Category Archives: perikanan

Tesis Saya : Desain Konseptual Pelabuhan Perikanan Terapung

Hai…barangkali ada teman-teman atau para pembaca yang ingin membaca mengenai tesis saya yang berjudul “Desain Konseptual Pelabuhan Perikanan Terapung: Studi Kasus Perairan Lepas Pantai Sumatera Barat”. Anda dapat download disini.

Berikut adalah abstraknya:

Kecenderungan penurunan nilai tangkapan per ton setiap tahun mengindikasikan bahwa ada penurunan ukuran ikan hasil tangkapan sehingga harga jual ikan mengalami penurunan. Dengan harga jual ikan yang lebih kecil karena ukuran ikan yang semakin kecil, maka jumlah pendapatan yang diterima oleh kapal ikan akan mengalami penurunan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kapal ikan yang terkonsentrasi hanya di tempat-tempat tertentu. Untuk meningkatkan nilai tangkapan per ton, kapal ikan harus mencari daerah penangkapan baru yang lebih jauh dari pelabuhan pangkalan. Akan tetapi semakin jauh jarak daerah penangkapan dari pelabuhan pangkalan maka biaya operasi penangkapan ikan menjadi semakin meningkat. Salah satu solusi untuk mengakomodasi kapal-kapal ikan agar mampu beroperasi lebih jauh, adalah dengan cara membuat pelabuhan perikanan yang terapung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi perikanan di perairan Sumatera barat, pola operasi dan menghitung ukuran minimum pelabuhan perikanan terapung.

Potensi sumberdaya ikan dihitung dengan menggunakan metode surplus produksi. Data yang digunakan adalah data time series jumlah tangkapan ikan, jumlah kapal penangkap ikan, dan jumlah upaya penangkapan ikan. Untuk mengetahui kondisi perikanan di perairan Sumatera Barat, hasil perhitungan pada metode surplus produksi dibuat grafik Maximum Sustainable Yield (MSY). Penelitian dilanjutkan dengan metode optimasi untuk mendapatkan jumlah tangkapan ikan maksimum masing-masing tipe kapal ikan dan jumlah kapal maksimum tiap tipe kapal ikan. Hasil optimasi jumlah kapal ikan digunakan bersama dengan panduan dari FAO mengenai pembangunan fasilitas pelabuhan perikanan untuk menghitung kapasitas setiap fasilitas yang akan disediakan oleh pelabuhan perikanan terapung. Total kapasitas fasilitas pelabuhan perikanan terapung selanjutnya digunakan untuk menghitung ukuran pelabuhan perikanan terapung.

Jumlah ikan pelagis yang boleh ditangkap adalah sebanyak 3.025,78 ton per tahun. Jumlah tangkapan ikan maksimum untuk kapal tipe longline adalah 1.004,7 ton dan kapal tipe purse seine adalah 2.019,96 ton. Pelabuhan perikanan terapung dibangun untuk melayani jumlah optimal kapal ikan sebanyak 31 unit kapal longline dan 146 unit kapal purse seine. Untuk memindahkan ikan dari pelabuhan ikan terapung ke daratan, digunakan 3 unit kapal pengangkut berukuran 78 GT. Pelabuhan perikanan terapung berbentuk ponton dan memiliki panjang keseluruhan (LOA) 82,41 meter, lebar (B) 16,48 meter, dan tinggi 5,89 meter dengan estimasi biaya pembangunan sebesar Rp. 43.182.536.474,00.

Pengelolaan SDA Maritim Renewable dan Non-Renewable Agar Tidak Terjadi Tragedy of Commons

Tragedy of Commons atau “tragedi atas kepemilikan bersama” merupakan suatu kondisi ketidakbahagiaan kelompok manusia karena lahan yang biasanya mereka manfaatkan untuk hidup, dalam hal ini sumber daya alam, sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya. Dikatakan tragedy karena kesedihan atau ketidakbahagiaan kelompok manusia tersebut terjadi karena ulahnya sendiri dalam memanfaatkan SDA. Tragedy of commons berkaitan erat dengan carrying capacity sumberdaya alam, jumlah populasi, modal kapital, teknologi, serta pasar yang tidak lain merupakan faktor-faktor produksi.

 Carrying capacity berarti kemampuan sumberdaya alam dalam memenuhi kebutuhan manusia. Tragedy terjadi ketika carrying capacity SDA sudah mencapai titik maksimum dalam melayani kebutuhan manusia sehigga terjadi deminishing return. Jumlah populasi berarti jumlah manusia atau kelompok manusia yang ikut bersama-sama memanfaatkan SDA tersebut. Tragedy terjadi misalnya ketika jumlah populasi yang memanfaatkan SDA yang terbatas tersebut terlalu banyak sehingga hasil yang diperoleh tidak memenuhi kebutuhannya atau yang diharapkannya. Modal kapital adalah jumlah uang yang dikeluarkan sebagai biaya memanfaatkan SDA tersebut. Contoh tragedy akibat kapital terjadi ketika kapital yang dikeluarkan sangat besar namun hasil yang diperoleh jauh lebih kecil, atau dapat pula terjadi ketika kelompok yang memiliki kapital besar mengancam kelangsungan hidup kelompok bermodal kecil Teknologi merupakan cara/alat yang digunakan untuk memanfaatkan SDA tersebut. Contoh tragedy akibat teknologi terjadi ketika teknologi yang digunakan justru merusak atu menghancurkan lahan SDA tersebut sehingga biasanya menimbulkan dampak kerusakan lingkungan. Pasar merupakan tempat terjadinya transaksi. Tragedy terjadi ketika misalnya jumlah SDA yang ada di pasar sangat besar sehingga tidak memiliki nilai atau nilainya sangat kecil. Kecilnya harga ini membuat SDA yang dieksploitasi menjadi sia-sia.

 Oleh karena itu, pengelolaan SDA maritim berarti adalah pengelolaan dan pengendalian atas seluruh faktor-faktor produksi yang berpotensi menimbulkan tragedi.

Faktor Produksi

Bentuk Pengelolaan dan Pengendalian

Sumberdaya Alam Membuat aturan yang membatasi jumlah SDA yang diekstraksi
Populasi/perusahaan Menentukan jumlah peserta yang mengeksploitasi SDA
Kapital Menyediakan bantuan/subsidi kepada peserta yang memiliki modal sedikit untuk melakukan eksploitasi. Atau dapat juga dengan cara ekslusifitas, yaitu mengkhususkan lahan tersebut dekstraksi oleh kelompok-kelompok bermodal kecil
Teknologi Membuat aturan yang mengharuskan teknologi yang digunakan tidak merusak lingkungan. Atau menciptakan sumber-sumber alternatif sebagai pengganti SDA
Pasar Membuat kebijakan atas kestabilan harga

 Contoh eksplorasi SDA Maritim dengan pendekatan teori ekonomi mikro

Dari sisi demand atau permintaan, minyak bumi tidak hanya dibutuhkan oleh tumah tangga saja, namun juga oleh transportsai, industri, dan kegiatan komersial yang lain. Begitu pentingnya sumber energi minyk ini, membuat pelaku-pelaku ekonomi sangat bergantung terhadap keberadaan minyak bumi tersebut.  Ketergantungan dan kebutuhan minyak bumi ditangkap oleh negara-negara yang kaya akan sumber daya minyak bumi sebagai peluang untuk menciptakan supply dengan cara melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya minyak di wilayah terirorialnya. Persediaan serta permintaan SDA yang ada akan menciptakan pasar dimana harga jual beli minyak ditentukan. Berhubung minyak merupakan SDA yang non-renewable, maka pada suatu saat akan ada keadaan dimana terjadi kelangkaan energi yang menyebabkan harga minyak tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme supply and demand, namun ditentukan oleh persediaan stok yang ada (monopoli) yang menyebabkan harga minyak menjadi sangat tinggi. Berikut adalah diagram mekanisme supply and demand pada pasar sumber daya energi tak terbarukan.

 Peran pemerintah dalam mengendalikan pasar SDA maritim

 Pemerintah ikut serta dalam kegiatan perekonomian dalam rangka untuk menanggulangi kegagalan pasar. Kegagalan pasar terjadi ketika mekanisme harga yang terbentuk di pasar gagal dalam memperhitungkan biaya maupun manfaat dari SDA, baik untuk yang menyediakan maupun yang mengkonsumsinya. Bentuk-bentuk kegagalan pasar adalah seperti monopoli dan eksternalitas yang merugikan.

 Agar tidak terjadi kegagalan pasar, maka pemerintah melakukan intervensi terhadap mekanisme pasar SDA. Bentuk intervensi pemerintah bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Intervensi langsung adalah dengan menentukan harga minimum atau maksimum untuk harga SDA. Contohnya adalah penentuan harga jual Bahan Bakar Minyak. Intervensi tidak langsung adalah dengan cara memberikan subsidi atau menetapkan tarif pajak impor maupun ekspor SDA. Subsidi diberikan kepada pelaku-pelaku ekonomi yang baru berkembang untuk menekan biaya produksi agar mampu bersaing. Contohnya adalah pemberian subsidi harga bahan bakar minyak untuk para nelayan, sehingga para nelayan mampu melaut dengan biaya operasional yang tidak terlalu besar. Sementara itu, tarif pajak diberlakukan dengan tujuan untuk melindungi            produsen dalam negeri. Contohnya adalah penetapan tarif pajak impor produk-produk perikanan dengan tujuan agara konsumen dalam negeri membeli produk perikanan dalam negeri dengan harga yang lebih murah.

 Intervensi pemerintah selain tersebut diatas, dapat juga dilakukan intervensi pemerintah dalam rangka menciptakan iklim pasar domestik yang baik, yaitu dengan cara membuat peraturan-peraturan dan menciptakan hak ekslusifitas. Contoh intervensi pemerintah dalam kebijakan peraturan adalah menetapkan peraturan mengenai jumlah tangkapan maksimum yang diperbolehkan oleh suatu perusahaan penangkapan ikan. Tujuannya adalah untuk melindungi dan mengatur ketersediaan stok agar tidak terjadi kelangkaan ikan yang menyebabkan kegagalan pasar. Sedangkan contoh hak ekslusifitas adalah dengan cara menetapkan Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia (WPPI) dan Jalur Penangkapan Ikan (JPI). WPPI dan JPI pada prinsipnya menetapkan daerah-daerah penangkapan ikan yang diperbolehkan menurut ukuran kapal dan alat tangkap tertentu. Sehingga kapal-kapal berskala industri tidak melakukan penangkapan di jalur penagkapan untuk  nelayan kecil. Tujuannya adalah agar ketersediaan ikan untuk masyarakat kecil selalu tersedia dengan harga yang wajar.

Sektor Maritim Yang Paling Cepat Membentuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Ini adalah rangkuman paper yang berisi 13 halaman. Untuk lebih lengkapnya anda bisa unduh di SEKTOR MARITIM YANG PALING CEPAT MEMBENTUK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

Sektor tertier atau disebut service based sactor merupakan sektor ekonomi dimana output yang dihasilkan merupakan brang yang dibutuhkan oleh masyarakat (end product). Produk pada sektor tertier tiak memerlukan pemrosesan lagi, sehingga ia dapat langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sektor ekonomi maritim yang termasuk dalam sektor tertier adalah pariwisata bahari, jasa angkutan laut, dan jasa perdagangan.

Alasan yang menyatakan bahwa sektor tertier dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, adalah: efek sumberdaya alam, value added, eksternalitas, dan pasar. Pada efek sumberdaya alam, sektor tertier tidak terkendala stock seperti halnya eksploitasi sektor primer (renewable dan non-renewable resources), sehingga sektor ini tidak akan memunculkan “kutukan sumber daya alam”, maupun “tragedi kepemilikan bersama” yang berujung kepada konflik sosial dan politik di dalam negeri. Sektor tertier merupakan sektor yang memiliki value added tertinggi. Value added merupakan parameter pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dari sisi eksternalitas, sektor tertier membentuk eksternalitas positif yaitu penyerapan tenaga kerja yang banyak, iklim ekonomi yang mandiri, dan pembentukan pasar-pasar baru. Dari sisi pasar, sektor tertier dapat membentuk banyak pasar, mempertinggi nilai output tiap unit, dan apabila suatu output memiliki daya saing, maka jumlah transaksional output tersebut akan semakin besar.

Agar ekonomi sektor tertier bidang maritim dapat lebih cepat tumbuh, maka kualitas sumberdaya manusia bidang maritim harus ditingkatkan sehingga mereka mampu menggunakan dan memanfaatkan faktor produksi teknologi utnuk mengolah material atau sumber daya menjadi bernilai tambah baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Meningkatnya kualitas dan kuantitas nilai tambah suatu output akan menciptakan iklim investasi yang lebih baik. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, maka negara harus membangun dan mempersiapkan sekolah-sekolah bidang kemaritiman di berbagai level pendidikan, membuat program beasiswa untuk belajar teknologi maritim di negara yang lebih maju, dan memfasilitasi penelitian-penelitian bidang kemaritiman, dan penyediaan fasilitas kredit untuk usaha bidang maritim. Iklim politik dan sosial dalam negeri yang kondusif dapat membuat kenyamanan para sumberdaya manusia maritim yang unggul untuk menciptakan lapangan-lapangan kerja baru dan membangun negaranya secara mandiri.

Untuk paper versi lengkapnya anda bisa unduh di SEKTOR MARITIM YANG PALING CEPAT MEMBENTUK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

Ujicoba Membuat Alat Tangkap Ikan

DSCF8869

Hallo kawan-kawan… Maafkan saya karena sudah lama tidak ketemu disini. Maksudnya saya sudah agak lama gak posting artikel di blog ini. Bukan karena sengaja, ini adalah karena kesibukan saya yang lumayan rada menantang nih, sehingga menyita waktu banyak. Saya agak lama gak posting artikel karena sedang menjalankan proyek baru dari sekolah yaitu membuat alat tangkap ikan.

Ya, saya bersama rekan-rekan mendapat tantangan untuk menghidupkan Teaching Factory di jurusan Nautika Perikanan Laut (NPL). Sebenarnya tantangannya adalah bagaimana agar jurusan NPL dapat produktif menghasilkan ikan hasil tangkapan ketika kegiatan praktek siswa dilakukan. Akan tetapi kami bersama tim menambah tantangan itu sendiri sehingga menjadi lebih seru, dan berharap produksi jurusan NPL itu bukan hanya produksi hasil tangkapan saja, melainkan produksi alat tangkap ikan.

Akhirnya, setelah melalui argumentasi yang lumayan melelahkan dengan para pemangku-pemangku jabatan dan tentunya para atasan, maka disetujuilah bahwa tim NPL membuat alat tangkap yang original. Arti original adalah bahwa alat tangkap itu di desain sendiri, dibuat sendiri, dan untuk selanjutnya digunakan untuk memproduksi peanngkapan ikan.

Project dimulai di pertengahan bulan Maret 2016 ketika saya membuat suatu desain alat tangkap ikan. Alat tangkap ikan yang saya buatkan desainnya adalah tergolong dalam entangled net atau jaring puntal. Alat ini terbuat dari bahan nylon dengan ukuran mata jaring 4cm stretched. Setelah desain dibuat, selanjutnya proposal kegiatan dubuat sebagai syarat agar dana bisa cair. Alhamdulillah dana cair, tentu saja dengan banyak argumentasi baik kepada atasan juga kepada rekan-rekan sendiri.

Pada awal bulan April 2016, bertepatan dengan ulang tahun saya, Setelah bahan dibeli, kami akhirnya membuat jaring tersebut. Jaring dibuat pada awalnya tentu berdasarkan desain yang telah dibuat sebelumnya. Dengan bantuan pengerjaan dari para siswa, yang tentu saja ini diharuskan ada keterlibatan siswa karena menyangkut teaching factory, jaring akhirnya selesai dalm waktu dua minggu.  Jaring tersebut telah menghabiskan 420 buah pelampung, 10 pcs jaring nylon, serta lebih dari 300 meter tali berdiameter 3mm. Alhamdulillah..Kini waktunya uji coba..

Jpeg

Ujicoba dimulai di pertengahan bulan April 2016. kami melakukan 3 hari operasi penangkapan dengan 9 kali setting penangkapan. Hasilnya?? Alhamdulillah.. Secara desain jaring terbuka secara sempurna, artinya jaring tidak mengalami kendala pada saat dioperasikan. Jaring terbentang dengan sempurna dan sesuai dengan harapan. Dari itu saja saya sangat bersyukur sekali karena ilmu saya terbukti dapat diaplikasikan. Saya dulu sekolah di Sekolah Tinggi Perikanan Jurusan Teknologi Penangkapan Ikan. Salah satau pelajarannya adlah Bahan ALat Tangkap, dan baru kali inilah saya membuktikan sendiri ilmu yang saya miliki diaplikasikan dengan membuat desain sendiri dan dioperasikan.

Secara hasil, jaring yang kami buat cukup menggembirakan. Berbagai jenis ikan pelagis seperti tongkol, selar, kembung, hingga teri berhsail kami tangkap. Dengan demikian, terbukti lagi bahwa jaring ini adalah jaring yang lumayan efektif untuk menangkap berbagai jenis ikan. Jaring tersebut kini merupakan jarng andalan saya untuk melakukan operasi peanngkapan. Sebagaimana sekolah SMK punya mobil merk ESEMKA, maka saya menamakan jaring tersebut “Jaring S.U.K.A”, yang merupakan singkatan dari Sekolah Usaha Perikanan Kotaagung. Saya berharap jaring ini bisa menjadi jaring acuan untuk proyek pembelajaran para siswa bidang Nautika Perikanan Laut, dan mudah-mudahan saja bisa memberikan kontribusi bagi para nelayan sekitar utnuk menggunakannya.

Jpeg

bagi rekan-rekan yang ingin mengetahui lebih detail mengenai desain jaring S.U.K.A., atau juga ingin dibantu untuk dibuatkan jaring tersebut, ddengan senang hati saya akan membantu. Silahkan inbox di facebook saya atau twitter saya atau Google plus saya Alamat facebook saya bisa dilihat di “Tentang Saya

MELAKUKAN BONGKAR MUAT ALAT PENANGKAP IKAN DARI DAN KE KAPAL

Bongkar muat adalah kegiatan menaikkan atau menurunkan barang dari dan atau ke kapal (H.I. Lavery, 1990). Sedangkan menurut Undang-undang RI No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan, alat penangkap ikan adalah sarana dan perlengkapan atau benda-benda lainnya yang dipergunakan untuk menangkap ikan (Irawan Muripto dan Achmad S, 2011). Dengan demikian, bongkar muat alat penangkap ikan adalah kegiatan menaikkan atau menurunkan sarana dan perlengkapan atau benda lainnya untuk menangkap ikan dari dan atau ke kapal.

Pelaksanaan bongkar muat alat penangkap ikan tidak boleh dilakukan sembarangan. Pelaksanaan bongkar muat ini harus memperhatikan beberapa hal sehingga alat tangkap yang akan ditempatkan diatas kapal dapat tersusun rapi dan dapat dengan mudah digunakan. Hal-hal yang harus diperhatikan tersebut adalah:

1. Tempat

Dimanakah alat tangkap ini akan ditempatkan diatas kapal? Di bagian buritan, haluan, atau samping kapal. Biasanya penentuan tempat alat tangkap ini berhubungan erat dengan proses operasi penangkapan ikan. Contoh: untuk alat tangkap stern trawl, maka jaring ditempatkan di bagian buritan atau belakang kapal.Untuk alat tangkap purse seine, maka jaring ditempatkan di bagian samping kanan atau kiri kapal. Penempatan alat tangkap ikan ini harus memperhitungkan efektifitas dan efisiensi pada sat setting.

2. Keadaan

Perlu untuk diperhatikan bahwa tempat untuk alat tangkap ikan di atas kapal harus berada dalam keadaan bersih. Tempat alat tangkap ikan di atas kapal harus terbebas dari benda-benda yang dapat merusak alat tangkap tersebut. Tempat yang kotor baik oleh genangan minyak, bangkai-bangkai ikan atau benda-benda tajam seperti paku, kayu, dsb, akan menyebabkan alat tangkap mengalami kerusakan. Selain itu tempat yang kotor akan mempersulit proses penurunan alat tangkap ikan pada saat operasi.

3. Tahapan

Penempatan alat tangkap ikan harus memperhatikan tahapan pelaksanaan setting dan hauling pada saat operasi penangkapan ikan. Ini adalah demi terlaksananya proses operasi penangkapan yang efektif dan efisien. Sebagai contoh, untuk alat tangkap gillnet yang akan ditempatkan di bagian samping kapal, maka tahapan pemuatan alat tangkap ikan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tempatkan satu orang berada di bagian samping depan kapal dan satu orang di bagian samping belakang kapal, dan satu orang lagi diantara keduanya.
  2. Orang yang berada di samping bagian depan kapal memegang ujung tali ris bagian atas, sedangkan orang yang berada di samping bagian belakang kapal memegang ujung tali ris bagian bawah. Sementara itu, orang yang berada diantara keduanya memegang badan jaring bagian ujung.
  3. Setelah ketiganya siap, tarik tali ris atas, bagian tengah jaring, dan bagian tali ris bawah secara bersama-sama.
  4. Hasil tarikan tali ris atas dan tali ris bawah yang ada di atas kapal harus membentuk lingkaran yang sesuai dengan arah pintalan tali ris. Hal ini bertujuan agar tali ris tidak kusut.
  5. Badan jaring yang ditarik ke atas kapal harus ditata sedemikan lupa agar tidak tumpang tindih. Ini adalah untuk memastikan alat tangkap terbentang sempurna ketika dijatuhkan kedalam air.

Petunjuk Praktis Bagi Para Nelayan (e-book)

Saya yakin bahwa para nelayan sudah secara natural memahami tentang bagaimana memperbaiki jaring, membuat alat tangkap ikan, atau juga menghitung kebutuhan bahan pembuatan alat tangkap ikan. tanpa mereka membaca buku pun, mereka sudah dapat memahami proses ini di luar kepala. Akan tetapi jika mereka diminta untuk membukukan atau menulis dalam kertas mengenai kemampuan mereka dalam kegiatan ini, mereka akan lebih banyak tidak mampu untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Sehingga kemampuan mereka tidak dapat terbagi secara meluas kepada yang lain.

Sebetulnya apa yang mereka lakukan sudah dapat dibukukan. Dengan kata lain, dari sisi ilmiah apa yang mereka lakukan dapat dijelaskan. Namun buku untuk panduan merancang alat tangkap ini sangat sulit ditemukan. Bahkan jika kita berkunjung ke toko buku terbesar pun, seperti Gramedia, buku-buku semacam ini sangat sulit utuk ditemukan.

Kini saya berbagi mengenai sebuah buku berbentuk e-book berjudul (Petunjuk Praktis bagi Nelayan). Buku ini diterbitkan oleh Balai Pengembangan Penangkapan Ikan pada tahun 1991. Dan merupakan terjemahan dari buku yang diterbitkan oleh FAO. Buku ini berisi mengenai langkah-langkah pembuatan alat tangkap berbahan jaring. Selain itu dalam buku ini dijelaskan mengenai cara-cara memotong jaring, rumus-rumus cutting plan, pola cutting plan, dsb. Saya berbagi buku ini karena saya meyakini bahwa saat ini bukan hanya para nelayan saja yang membugtuhkan informasi mengenai pembuatan alat tangkap karing, akan tetapi orang-orang yang terlibat di dunia perikanan pun akan membutuhkan. Misalnya saja para guru pengajar perikanan, para murid atau mahasiswa perikanan, atau juga mugkin pengusaha yang ingin berkecimpung di bisnis pembuatan alat tangkap ikan.

Saya merasakan betapa susahnya saya mencari literatur mengenai buku-buku penangkapan ikan. Semoga e-book yang saya bagi ini dapat bermanfaat bagi anda semua. Silahkan klik alamat disini untuk memperoleh buku “Panduan Untuk Para Nelayan” dari BPPI Semarang. Untuk panduan download, anda bisa lihat di halaman download.

Kebutuhan Peralatan dan Bahan Untuk Memperbaiki Jaring Ikan

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap jaring yang digunakan untuk operasi penangkapan ikan akan mendapatkan kerusakan. Kerusakan ini bisa berbentuk robeknya badan jaring atau tali ris yang putus. Alat tangkap yang mengalami kerusakan harus segera diperbaiki agar dapat dengan cepat dapat dioperasikan kembali. Untuk itu, maka diatas kapal harus disediakan peralatan dan bahan-bahan untuk memperbaiki jaring yang rusak.

A. Peralatan
Peralatan yang harus selalu ada di atas kapal untuk memperbaiki jaring yang rusak adalah:
1. Coban
Coban merupakan alat yang terbuat dari plastik atau bambu yang berfungsi untuk menyulam jaring. Coban memiliki banyak ukuran, dari yang kecil hingga yang besar. Semakin besar ukuran coban, maka kapasitas muatan benang pada coban tersebut akan semakin besar. Ukuran coban yang disiapkan di atas kapal disesuaikan dengan jaring digunakan untuk operasi penangkapan, dan ukuran benang yang akan dipergunakan.

coban2

coban

2. Seleran
Seleran merupakan alat yang terbuat dari kayu atau bambu yang berfungsi sebagai penentu ukuran mata jaring, dimana ukuran lebar seleran adalah ukuran mata jaring tersebut. Penggunaan alat ini berbarengan dengan penggunaan coban. Biasanya para nelayan yang sudah ahli dalam perbaikan jaring jarang menggunakan seleran ini untuk memperbaiki jaring. Namun sebaiknya, untuk akurasi ukuran mata jaring, maka seleran harus dipakai pada saat memperbaiki atau membuat jaring.

seleran

3. Alat Potong Tali
Alat potong yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki jaring bisa berupa gunting, pisau, ataupun cutter. Untuk jaring yang terbuat dari PE Monofilament, maka dapat digunakan tang potong khusus atau yang disebut dengan line cutter.

line cutter

B. Bahan
Bahan-bahan yang harus dipersiapkan untuk memperbaiki jaring yang rusak adalah:

1. Benang jaring
Ini merupakan bahan yang utama, tanpa benang maka perbaikan jaring tidak mungkin dapat dilakukan. Bahan benang yang dipersiapkan di atas kapal harus memiliki jenis dan ukuran yang sama dengan jaring yang digunakan. Jika badan jaring tersebut terbuat dari bahan PA (Polyamide) berdiameter 2 mm, maka benang yang harus dipersiapkan pun harus dari bahan PA berdiameter 2 mm. Penggunaan benang dengan bahan dan ukuran yang berbeda untuk menambal jaring yang rusak akan berakibat kepada tidak sempurnanya alat tangkap tersebut pada saat dioperasika, bahkan dapat membuat jaring tersebut akan mengalami kerusakan yang lebih besar.

2. Tali
Tali dipersiapkan untuk memperbaiki atau mengganti tali ris jaring apabila mengalami kerusakan. Sama halnya dengan benang jaring, maka bahan tali harus sama dengan bahan tali ris pada alat tangkap tersebut.

3. Pelampung dan Pemberat
Tidak menutup kemungkinan bahwa jaring mengalamikerusakan yang megakibatkan lepasnya pelampung atau pemberat dari tali pelampung. Namun biasanya kerusakan pelampung dan pemberat pada saat operasi penangkapan diatas kapal sangat jarang terjadi. Penggantian secara pelampung atau pemberat secara keseluruhanbiasanya dilakukan tidak diatas kapal, melainkan di darat ketika kapal tidak sedang melaksanakan operasi penangkapan.

Transhipment: Pengertian, Keuntungan dan Kerugian

Di awal tahun 2015 ini dunia perikanan Indonesia dipopulerkan oleh kata “transhipment”. Ya kata ini menjadi isu yang hangat di industri perikanan setelah menteri KKP RI, Susi Pudjiastuti membuat kebijakan larangan transhipment di industri penangkapan ikan. Lalu apa sebenarnya transhipment itu? dan apa sebenarnya untung ruginya sehingga Menteri KKP menerapkan kebijakan ini?

Secara sederhana transhipment adalah proses pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal lainnya yang dilakukan di tengah laut. Dalam hal operasi penangkapan ikan, transhipment berarti proses pemindahan muatan ikan dari kapal-kapal penangkap ikan ke kapal pengumpul (collecting ship). Kapal collecting ini selanjutnya akan membawa seluruh ikan yang dikumpulkannya ke darat untuk diproses lebih lanjut.

Keuntungan dan Kerugian

Dari sisi bisnis, transhipment sangatlah menguntungkan. Melalui transhipment, kapal penangkap tidak perlu lagi kembali ke pangkalan setelah muatan ikan dalam palkah penuh. Ia tinggal menunggu kapal pengumpul ( collecting ship) untuk mengambil ikan hasil tangkapan, dan pada saat itu pula kapal pengumpul menyuplai bahan bakar, bahan makanan, serta kebutuhan lainnya kepada kapal penangkap ikan tersebut. Dari pola sepenrti diatas, maka jelas bahwa transhipment dapat mengefektifkan operasi penangkapan dan mengefisiensikan biaya operasional penangkapan.

Jika tanpa transhipment, maka perbandingan ongkos bahan bakar dengan muatan hasil tangkapan adalah 1:1. Artinya bahwa ketika kapal kembali ke pangkalan, maka kapal tersebut hanya dapat membawa satu paket muatan, yaitu sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Sementara melalui transhipment, maka perbandingannya bisa 1:2, 1:3, atau bahkan mungkin lebih jika musim ikan sedang berlangsung. Ini artinya bahwa ketika kapal kembali ke pangkalan, maka sebetulnya dia sudah melakukan 2 hingga 3 kali pendaratan muatan ikan melalui bantuan collecting ship. Dapat dibayangkan, berapa biaya bahan bakar yang dapat dihemat melalui metode transhipment ini.

Selanjutnya dari sisi operasi penangkapan, maka transhipment memungkinkan kapal untuk tidak mengalami kehilangan kesempatan untuk menguasai fishing ground. Misalnya saja pada saat musim ikan tiba, atau kapal mendapatkan fishing ground yang berlimpah, ketika muatan kapal sudah penuh maka kapal tidak perlu meninggalkan tempat berpotensi tersebut. Jika ia kembali ke pangkalan, maka bisa jadi fishing ground ini akan diambil kapal lain.

Lalu mengapa Mentri KKP .melarang transhipment? Perlu dicermati beberapa kerugian berikut ini :

1. Rentan pencurian (Illegal fishing). Karena kapal collecting mengumpulkan muatan ikan hasil tangkap dari satu atau beberapa kapal ikan, bisa saja kapal pengumpul tersebut tidak mendaratkan ikannya di Indonesia. Ia mungkin akan langsung menuju negara lain untuk mendaratkan ikannya. Hal ini menyebabkan negara mengalami kerugian atas devisa perikanan dengan nilai yang sangat signifikan.

2. Timbul monopoli fishing ground. Sudah sangat jelas, kapal penangkap ikan yang mendapatkan fishing ground yang baik tidak akan meninggalkan tempat ini hingga ikannya habis ditangkap. Ini berarti bahwa kapal tersebut memonopoli fishing ground, dimana kapal-kapal lain terutama nelayan kecil tidak kebagian ikan.

3. Mempercepat over fishing. Over fishing adalah kelebihan daya tangkap suatu fishing ground dibandingkan dengan kemampuan ikan-ikan yang ada di daerah tersebut untuk melakukan regenerasi. Efek yang lebih jauh adalah hilangnya sumber daya ikan di daerah tersebut, seperti yang dialami oleh Laut Jawa saat ini. Jika tidak ada transhipment, maka ketika kapal penangkap ikan meninggalkan daerah tersebut karena palkah sudah penuh dengan ikan, maka ikan-ikan yang tersisa akan memiliki kesempatan untuk melakukan regenerasi. Dimana selanjutnya regenerasi ini akan menjadi sumber ikan potensial di masa mendatang.

Itulah sebab-sebab transhipment ikan di larang. Sudah dipastikan, pengusaha akan melakukan protes atas kebijakan ini karena tanpa transhipment berarti kapal penangkap akan menambah biaya operasional. Namun dari kacamata pemerintah, atas dasar ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya perikanan yang berkesinambungan, serta meminimalisir kehilangan deviea negara, maka kebijakan ini perlu untuk dilakukan.

Perbandingan Daiwa Crossfire Z2iB 2500 dan Shimano Alivio 2500

Bagi pendengar umum mungkin judul ini agak asing dan tidak berguna, tapi bagi pemancing mungkin ini dapat bermanfaat. Untuk diketahui bahwa artikel ini merupakan artikel tentang perbandingan dua buah reel mancing untuk para pemula seperti saya hee..he… namun sebelum saya lanjut membandingkannya, barangkali saya perlu memperlihatkan penampakan kedua reel tersebut.

Ok, ini adalah penampakan Reel Daiwa Crossfire 2iB.

daiwa

Dan ini adalah penampakan Reel Shimano Alivio 2500.

alivio

Anda dapat membeli berbagai macam reel dengan berbagai pilihan harga menarik di toko online Lazada.co.id.

Dari sisi harga, kedua reel ini tidak jauh beda, ada di kisaran Rp. 300.000 – Rp. 400.000. Reel ini saya rasa adalah reel standar yang bisa digunakan untuk para pemancing pemula.

Soal design, menurut saya Daiwa memiliki design yang lebih menawan. Warna merah di spool dan ujung reel memberikan kesan mewah pada reel ini. Ditambah lagi dengan grip yang mantap untuk dipegang, membuat Daiwa Crossfire seperti reel yang berharga mahal. Reel Shimano memiliki design yang lebih sederhana dan warna yang netral tidak terlalu mencolok.

Untuk putaran reel, menurut saya Shimano lebih halus dibandingkan dengan Daiwa. Reel Shimano seperti tidak ada hambatan sewaktu pegangan diputar untuk menggulung tali, sementara Daiwa terasa agak kasar. Jadi bagi yang ngin merasakan ringannya menggulung tali, saya rasa Shimano bisa menjadi pilihan.

Ketika saya mendapatkan strike ikan gurame berukuran 3 kg, reel Daiwa bekerja dengan sangat baik. Ketika saya menggunakan monofilament nomor 5, reel ini bekerja tanpa hambatan, danpegangan tidak takut menjadi patah karena terbuat dari bahan besi. Untuk itu reel Daiwa sangat cocok digunakan untuk memancing ikan-ikan berukuran besar . Sementara itu reel Shimano kurasa lebihcocok untuk target ikan-ikan kecil berukuran 1 kg ke bawah, karena design yang ramping saya takut jika ikan besar dapat membuat sambungan reel ke joran patah.

Demikianlah perbandingan dua reel untuk para pemancing pemula. Perbandingan ini adalah didasarkan atas apa yang telah saya alami di arena mancing. Bagi saya, saya lebih menyukai Daiwa Crossfire untuk turnamen ikan-ikan besar, baik ikan mas atau gurame. Sedangkan Shimano Alivio saya gunakan untuk memancing biasa di waktu senggang atau untuk sekedar latihan. Bagaimana menurut anda?

Tips Memancing Agar Mendapatkan Banyak Ikan

Dalam artikel ini saya akan mengungkapkan 3 tips sederhana untuk menangkap ikan lebih banyak pada saat memancing. Tips ini sebenarnya cukup sederhana namun mereka sangat efektif. Tips sederhana ini telah saya praktekkan beberapa kali pada saat memancing ikan baik air tawar maupun air laut. Secara…Sebagai guru perikanan, apalgi jurusan penangkapan ikan, saya memiliki hobi ini he..he…Jadi cobalah salah satu (atau semua) dari mereka, dan mudah-mudahan anda menjadi pemancing yang jauh lebih sukses. Pada intinya, menurut saya, memancing sukses itu tidak sekedar karena keberuntungan saja. Perlu ada strategi dan teknik memancing yang tepat agar sukses mendapatkan ikan. Jika strategi dan teknik tersebut dipahami dengan benar, ditambah dengan pengetahuan akan tingkah laku ikan target, maka dapat dipastikan memancing akan akan memperoleh hasil yang bagus, dan kepuasan serta sensasi memancing akan terasa luar biasa.

Pastikan alat tangkap dalam performa terbaik – Jika Anda ingin menangkap ikan lebih banyak, pastikan agar alat pancing berada dalam performa terbaik. Bersihkan dahulu joran dan reel sebelum dipakai, dan pastikan bahwa Anda selalu menggunakan tali pancing yang sesuai dengan ikan target, bahkan kalau perlu anda harus mengganti tali pancing anda di setiap event memancing. Jika tali pancing anda melintir saatnya anda harus ganti tali pancing. Jika tidak ingin mengganti maka anda harus bentangkan tali tersebut dan gulung ulang. Ini dapat menghilangkan tali memelintir. Akan tetapi saya sarankan untuk diganti, sebab tali yang telah melintir, apalagi setelah digunakan untuk menangkap ikan besar menandakan bahwa breaking strength tali tersebut berkurang. Efeknya adalah bahwa ia akan mudah putus.

Untuk reel, pastikan bahwa reel di setting sesuai dengan ikan target terbesar. Bersihkan dan pastikan bahwa handle reel dan gigi reel dapat bekerja dengan lancar tanpa ada hambatan. Membersihkan reel pancing Anda idealnya dilakukan secara rutin, bahkan seharusnya reel dibersihkan setelah event memancing selesai.

Yang terakhir adalah mata pancing. Patikan mata pancing adalah mata pancing yang baru dan sesuai dengan mulut ikan target. Perhatikan simpul mata pancing! Pastikan simpul kuat dan alur mata pancing ketika dilempar tidak mengalami masalah.

     Gunakan Alam Untuk Keuntungan Anda – Banyak pemancing tidak menyadari bahwa alam, atau lebih khusus cuaca dan tingkah laku ikan memiliki dampak yang luar biasa pada perilaku ikan. Semakin Anda memahami bagaimana cuaca dan tingkah laku ikan maka  semakin banyak ikan yang dapat anda tangkap. Misalnya, apakah Anda tahu kapan waktu ikan makan, apakah ikan target adalah ikan carnivora (pemakan daging), herbivora (pemakan tumbuhan), atau omnivora (pemakan keduanya). Mulailah menggunakan alam untuk keuntungan memancing Anda.

Demikianlah tips sederhana memancing agar memperoleh lebih banyak ikan. Tips ini saya rasa bisa dilakukan di berbagai tempat memancing, baik kolam air tawar, alam bebas, ataupun di laut. Selamat memancing dan semoga sukses.