Category Archives: perikanan

MACAM-MACAM PERILAKU IKAN MAKAN BERDASARKAN SUMBER MAKANANNYA

Views: 4

Pernah bertanya-tanya bagaimana ikan di laut dalam mencari makan di kegelapan yang gelap gulita? Ini adalah pertanyaan yang membingungkan para ahli biologi kelautan selama beberapa dekade. Laut dalam, hamparan air luas yang berada ribuan kaki di bawah permukaan, merupakan lingkungan yang penuh tantangan. Cuacanya dingin, tekanannya tinggi, dan mungkin yang paling menonjol adalah gelap. Namun, sejumlah besar spesies ikan tidak hanya bertahan hidup tetapi juga berkembang dalam kondisi ini. Jadi, bagaimana mereka melakukannya? Jawabannya sama beragamnya dengan ikan itu sendiri. Dari tarian anglerfish yang rumit hingga pengejaran ikan todak dengan kecepatan tinggi, setiap spesies telah mengembangkan perilaku makan yang unik dan menarik. Beberapa menggunakan bioluminesensi, yang lain menggunakan organ sensorik yang sangat sensitif, sementara yang lain masih berevolusi menjadi oportunis ulung. Tapi kami hanya menggores permukaannya saja. Selami bersama kami ke dalam dunia misterius perilaku memberi makan ikan. Berikut adalah macam-macam perilaku ikan makan berdasarkan sumber makanannya.

Pemangsa laut Dalam

Bayangkan menjadi predator di lingkungan yang jarak pandangnya hampir nol. Bagaimana cara Anda menemukan mangsa?” Selamat datang di dunia predator laut dalam, di mana normalnya adalah beradaptasi atau binasa. Mari menyelam ke kedalaman laut dan bertemu dengan beberapa pemburu luar biasa ini. Ambil contoh hiu. Hiu dilengkapi dengan adaptasi menakjubkan yang dikenal sebagai electroreception. Hal ini memungkinkan mereka mendeteksi medan listrik yang dihasilkan mangsanya. Bayangkan memiliki radar internal yang memperingatkan Anda setiap kali makanan Anda berada di dekat Anda. Itulah rasanya menjadi hiu. Ini adalah dunia di mana bahkan detak jantung yang paling lemah sekalipun tidak dapat luput dari perhatian.

Selain hiu, kita juga menemukan predator menarik lainnya, yaitu anglerfish. Makhluk ini telah membawa seni berburu ke tingkat yang baru. Anglerfish menggunakan bentuk bioluminesensi unik untuk memikat mangsanya. Ia memiliki tulang punggung khusus yang menonjol di atas mulutnya seperti alat pancing, dengan ujung umpan bercahaya. Di lautan gelap yang dalam, cahaya ini sangat menarik bagi makhluk lain. Bayangkan bisa menerangi makan malam Anda dengan lampu depan alami. Itulah realitas anglerfish.

Perilaku makan predator ini merupakan bukti kondisi ekstrim lingkungan mereka. Mereka telah berevolusi menjadi pemburu yang sangat efisien, menggunakan peralatan yang diberikan alam kepada mereka dengan cara yang luar biasa. Adaptasi mereka bukan hanya tentang kelangsungan hidup; mereka tentang berkembang di dunia di mana Anda tidak selalu bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Dari elektroresepsi hingga bioluminesensi, ikan predator telah mengembangkan berbagai strategi untuk menemukan dan menangkap mangsanya. Adaptasi ini tidak hanya memberi mereka keuntungan untuk bertahan hidup tetapi juga memungkinkan mereka untuk mendominasi wilayahnya masing-masing di laut dalam. Para pemburu laut dalam ini telah mengembangkan teknik menarik untuk memastikan mereka tidak pernah melewatkan waktu makan. Saat kami menggali lebih dalam misteri lautan, kami terus menemukan betapa inovatifnya alam dalam mengamankan makanan berikutnya.

Raksasa Samudera

Beberapa makhluk terbesar di lautan bukanlah pemburu, melainkan penyaring makanan.” Bayangkan menjadi ikan terbesar di lautan, namun Anda tidak bergantung pada makhluk besar lainnya, namun pada organisme yang berukuran hampir mikroskopis. Hal ini merupakan kenyataan yang dialami hiu paus dan hiu penjemur, yang telah berevolusi menjadi hewan penyaring (filter feeder) yang unggul.

Hiu paus, ikan terbesar di lautan, dapat tumbuh hingga dua belas meter panjangnya – kira-kira sama dengan panjang bus sekolah. Namun makhluk raksasa ini kebanyakan memakan plankton, organisme kecil yang hanyut di arus laut. Mereka berenang dengan mulut besar terbuka lebar, menyaring air untuk makanan mikroskopis mereka.

Sekarang mari kita alihkan perhatian kita pada hiu penjemur. Ini adalah spesies ikan terbesar kedua, panjangnya mencapai sepuluh meter. Hiu penjemur mempunyai strategi makan yang sama dengan hiu paus. Mereka juga membuka mulut saat berenang, menyaring air, dan mengonsumsi zooplankton, ikan kecil, dan cumi-cumi dalam jumlah besar.

Namun bagaimana cara kerja filter feeding ini? Baik hiu paus maupun hiu penjemur memiliki adaptasi unik: penyapu insang. Ini adalah struktur tipis seperti sisir di insangnya yang berfungsi seperti saringan. Saat hiu ini berenang dengan mulut terbuka, air mengalir masuk, dan penyapu insang menyaring partikel makanan. Air yang disaring kemudian keluar melalui insangnya, sementara makanannya ditelan. Yang menarik adalah banyaknya volume air yang dapat diproses oleh raksasa ini. Diperkirakan hiu penjemur dapat menyaring air sebesar kolam renang ukuran Olimpiade hanya dalam waktu satu jam. Itu banyak air untuk banyak makanan kecil!. Strategi pemberian makan ini memungkinkan raksasa ini berkembang biak di daerah yang kaya akan plankton, itulah sebabnya mereka sering terlihat di daerah pesisir selama mekarnya plankton. Meskipun ukurannya menakutkan, hiu paus dan hiu penjemur tidak menimbulkan ancaman bagi manusia. Mereka adalah makhluk yang bergerak lambat dan lembut, sepenuhnya fokus pada pencarian tanpa akhir untuk mendapatkan makanan mikroskopis berikutnya. Raksasa yang lembut ini, meskipun ukurannya besar, hidup di kehidupan laut terkecil.

Ikan Pemakan Bangkai

Pemakan bangkai punya reputasi buruk, tapi di laut, mereka sangat penting dalam menjaga kebersihan lingkungan. Bayangkan dunia tanpa pengelolaan sampah. Bukan ide yang menyenangkan, bukan? Di laut, ikan pemakan bangkai memainkan peran ini, yaitu menjaga ekosistem laut tetap seimbang dan sehat.

Mari selami dunia menakjubkan makhluk air yang kurang dihargai ini, dimulai dengan hagfish. Hagfish, sering disebut sebagai ‘slime eel’, adalah penghuni laut dalam dengan pola makan yang tidak biasa. Mereka memakan sisa-sisa orang yang sudah meninggal, entah itu bangkai ikan paus yang tenggelam ke dasar laut atau sisa-sisa makanan predator. Mereka menggali ke dalam tubuh orang yang meninggal, memakan dari dalam ke luar. Ini bukan pekerjaan yang glamor, tapi ini pekerjaan yang penting. Dengan mengonsumsi sisa-sisa ini, hagfish membantu mendaur ulang nutrisi kembali ke ekosistem, berkontribusi terhadap keseimbangan kehidupan di bawah laut yang kompleks dan rumit.

Sekarang, mari kita beralih ke ikan lele, anggota kru pembersih laut terkemuka lainnya. Ikan yang hidup di dasar laut ini adalah pemakan bangkai omnivora, memakan beragam makanan yang mencakup alga, tumbuhan, serangga, dan hewan mati. Ikan lele menggunakan sungutnya, atau ‘kumisnya’, untuk mencari makanan di perairan keruh, sering kali mencari makan di malam hari. Mereka memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem sungai dan danau dengan mengonsumsi tanaman berlebih dan menguraikan materi hewani. Penting untuk dicatat bahwa pemakan bangkai bukan sekadar ‘pembuang sampah’. Mereka adalah orang-orang yang mampu bertahan hidup, beradaptasi untuk berkembang di dunia yang sulit mendapatkan makanan. Perilaku makan mereka merupakan bukti kecerdikan alam dalam mengubah masalah – sampah – menjadi solusi – daur ulang makanan dan nutrisi. Jadi, lain kali Anda memikirkan tentang pemakan bangkai, jangan pikirkan faktor ‘menjijikkannya’, tapi pikirkan peran penting yang mereka mainkan di lautan kita. Pemakan bangkai, yang sering diabaikan, adalah pahlawan dunia kelautan tanpa tanda jasa.

Lautan adalah dunia yang penuh keajaiban, dengan penghuninya yang menunjukkan berbagai perilaku makan. Dari tarian ikan predator yang mematikan, hingga kebiasaan herbivora yang merumput dengan tenang, lautan adalah teater kelangsungan hidup, yang masing-masing bertindak sama menariknya dengan yang terakhir. Ini adalah dunia di mana raksasa seperti paus biru memakan krill kecil dalam jumlah banyak, menggunakan balin mereka sebagai filter dalam salah satu tontonan alam yang paling mengesankan untuk mencari makan.

Lalu ada pula pahlawan tanpa tanda jasa, para pemakan bangkai yang membersihkan dasar laut, mengubah sampah menjadi rezeki. Setiap makhluk, dan setiap perilaku, memainkan peran penting dalam keseimbangan ekosistem laut.

Semakin kita memahami perilaku-perilaku ini, semakin siap kita untuk melindungi dan melestarikan habitat-habitat ini. Ketika kita belajar lebih banyak tentang makhluk menakjubkan ini, rasa hormat dan tanggung jawab kita terhadap pelestarian habitat mereka akan semakin mendalam. Terima kasih telah menonton. tonton artikel tentang macam-macam perilaku ikan makan berdasarkan sumber makanannya versi video disini, silakan berlangganan dan bagikan kepada orang lain. Dan juga, tuliskan komentar Anda tentang tingkah laku ikan yang menakjubkan ini.

Memahami Tingkah Laku Ikan. Jenis-jenis, dan hubungannya dengan Penangkapan Ikan

Views: 27

Tingkah laku ikan merupakan pergerakan ikan dan respon ikan terhadap keadaan yang ada pada lingkungannya, dapat dipengaruhi oleh adanya perubahan yang terjadi pada perairan dan kebiasaan ikan. Perilaku ikan adalah bidang yang menarik dan kompleks yang menyoroti kehidupan teman-teman akuatik kita. Baik Anda seorang pemancing, ahli biologi kelautan, atau sekadar ingin tahu tentang dunia bawah laut, memahami perilaku ikan sangatlah penting. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi berbagai aspek perilaku ikan, mulai dari pola makan hingga ritual pacaran, migrasi, dan banyak lagi.

Jenis Perilaku Ikan

Ikan menunjukkan beberapa jenis perilaku, masing-masing memiliki tujuan tertentu:

1. Perilaku Makan: Cara ikan menemukan, menangkap, dan mengonsumsi makanan bervariasi antar spesies. Beberapa ikan merupakan pengumpan visual, mengandalkan penglihatan, sementara yang lain menggunakan sentuhan (pengumpan taktil) atau penciuman (pengumpan penciuman) untuk mendeteksi mangsa1.

2. Perilaku Mencari Pasangan dan Kawin: Ikan menarik calon pasangannya melalui tampilan pacaran. Mereka berpasangan, terlibat dalam tarian yang rumit, dan memastikan reproduksi yang sukses. Memahami perilaku ini sangat penting untuk menjaga kesehatan populasi ikan.

3. Migrasi: Banyak spesies ikan melakukan perjalanan luar biasa melintasi jarak yang sangat jauh. Baik itu ikan salmon yang berenang ke hulu untuk bertelur atau spesies laut yang melintasi seluruh lautan, perilaku migrasi sangatlah menakjubkan.

4. Perilaku Teritorial: Ikan membangun dan mempertahankan wilayah. Interaksi agresif terjadi ketika batasan ditantang. Perilaku teritorial mempengaruhi penggunaan habitat dan alokasi sumber daya3.

5. Schooling and Shoaling: Ikan sering berenang bersama dalam kawanan atau berkelompok atau bergerombol. Perilaku sosial ini memberikan rasa aman, meningkatkan efisiensi pemberian makan, dan memfasilitasi komunikasi.

Konsekuensi Ekologis dari Variasi Tingkah Laku Ikan

Memahami perilaku ikan memiliki implikasi ekologis:

Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Individu: Ciri-ciri perilaku mempengaruhi kemampuan individu untuk menemukan makanan, menghindari predator, dan berkembang.

Keberhasilan Reproduksi: Perilaku mencari pasangan berdampak pada keberhasilan perkawinan dan kelangsungan hidup keturunan.

Pemanfaatan Habitat: Perilaku yang berbeda menyebabkan preferensi habitat yang beragam.

Pola Makan dan Pergeseran Niche: Perilaku makan membentuk pilihan makanan dan spesialisasi niche.

• Migrasi dan Penyebaran: Pola perilaku mempengaruhi dinamika populasi dan keragaman genetik.

Interaksi Spesies dan Fungsi Ekosistem: Perilaku ikan mempengaruhi dinamika komunitas dan stabilitas ekosistem.

Tantangan dan Implikasi Konservasi

Pengelolaan Perikanan: Mengakui perbedaan perilaku individu yang konsisten dapat memberikan masukan bagi praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan. Hal ini mempengaruhi strategi penangkapan ikan rekreasi dan komersial.

• Pemeliharaan Pembenihan dan Peningkatan Stok: Memahami perilaku akan membantu keberhasilan upaya peningkatan stok.

Upaya Konservasi: Studi perilaku berkontribusi dalam melestarikan populasi ikan dan habitatnya.

Hubungan tingkah laku ikan dengan teknik penangkapan ikan komersial

Tingkah laku ikan dan teknik penangkapan ikan komersial memiliki hubungan yang erat dalam konteks keberlanjutan perikanan. Mari kita bahas lebih lanjut:

  1. Tingkah Laku Ikan:
  1. Tingkah laku ikan merujuk pada aktivitas dan perilaku yang diamati pada ikan. Ini mencakup berbagai aspek, seperti tidur, respon terhadap lingkungan, pola komunikasi, dan perilaku kelompok 1.
  2. Ikan memiliki kecenderungan bergerak, mencari makan, berlindung, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya berdasarkan naluri dan adaptasi mereka.
  3. Teknik Penangkapan Ikan Komersial:
  1. Penangkapan ikan komersial melibatkan penggunaan berbagai metode untuk menangkap ikan dalam jumlah besar secara efektif.
  2. Beberapa teknik penangkapan ikan komersial meliputi penggunaan jaring, tali pancing panjang, dan jebakan 2.
  3. Tujuan utama dari teknik ini adalah untuk memperoleh hasil tangkapan yang optimal dan memastikan keberlanjutan sumber daya ikan.
  4. Hubungan Antara Keduanya:
  1. Teknik penangkapan ikan harus mempertimbangkan tingkah laku ikan agar lebih efisien dan berkelanjutan. Contoh:
    • Jaring: Pemilihan ukuran jaring, kedalaman penangkapan, dan waktu penangkapan harus memperhitungkan perilaku migrasi ikan dan pola berenang mereka.
    • Tali Pancing Panjang: Pemilihan lokasi dan kedalaman pancing harus memperhatikan kebiasaan makan ikan dan zona aktivitas mereka.
    • Jebakan: Penempatan jebakan harus berdasarkan pada perilaku ikan yang cenderung masuk ke lubang atau tempat perlindungan.
  2. Keberlanjutan Perikanan:Dengan memahami tingkah laku ikan, para nelayan dapat mengoptimalkan teknik penangkapan sehingga mengurangi dampak negatif pada populasi ikan non-target dan habitat.
  3. Penggunaan peralatan khusus yang meminimalisasi penangkapan spesies yang tidak menjadi target juga merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan perikanan 2.

Tingkah laku ikan memiliki peran yang sangat penting dalam teknik penangkapan ikan komersial. Berikut adalah beberapa alasan mengapa mempelajari tingkah laku ikan menjadi krusial:

  1. Efisiensi Penangkapan:
    • Memahami perilaku ikan membantu nelayan memilih teknik penangkapan yang lebih efisien.
    • Contoh: Jaring yang ditempatkan berdasarkan pola migrasi ikan akan meningkatkan hasil tangkapan.
  2. Selektivitas:
    • Pengetahuan tentang tingkah laku ikan memungkinkan pengembangan alat tangkap yang lebih selektif.
    • Alat tangkap yang selektif dapat mengurangi penangkapan spesies non-target dan meminimalkan dampak pada lingkungan.
  3. Keberlanjutan Sumber Daya Ikan:
    • Dengan memahami kebiasaan makan, migrasi, dan reproduksi ikan, kita dapat merancang teknik penangkapan yang berkelanjutan.
    • Ini membantu mencegah penurunan stok sumber daya ikan dan menjaga keseimbangan ekosistem.
  4. Kesejahteraan Ikan:
    • Pengetahuan tentang tingkah laku ikan memungkinkan kita menghindari metode penangkapan yang menyebabkan penderitaan berlebih pada ikan.
    • Ini berkontribusi pada kesejahteraan ikan dan etika dalam penangkapan.
  5. Manajemen Perikanan yang Efektif:
    • Data tentang tingkah laku ikan membantu dalam pengambilan keputusan manajemen perikanan.
    • Kebijakan yang didasarkan pada pemahaman tentang perilaku ikan lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan sumber daya.

Jadi, mempelajari tingkah laku ikan adalah langkah penting untuk mencapai penangkapan ikan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Dan pemahaman tentang tingkah laku ikan sangat penting dalam merancang teknik penangkapan yang efisien dan berkelanjutan

Ingat, di bawah permukaan air terdapat dunia yang penuh dengan perilaku, adaptasi, dan strategi bertahan hidup yang rumit. Baik Anda seorang pemancing yang mencari tangkapan sempurna atau pengamat yang penasaran, mengapresiasi perilaku ikan akan memperkaya hubungan kita dengan alam.

Berita Baik Bagi Pengusaha Tuna, Tarif Ekspor Tuna Ke Jepang diturunkan menjadi 0%

Views: 4

Kementerian Kelautan dan Perikanan (MPF) berhasil menurunkan tarif ekspor empat produk olahan tuna ke Jepang hingga 0% dari yang awalnya sebesar 9,6%. Tarif pajak ekspor nol persen tersebut berlaku untuk ikan tuna kalengan, cakalang kaleng, dua jalur tarif katsuobushi dengan kode HS 1604.14-091 dan ikan tuna lainnya dengan kode HS 1604.14-099. Menurut Wikipedia, Katsuobushi (鰹節) adalah makanan awetan berbahan baku ikan cakalang (katsuo). Katsuobushi diserut menjadi seperti serutan kayu untuk diambil kaldunya yang merupakan bahan dasar masakan Jepang, ditaburkan di atas makanan sebagai penyedap rasa, atau dimakan begitu saja sebagai teman makan nasi.

Sementara itu, HS Code adalah sistem klasifikasi barang perdagangan dunia untuk mempermudah menetapkan tarif, mencatat transaksi perdagangan, mengontrol transportasi, dan melaporkan data statistik perdagangan. Saat ini HS Code menjadi dasar pengklasifikasian produk ekspor-impor di Indonesia dan diterjemahkan ke dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) yang menjelaskan tarif per produk. HS Code ini sudah disusun sejak 1986 oleh sebuah kelompok studi dari World Customs Organisation yang disahkan pada suatu konvensi yang disepakati oleh 70 negara yang sebagian besar dari Eropa. Tetapi, sekarang hampir semua negara turut andil meratifikasi, termasuk Indonesia yang mengesahkannya melalui Keppres No. 35 tahun 1993.

Dua pos tarif 0%, khususnya katsuobushi, akan diterapkan dengan persyaratan sertifikasi bahan baku cakalang dengan panjang minimal 30cm. Namun demikian perjanjian ini baru akan mulai berlaku paling cepat pada akhir tahun 2024, setelah ratifikasi Jepang dan Indonesia selesai. Ratifikasi adalah pengesahan perjanjian internasional menjadi suatu peraturan perundang-undangan di suatu negara. Ratifikasi merupakan tinakan resmi suatu negara untuk mengakui dan mengikatkan dirinya pada suatu perjanjian internasional atau peraturan internasional. Dengan kata lain, ratifikasi berarti pengakuan suatu negara dalam bentuk pengesahan terhadap perjanjian atau peraturan internasional sehingga dapat digunakan sebagai dasar hukum pelaksanaan perjanjian atau peraturan internasional tersebut di negara yang bersangkutan. Adanya kesepakatan mengenai tarif ekspor tuna sebesar 0% merupakan berkah bagi pengusaha tuna dan Negara Indonesia dalam upaya peningkatan produksi dan ekspor ikan tuna, karena tahun 2024 sudah dinyatakan sebagai tahun tuna. Persyaratan sertifikasi panjang bahan baku cakalang minimal 30 cm. Nantinya akan diberi sertifikat yang diberi nama Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan (SHTI)  yang akan diintegrasikan dengan Japan Catch Documentation Scheme (JCDS).

Pasca kesepakatan, KKP juga akan memperkuat dan mengatur unit pengolahan ikan (UPI) yang akan memanfaatkan tarif 0% tersebut. Khusus untuk persyaratan cakalang minimal 30cm, penguatan dan pengaturan juga termasuk registrasi, penetapan standar operasional prosedur, pakta integritas dan penelusuran ikan, yatiu dimana penangkapan ikan dilakukan. Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama produk ikan Indonesia dan mempunyai peluang bagus untuk terus mengekspor khususnya ikan tuna dan cakalang. Jepang merupakan importir tuna cakalang terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, dengan nilai impor sebesar $2,2 miliar pada tahun 2022.

Indonesia sendiri merupakan salah satu pemasok tuna terbesar ke Jepang. Pada Januari-November 2023, ekspor produk ikan Indonesia ke Jepang sebesar 632,7 juta dolar. Nilai tersebut berasal dari udang 45%, tuna dan cakalang 25%, mutiara 8%, kepiting 5% serta cumi, sotong dan gurita 3%.Nilai ekspor keempat kode HS tuna olahan yang disepakati 0% adalah US$47,6 juta pada periode tersebut, atau 30% dari nilai ekspor bonito Indonesia ke Jepang.

PENYEBAB LAUT BERWARNA HIJAU

Views: 19

Minggu ini, berita kelautan dan perikanan dihebohkan dengan perubahan warna laut menjadi hijau di perairan Thailand. Lalu apa penyebabnya laut tersebut berubah menjadi warna hijau?

Sebetulnya perubahan warna laut menjadi hijau adalah merupakan fenomena alam. Perubahan warna air laut tersebut disebabkan karena mekarnya alga atau blooming algae, sehingga di tempat tersebut menjadi kaya akan klorofil.

Secara teori, blooming alga merupakan berkah karena akan terdapat banyak ikan di wilayah tersebut. Namun jika terlalu berlebihan, hal itu juga tentu akan mengganggu sirkulasi oksigen yang menyebabkan hidup ikan justru terganggu.

fenomena laut berubah menjadi warna hijau bisa disebabkan karena pengaruh cuaca atau karena pengaruh arus yang membawa alga atau plankton dari satu tempat ke tempat lain.

Namun , dilansir dari detik.com. fenomena laut berwarna hijau di perairan Thailand adalah justru karena meledaknya jumlah plankton yang 10 kali lebih banyak dari jumlah normal. Plankton ini mengeluarkan racun yang dapat membahayakan lingkuna laut dan menutupi masuknya sinar matahari ke perairan. Dengan demikian, kehidupan ikan di perairan tersebut menjadi terancam. Lagi-lagi, menurut para ilmuwan setempat, penyebab meledaknya plankton ini adalah karena perubahan cuaca yang ekstrem dan

Kuota Penangkapan Ikan Terukur

Views: 27

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2023 Tentang Penangkapan Ikan Terukur (PIT). PIT bertujuan melestarikan sumber daya ikan agar tetap terjaga dan memberikan kesejahteraan bagi nelayan.
“Bahwa penangkapan ikan terukur dimaksudkan sebagai cara untuk memastikan kelestarian sumber daya ikan tetap terjaga dan dapat memberikan kesejahteraan nelayan, menyediakan perluasan dan kesempatan kerja, meningkatkan nilai tambah dan daya saing hasil perikanan, kepastian berusaha, kontribusi bagi dunia usaha, serta bagi negara,” isi aturan tersebut, dikutip Selasa (7/3/2023).

Penangkapan ikan diatur dengan kuota hingga di zona tertentu. Berdasarkan Pasal 7 ayat (1), terdapat 6 zona yang diatur dalam beleid tersebut. Adapun Zona PIT mencakup Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) di perairan laut dan laut lepas.

kuota penangkapan ikan di zona PIT. Kuota dihitung berdasarkan potensi sumber daya ikan yang tersedia dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan, dengan mempertimbangkan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan.

“Kuota Penangkapan Ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri,” tulis pasal 6 Ayat (3).

Adapun kuota penangkapan ikan di zona PIT dibagi menjadi tiga. Ketiganya adalah kuota untuk industri, nelayan lokal, dan kuota kegiatan bukan untuk tujuan komersial.

Kuota industri dan nelan lokal diberikan pada setiap zona PIT sampai 12 mil laut. Sementara untuk kegiatan bukan untuk tujuan komrsial diberikan pada setiap Zona Penangkapan Ikan Terukur sampai 12 mil laut dan di atas 12 mil laut.

“Kuota Penangkapan Ikan di Zona Penangkapan Ikan Terukur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dimanfaatkan dalam periode 1 (satu) tahun musim penangkapan ikan dan dibatasi oleh Kuota Penangkapan Ikan yang diberikan setiap tahun,” bunyi pasal 11 ayat (1).

Setiap orang, pemerintah pusat, atau pemerintah daerah yang melanggar ketentuan kuota penangkapan ikan akan terkena sanksi administratif. Sanksi bisa berupa peringatan atau teguran tertulis, paksaan pemerintah, denda administratif, pembekuan perizinan berusaha hingga pencabutan izin usaha.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN EKONOMI BIRU?

Views: 9

blue economy pada bidang pariwisata maritim

Menurut Bank Dunia, ekonomu biru atau Blue Economy adalah pemanfaatan sumber daya laut yang berwawasan lingkungan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan mata pencaharian sekaligus pelestarian ekosistem laut. Bedanya dengan green economy atau ekonomi hijau adalah bahwa jika pada ekonomi hijau berfokus pada ekonomi yang berkelanjutan dengan melalui penurunan resiko kerusakan lingkungan, maka pada blue economy, pembangunan berfokus pada sektor kelautan yang berkelanjutan. Dengan kata lain, Ekonomi Biru adalah konsep pemanfaatan sumber daya laut untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan penghidupan dan mata pencaharian yang seiring dengan pelestarian ekosistem laut.

Tujuan ekonomi biru adalah berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim. Contohnya dengan mengembangkan energi terbarukan lepas pantai, dekarbonisasi transportasi laut, dan penghijauan pelabuhan. Ekonomi biru akan membuat perekonomian lebih sirkular dan berkelanjutan. Istilah ekonomi biru pertama kali diperkenalkan pada 2010 oleh Gunter Pauli melalui bukunya yang berjudul The Blue Economy: 10 years – 100 innovations – 100 million jobs.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sektor maritim ekonomi biru Indonesia sangatlah potensial, terutama yang terkait dengan perikanan, energi terbarukan, pariwisata, transportasi air, pengelolaan limbah, hingga mitigasi perubahan iklim. Pada awalnya, konsep blue economy hanya mencakup seluruh produk perikanan yang bernilai ekonomi, namun sekarang konsep tersebut meluas dan mencakup keberlanjutan ekosistem laut sebagai salah satu kontributor PDB terbesar di Indonesia. Keberlanjutan dalam blue economy tersebut mengintegrasikan triple bottom line dari pengembangan berkelanjutan, yaitu antara environmentsocial, dan governance (ESG). Implikasinya bagi para produsen hasil laut adalah produksi laut yang dihasilkan juga harus memperhatikan keberlangsungan ekosistem laut, pengelolaan hasil laut yang zero waste, serta melarang praktik overexploitation.

Penerapan blue economy di Indonesia saat ini, sudah mencatat peningkatan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu bentuk yaitu program desa wisata. Setiap desa di Indonesia diakomodasi untuk menggali ciri khas daerah masing-masing, yang berkontribusi dalam penerapan blue economy tersebut. Masyarakat daerah pesisir yang awalnya hanya berfokus untuk menangkap ikan saja, saat ini dapat mengembangkan potensi dari sektor perikanan dan kelautan lainnya. Tidak hanya diversifikasi hasil laut, melainkan juga kerajinan tangan yang bisa menjadi ciri khas daerah. Di beberapa desa atau wilayah, bahkan, sudah mulai ‘mempercantik’ diri agar menarik wisatawan lokal maupun internasional. Bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan, Program Smart Fisheries Village merupakan implementasi dari konsep Blue Economy.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN SMART FISHERIES VILLAGE

Views: 478

Pada tahun 2023, Kementerian Kelautan dan Perikanan mencanangkan program pengembangan daerah kelautan dan perikanan bertajuk SMART Fisheries Village. Smart Fisheries Village adalah suatu konsep pembangunan desa perikanan dengan basis penerapan teknologi informasi, komunikasi, dan manajemen tepat guna yang berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa. Smart Fisheries Village adalah model pengembangan desa perikanan pintar secara terintegrasi dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak, meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, industri, dan masyarakat itu sendiri.

Kata “SMART” dalam SMART Fisheries Village atau SFV sebetunya merupakan suatu akronim atau singkatan berbentuk kata dari Sustainable, Modernization, Acceleration, Regeneration, dan Technology. Sustainable atau berkelanjutan berarti bahwa sumberdaya perikanan di desa tersebut harus dapat berkelanjutan. Sumber perikanan yang menjadi komoditas utamanya diupayakan tidak menurun produktifitasnya, atau bahkan jangan sampai hilang. Modernization berarti ada modernisasi pada kegiatan perikanan di desa tersebut. Modernisasi bisa berbentuk alat penangkapan ikan, penerapan teknologi informasi, hingga operasi bisnis yang lebih modern, seperti adanya e-commerce. Acceleration atau percepatan berarti bahwa desa tersebut diupayakan untuk ikut cepat bergerak mengejar ketertinggalan pembangunan dari kota lain yang sudah ebih dulu maju dan modern. Regeneration berarti adanya upaya untuk desa tersebut agar pelaku-pelaku perikanan di desa tersebut tidak habis. Dalam hal ini, para generasi muda di wilayah tersebut didorong untuk dapat meneruskan dan mengembangkan potensi perikanannya di masa yang akan datang. Technology sudah tentu bahwa desa yang menjadi sasaran SFV harus tersentuh oleh teknologi. Dengan adanya teknologi, maka akses dari dan ke dunia luar dapat masuk lebih cepat.

SMART Fisheries Village merupakan tempat untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia kelautan dan perikanan, karena didalamnya merupakan kegiatan terpadu dan terintegrasi antara pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan inkubasi bisnis. Dengan adanya SFV atau Smart Fisheries Village, diharapkan bahwa daya saing desa tersebut dapat meningkat karena usaha bisnis perikanan di desa tersebut menjadi lebih beragam, lebih modern, dan lebih terbuka untuk dunia luar.

SYARAT-SYARAT PENEMPATAN RUMPON

Views: 85

Menurut (Ardidja, Pemasangan Rumpon 2011), terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka penempatan rumpon di suatu perairan, yaitu:

Dasar Perairan

Kontur dasar perairan terbaik untuk menanamkan rumpon adalah dasar datar yang luas atau sedikit kemiringan. Daerah yang luas adalah penting karena alur pergeseran jangkar saat saat diturunkan sangat tidak bisa diprediksi. Akibatnya mungkin jangkar terletak beberapa ratus meter dari tempat penanaman yang telah ditentukan. Dasar rata yang sempit, slope yang sempit, lereng curam, lereng tajam dapat menyebabkan terjadinya kegagalan penempatan jangkar. Dasar laut landai juga akan membantu mencegah jangkar terseret ke kedalaman perairan yang dalam ketika terjadi tegangan geser rumpon akibat cuaca buruk.

Kedalaman Perairan

Rumpon yang ditempatkan di perairan dangkal dengan kedalaman kurang dari 500 meter umumnya tidak efektif mengagregasi tuna. Selain itu biaya penanaman rumpon meningkat sebanding dengan kedalaman, karena semakin dalam suatu perairan maka semakin panjang tali tambat yang dibutuhkan. Rumpon yang ditanam pada perairan dengan kedalaman antara 1.000 – 2.000 meter umumnya berfungsi dengan baik untuk meng-agregasi tuna.

Kondisi Laut dan Cuaca

Perairan yang berarus kuat harus dihindari. Seperti juga cuaca buruk dan laut kasar, arus yang kuat akan meningkatkan ketegangan tali tambat rumpon. Hal ini akan berakibat kepada rusaknya komponen rumpon. Wilayah yang berarus deras sering terjadi di daerah tanjung, dan selat sempit di antara pulau-pulau yang berdekatan.

Jarak Antar Rumpon

Umumnya rumpon akan mengagregasi lebih efektif jika ditempatkan pada jarak anatar 4-5 mil laut dari terumbu karang ke arah laut. Jarak antar rumpon adalah sekitar 10 – 12 mil laut untuk menghindari interferensi karang dan rumpon lainnya.

Aksesibilitas dan Keselamatan

Rumpon harus ditempatkan agar aman untuk dicapai dari pelabuhan. Letak lokasi dan jarak dari pantai tergantung pada kondisi laut dan jarak operasi yang aman untuk perahu berukuran kecil. Umumnya untuk meningkatkan keselamatan, rumpon dipasang dengan dikonsentrasikan pada wilayah yang sudah dikenal.

Regulasi

Merujuk kepada (Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 26 Tahun 2014 tentang Rumpon, rumpon harus dipasang di tempat yang tidak mengganggu alur pelayaran, tidak boleh dipasang dengan cara pemasangan yang mengakibatkan efek pagar  (zig-zag) yang mengancam kelestarian jenis ikan pelagis, dan pemilik rumpon harus memasang reflektor dan identitas rumpon. Reflektor rumpon terbuat dari plat besi yang berfungsi untuk memantulkan gelombang elektromagnet dari radar dan peralatan navigasi yang sejenis pada kapal modern. Hal ini untuk mempermudah identifikasi keberadaan rumpon terutama pada malam hari guna kelancaran proses pelayaran.

CARA MENENTUKAN PANJANG TALI UNTUK MENGGANTUNGKAN JARING (HANGING RATIO)

Views: 418

Jaring merupakan salah satu alat yang biasa digunakan untuk menangkap ikan. Ada banyak jenis alat menangkap ikan berbahan jaring, seperti trawl, purse seine, atau gill net. Jaring memiliki kemampuan untuk merubah bentuk dan luasnya. Karena perubahan bentuk ini, maka bentuk dan ukuran mata jaring atau mesh size juga mengalami perubahan. Perubahan bentuk dan ukuran mata jaring ini dipengaruhi oleh proses penggantungan jaring pada tali ris. Artinya, untuk perubahan ukuran mata jaring dipengaruhi oleh panjang jaring dan panjang tali ris. Menentukan ukuran mata jaring ini disebut dengan Hanging Ratio, dengan satuan persen.

Hanging ratio merupakan persentase bukaan mata jaring ke samping yang diperoleh dari perbandingan antara panjang tali untuk menggantungkan jaring dengan panjang jaring yang digantungkan ketika teregang sempurna. Jadi, jika Panjang tali untuk menggantungkan jaring disimbolkan dengan L, dan panjang jaring yang digantungkan adalah Lo, maka Hanging ratio adalah L dibagi dengan Lo dikali 100%. Suatu jaring atau mata jaring yang teregang sempurna ke arah samping akan memiliki nilai Hanging ratio sebesar 1 atau 100%. Simak materi “Cara menentukan panjang tali untuk menggantungkan jaring” versi video di bagian akhir artikel ini.

Dengan demikian, semakin kecil nilai Hanging rasio maka mata jaring semakin terbuka ke arah samping, dan sudut yang dibentuk oleh kaki jaring akan semakin lebar. Perhatikan ilustrasi bukaan hanging rasio berikut ini:

Bukaan mata jaring untuk tiap Hanging Ratio

Pada HR=1, sudut yang dibentuk oleh kaki jaring a dan b adalah 180o, Pada HR = 0,9, sudut yang dibentuk oleh kaki jaring akan menjadi 128o, HR = 0,8 memiliki sudut 106o, HR = 0,7 memiliki sudut 90o, HR = 0,5 bersudut 60o, dan HR = 0,4 bersudut 45o. Penentuan ukuran hanging ratio ini sangat penting untuk menentukan ukuran ikan yang akan ditangkap, karena didasarkan oleh cara ikan tertangkap oleh jaring, menentukan panjang tali ris, dan menentukan jarak antar pelampung dari jumlah pelampung yang telah dihitung. Pada video di CHANNEL YOUTUBE: @YUSEPCHANEL sudah dibahas mengenai bagaimana cara ikan tertangkap oleh jaring dan cara menentukan jumlah pelampung. Jika lupa silahkan anda klik pada video di channel Youtube @yusepchanel

Agar lebih jelas mengenai pengertian hanging ratio ini, perhatikan contoh soal berikut ini.

Diketahui, suatu jaring dengan jumlah mata jaring 200 mata. Ketika teregang sempurna, ukuran mata jaring tersebut adalah 50 mm. Jika jaring tersebut diinginkan memiliki hanging rasio sebesar 80%, tentukanlah panjang tali ris yang diperlukan.

Mari kita selesaikan persoalan ini:

Diketahui: jumlah mata = 200 mata

Ukuran 1 mata jaring = 50mm

HR = 80% atau 0,8

Ditanyakan L atau panjang tali ris

Jawab.

Untuk mencari L atau panjang tali ris maka harus diketahui terlebih dahulu panjang jaring teregang sempurna.

Panjang jaring teregang sempurna adalah

Ukuran mata jaring teregang sempurna dikali dengan jumlah mata jaring,

Yaitu 50 mm atau 0,050 meter dikali dengan 200 mata sama dengan 10 meter.

Dengan demikian, maka L atau panjang tali ris adalah

HR dikali dengan Lo

Sama dengan 0.8 dikali 10 sama dengan 8 meter.

Dengan kata lain, bahwa

Dengan HR 0,8, maka Ukuran mata jaring tersebut mengalami perubahan dari 50 mm menjadi 40 mm, sehingga panjang jaring adalah sama dengan panjang tali ris yaitu 0,04mm dikali 200 mata sama dengan 8 meter.

Hanging Ratio

Persyaratan Untuk Membuat Rumpon Ikan

Views: 80

Ardidja 2010 dalam bukunya Bahan Alat Penangkap Ikan menjelaskan bahwa persyaratan untuk membuat rumpon atau Fish Aggregating Devices (FAD) berbahan tumbuhan adalah sebagai berikut:

  1. Tumbuhan harus yang mengandung banyak klorofil dan segar (bukan kering).
  2. Harus dapat cepat membusuk dan tahan lama (sekitar 15 hari) atau lebih (berserat memanjang dan liat).
  3. Harus dapat menciptakan lingkungan yang teduh.
  4. Mudah diangkat, diperbaharui, dipindah, dan berharga murah.

Dari persyaratan-persyaratan tersebut diatas, tumbuhan yang cocok untuk dijadikan rumpon adalah tumbuhan dari famili Palma atau (Arecaceae) seperti daun kelapa, aren, dan pinang. Gambar berikut menunjukkan jenis pohon yang daunnya digunakan utuk membuat rumpon.

Daun untuk bahan rumpon ikan

Sedangkan untuk rumpon yang berbahan bukan tumbuhan, persyaratan bahan pembuatan rumpon adalah sebagai berikut:

  1. Pelampung terbuat dari bahan yang dilapisi cat anti korosi atau fiberglass yang dikonstruksi dapat mengapungkan total berat komponen rumpon.
  2. Rumpon dapat sebagai media tumbuh atau menempel organisme-organisme pembentuk terumbu karang. Sebagai contoh ban bekas sangat cocok digunakan sebagai media pembuatan rumpon.
  3. Tali jangkar terbuat dari serat baja non korosif atau serat buatan yang memiliki breaking strength atau densitas yang sangat besar.
  4. Pemberat terbuat dari cetakan semen yang memudahkan mempercepat tumbuhnya karang pada semen tersebut.

(San 1982) menyebutkan bahwa panjang tali jangkar untuk rumpon adalah berkisar antara 1 hingga 1,8 kali kedalaman perairan tempat dipasangnya rumpon tersebut. Sedangkan diameter tali jangkar adalah 18-20 mm berupa serat sintetis Polypropilene (PP).