Jangan pikir masukin produk dagangan ke supermarket besar itu keren…..

Rata-rata pemilik produk dagangan, atau bahkan hampir semuanya pemilik produk yang baru berdiri, dalam pemikirannya merasa bahwa masuknya produk mereka ke supermarket kelas besar seperti indomaret, alfanart, Transmart, atau lainnya merupakan suatu kebanggaan…keren..luar biasa…Padahal…tunggu dulu…Jangan pikir masukin produk dagangan ke supermarket besar itu keren. Cermati dulu aturan-aturan yang ditawarkan oleh supermarket tersebut, dan ngaca diri mengenai kesanggupan perusahaan kita..jangan buang energi…Lho…Maksudnya gimana??

Begini…

Sudah dipastikan, bahwa menjadi supplier supermarket besar atau memasukkan produk dagangan ke supermarket tentu ada syarat-syarat tertentu. Dan biasanya, mereka tidak bersedia menerima produk hanya untuk satu atau beberapa gerai saja. Mereka menginginkan bahwa produk tersebut dapat dipasok ke seluruh gerai miliknya. Misal deh…Untuk memasukkan suatu produk dagangan ke supermarket A, supermarket A ini mematok syarat minimal bisa menyuplai 5 buah produk dagangan untuk setiap gerainya setiap dua minggu. Itu artinya, jika supermarket itu punya 1000 gerai di seluruh Indonesia, maka calon supplier tersebut harus mampu menyediakan produk minimal 5 pcs x 1000 gerai = 5.000 pcs barang setiap 2 minggu.

Persoalannya adalah, sanggupkah calon supplier tersebut memasok 5.000 pcs produk per dua minggu ? Banyak yang mungkin emosional menjawab..”Kita usahakan, yang penting kita bisa masuk supermarket itu…kan keren barang saya ada di rak display supermarket terkenal itu…” Atas dasar pemikiran tersebut, akhirnya sang calon supplier nekad pinjam uang di bank, menambah karyawan, pending order konsumen yang sudah langganan. Semua hanya demi memenuhi target pengiriman 5.000 pcs per dua minggu Oh, bagi saya, pemikiran pebisnis seperti itu adalah keliru besar… Kenapa? begini alasan saya ..

  1. Jika tidak mampu, mendingan tidak usah. Alangkah ruginya membatalkan pesanan konsumen yang sudah percaya dengan produk kita hanya demi pemenuhan kewajiban. Ujung-ujungnya, konsumen langganan menjadi tidak puas…dan….kabur…….
  2. Bicara soal kewajiban, secara alamiah sebetulnya manusia itu berharap untuk menghindari kewajiban…karena kewajiban adalah beban.. Aneh rasanya kita menandatangani kontrak kerjasama yang didalamnya ada kewajiban suplai sekian ribu barang per dua minggu yang kita belum tentu mampu dan belum pernah melakukannya. Lain soal kalo sudah mampu ya…
  3. Mending dapat uang yang pasti daripada dapat uang yang belum pasti. Maksudnya?? Ingat..pesanan konsumen setia kita adalah pesanan yang dipastikan kita dapat duit. bahkan mungkin karena mereka sudah percaya, mereka akan transfer uang dulu sebelum barangnya ada…Mereka sudah percaya loh…Trus apakah supermarket itu memperlakukan hal yang sama dengan konsumen loyal kita? Percaya kalo kita punya produk bagus?? TIDAK!!! Kalo nama merk kita kalah besar dengan nama merk supermarket itu, (dalam bahasa kerennya brand awareness) maka dipastikan supermarket itu ya gak mungkin bayar duluan…atau “barang datang saya bayar” Gak mungkin. Mereka pasti menerapkan sistem konsinyasi atau consignment, dimana mereka membayar setelah produk kita yang ada di display laku…dan itu biasanya tidak per toko. Tapi kumulatif dari penjualan 1000 gerai mereka. Sistem pembayaran konsinyasi dapat dilakukan ya terserah supermarketnya…bisa dua minggu sekali, atau bahkan sebulan sekali…Nah itu artinya, kita harus puasa dapat duit selama dua minggu atau satu bulan karena tertahan di supermarket tersebut. Karena tertahan dapat duit, maka..
  4. Kita memproduksi barang untuk suplai produk secara berkelanjutan adalah dengan cara meminjam dulu tabungan hasil untung kita sebelumnya, atau bahkan ada yang nekat meminjam uang ke bank untuk biaya operasional..wah itu tidak sehat..Mending kalo supermarketnya bayarnya lancar, kalo gak lancar, pembayaran macet? apa jadinya….malah bikin stress..

Jadi sebetulnya, jangan pikir masukin produk dagangan ke supermarket besar itu keren..Jika anda tidak cermat, mak bisa-bisa anda bunuh diri…perusahaanmu bisa tumbang gara-gara emosional ingin merk daganganmu mentereng di display supermarket…Saya mengalami hal itu karena 8 tahun saya di dunia retail…saya bekerja di perusahaan yang menyuplai produk ke salah satu supermarket terbesar di tahun 2000-an yang punya lebih dari 100 gerai di seluruh Indonesia. Apakah keren? tidak!!! Pusing setengah mati, hitung stok, nunggu pembayaran, kejar target suplai, ah…macam-macam deh pokoknya..dan itu gak keren…

Slow aja…mendingan jika punya produk sendiri maka merintis memasarkan sendiri. Tidak usah emosional ingin supali ke supermarket..justru ini berbahaya. Bahkan zaman sekarang, marketing atau menjual produk dan menjadi terkenal itu medianya banyak yang mudah. Anda bisa menjual melalui toko online, mengiklankan produknya melalui facebook, instagram, atau media sosial lainnya. Bahkan yang sekarang terbukti sukses, adalah dengan menjual sekaligus mengiklankan produk yang dimiliki melalui “landing page“. Ini menarik kalo kita buat iklan landing page, sudah pasti ada aja yang beli…atau alternatif lain adalah dengan mengiklankan melalui pihak ketiga yang bertarif tidak mahal seperti mengiklan di adsterra,

jadi sekali lagi…..jangan pikir masukin produk dagangan ke supermarket besar itu keren. Itu gak keren kalo maksa, yang akhirnya jadi gak mampu…Pelan-pelan saja…yang penting aliran uang masuk lancar terus…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *