Kenapa Pulau Jawa Rawan Gempa Bumi

Views: 1

Dilansir dari CNBC.com, gempa Bumi mengguncang Jawa Barat pada hari ini, Rabu (1/5/2024) pukul 10.06 WIB. Hasil analisa BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut berkekuatan M 4,2. Episenter terletak pada koordinat 7.2 LS dan 107.57 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 20 km Tenggara Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada kedalaman 4 km. Dalam keterangan resminya, BMKG menyebut gempa bumi ini merupakan jenis dangkal akibat Sesar Garut Selatan. Hasil analisa ini dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya. Lebih lanjut, dampak gempa bumi yang digambarkan oleh peta tingkat guncangan (Shakemap) BMKG dan berdasarkan laporan dari masyarakat, guncangan dirasakan di wilayah Majalaya, Ciwidey, Banjaran, Cibereum, Pangalengan, dan Garut dengan Skala Intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu), Di Soreang Kab. Bandung, Pasirwangi, Garut dengan Skala Intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang). Akan tetapi, gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Lalu mengapa Jawa Barat sering terjadi gempa? apakah wilayah ini merupakan wilayah yang rawan gempa? berikut adalah penjelasan kenapa Pulau Jawa rawan gempa.

Pulau Jawa merupakan wilayah yang sering mengalami gempa bumi. Berikut adalah beberapa faktor yang menjelaskan mengapa Pulau Jawa rawan terhadap peristiwa gempa:

  1. Batas Pertemuan Lempeng: Indonesia berada di antara tiga pertemuan lempeng besar, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Pulau Jawa terletak pada batas lempeng yang terus bergerak. Di sebelah barat, batas lempeng dimulai dari Sumatera dan berlanjut ke selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku. Beberapa daerah di wilayah ini dekat dengan zona subduksi, di mana lempeng oseanik menunjam di bawah lempeng kontinenPertemuan dua lempeng ini merupakan kawasan yang aktif secara tektonik, sehingga Sumatera dan Jawa rawan terhadap peristiwa gempa tektonik.
  2. Struktur Sesar Aktif: Pulau Jawa memiliki banyak struktur sesar aktif. Pergerakan sesar aktif memicu terjadinya gempa tektonik atau gempa bumi karena aktivitas tektonik. Wilayah selatan Pulau Jawa, khususnya, kerap mengalami gempa karena berada dalam zona subduksi atau megathrust. Megathrust adalah zona tempat bertemunya lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Zona megathrust membentang dari ujung Sumatera hingga Bali dan Nusa Tenggara.
  3. Prisma Akresi: Beberapa gempa di wilayah Banten, selatan Jawa, terjadi di wilayah yang disebut prisma akresi. Prisma akresi merupakan wilayah yang rawan terjadi gempa karena berada di atas pusat-pusat gempa. Wilayah ini terdiri dari sesar-sesar naik yang mengangkat akibat proses penumbukan atau penunjaman. Pulau Nias di Sumatera Utara juga berada di kawasan sesar akresi.

Dengan pemahaman tentang faktor-faktor ini, kita dapat lebih menghargai mengapa Pulau Jawa sering mengalami gempa bumi. Semoga informasi ini bermanfaat! 

Leave a Reply

Your email address will not be published.