovatif yang dikonversi menjadi profit. Mahasiswa bisnis dituntut sejak awal untuk dapat menganalisa suatu permasalahan bisnis, mengoreksinya, dan membuat suatu kesempatan bisnis baru. Permasalahan yang dianalisa ini dituangkan dalam bentuk paper. Ini adalah inti penting yang akan dipelajari dan dilakukan oleh setiap siswa sekolah bisnis.

Mahasiswa tidak akan telepas dari tugas menulis. Tugas menulis ini akan selalu ada di setiap semester, walaupun tingkat kesulitannya mungkin berbeda-beda. Kadangkala, menulis ini merupakan tugas yang sangat ditakuti oleh mahasiswa. Malas untuk melakukan riset, atau tidak mampu untuk menuangkan ide dan kesimpulannya diatas kertas adalah factor yang paling banyak dijadikan alas an mahasiswa untuk tidak mau mengerjakan tugas ini. Padahal sebenarnya, inti dari tugas menulis ini sangat sederhana, yaitu adalah bagaimana agar apa yang siswa bayangkan bisa dituangkan dalam bentuk tulisan, dan orang lain mengerti apa yang mereka tulis.

Solusi untuk mengatasi kesulitan dalam menulis ini sebenarnya sederhana sekali. Siswa tetap melakukan penelitian dan menuliskan garis besarnya. Untuk menuangkannya dalam bentuk paper, anda tinggal meminta bantuan kepada orang lain yang sudah biasa atau telatih dalam membuat research papers.

Meminta bantuan dalam penulisan research paper bukan soal kemalasan semata, tapi ini adalah suatu bentuk kecerdikan. Memang adalah lebih baik jika para siswa membuat sendiri paper atas penelitianya. Namun jika tidak mampu, atau tidak punya cukup waktu (karena tugas membuat paper lebih dari satu), meminta bantuan adalah suatu tindakan yang cerdik. Faktanya, banyak dari mahasiswa yang tadinya kelihatan tidak bisa apa-apa ternyata bisa lebih berhasil karena lebih pintar dan cerdik dalam berhubungan dengan orang lain dan lebih cepat mendapatkan pekerjaan. Sedangkan yang pintar menulis namun lemah dalam riset justru malah jadi anak buahnya.

Branding Untuk Para Politikus

Personal branding adalah suatu kebutuhan yang mendasar dan manusiawi untuk berinteraksi, berafiliasi, dan menonjolkan prestasi. Personal branding bertujuan untuk menampilkan kepribadian seseorang sebagai bentuk manifestasi dari pembentukan karakter dirinya selama hidupnya. Personal branding sangat berbeda dengan product branding. Jika product branding dilahirkan dari para pakar marketing, maka personal branding dibangun dari kepribadian yang positif.

Untuk meraih konstituen yang banyak, seorang politisi harus memiliki personal branding yang baik. Branding merupakan upaya tepadu yang ditujukan untuk membentuk atau memperkuat pemahaman target audience terhadap karakter atau factor keunggulan seseorang. Ini semua  dirangkum dalam berbagai macam bentuk seperti personal website. Seorang politikus harus memiliki suatu personal website yang merepresentasikan dirinya.

Personal branding untuk seorang politisi mungkin agak berbeda dengan personal branding orang pada umumnya. Personal branding seorang politikus juga bertujuan untuk memperjelas positioning mereka. Positioning adalah bagian dari marketing strategy. Pencitraan dirinya yang dimanifestasikan dalam sebuah website mungkin akan dirancang oleh suatu tim yang terdiri dari berbagai macam pakar seperti pakar marketing, pakar komunikasi, pakar psikologi, dan tentu saja pakar internet. Tim ini yang akan merangkum kepribadian seorang politikus dan dihubungkan dengan misi dan visinya. Tujuannya tidak lain adalah untuk meraih pendukung sebanyak-banyaknya.

Pekerja Teredukasi dan Pekerja Tidak Teredukasi

Bagi kaum pria, bekerja adalah suatu kewajiban. Apalagi jika sudah menikah, bekerja sudah merupakan kewajiban yang utama dimana setiap langkah dan keringat yang keluar akan menjadi suatu berkah pahala bagi dirinya maupun keluarganya. Akan tetapi bekerja tidaklah mudah, dan bagi sebagian orang, bekerja bukanlah hanya semata-mata menggerakkan tangan atau kaki sehingga keluar keringat yang berubah menjadi uang. Bagi sebagian orang, bekerja adalah berfikir, berinovasi, dan mengembangkan kreatifitas.

Disinilah letak perbedaan antara pekerja yang teredukasi dengan pekerja yang tidak teredukasi. Pekerja yang tidak teredukasi mendefinisikan bahwa bekerja adalah sesuatu yang menghasilkan keringat secara nyata. Biasanya mereka membutuhkan kekuatan otot ketika sedang bekerja. 95 persen waktu mereka digunakan untuk beraktifitas menggunakan otot di luar ruangan. Sedangkan bagi pekerja teredukasi, definisi bekerja telah berkembang luas. Bekerja tidak hanya menggunakan otot. Bekerja bagi mereka adalah menggunakan seluruh kemampuan otaknya untuk menghasilkan dan membuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Kreatifitas adalah kunci utama bagi pekerja yang teredukasi.
Keringat yang keluar dari pekerja teredukasi ini tidak terlihat, bahkan rasa lelahnya pun tidak terlihat. Wajar saja, karena mereka hanya “sekedar” duduk di depan computer dalam ruangan ber-AC. Mungkin selama 8 jam kerja setiap harinya, mereka tidak pernah keluar gedung. Apalagi mengangkat beban-beban berat.
Lalu manakah yang akan kita pilih? Sebelum menjawab itu, Ada kunci yang harus dipegang, yaitu:

“Pekerja teredukasi akan lebih cepat naik karir, sedangkan pekerja tidak teredukasi tidak ada karir sama sekali.”

Dengan demikian sudah sangat jelas, bahwa kita harus menjadi pekerja yang teredukasi. Menjadi pekerja teredukasi akan menjamin masa depan diri kita maupun keluarga kita. Lalu bagaimanakah caranya agar menjadi pekerja yang teredukasi? Belajar adalah kuncinya. Belajar di jenjang formal seperti sekolah tidak boleh disia-siakan. Belajar di jenjang non formal seperti kursusu harus dimanfaatkan. Jika masa depan ngin bagus, maka jadilah pekerja yang teredukasi.

Presentasi Kedisiplinan

Kedisiplinan adalah sesuatu yang harus diajarkan dimiliki oleh setiap orang. Terkadang kita tahu tentang disiplin, akan tetapi kita belum cukup tahu tentang arti sebenarnya dari kedisiplinan tersebut.

Kali ini saya mau berbagi file berbentuk presentasi power point tentang kedisiplinan. Materi presentasi kedisiplinan ini adalah materi presentasi yang pernah saya bawakan pada saat menjadi pembicara pada Latihan Dasar Kepemimpinan di salah satu institusi pendidikan.

Silahkan klik http://adf.ly/feDiN untuk download presentasi kedisiplinan.