#lebarandirumahsaja

Tahun ini, tahun 2021 atau tahun hijriah 1442 adalah tahun kedua lebaran di masa pandemi COVID-19. Setelah lebaran tahun sebelumnya (tahun 2020), semua masyarakat Indonesia terpaksa tidak melakukan tradisi mudik, kini kembali di tahun 2021, masyarakat diharapkan untuk melakukan #lebarandirumahsaja. Pemerintah meminta masyarakat tidak melakukan mudik bukanlah tanpa alasan. Kondisi pandemi COVID-19 ini adalah kondisi wabah yang belum tuntas antisipasinya. Obatnya masih belum manjur semanjur obat pil kina untuk Malaria misalnya, atau penisilin untuk antibiotik. Pemerintah Indonesia khawatir, dengan mudik, dimana ribuan orang kembali ke kampung halaman akan menimbulkan penyebaran penyakit yang tidak terkendali.

Kita harus belajar dari India, dimana saat ini hingga tulisan saya buat, kabarnya sudah 200 orang per hari dinyatakan meninggal karena COVID-19. Wabah COVID-19 sudah berjalan tepat satu tahun, banyak engara sudah dapat mengantisipasi dan menurunkan tingkat penularan dan tingkat kematian dengan protokol kesehatan yang mereka gunakan. Tapi India, ini bukti bahwa ada ketidakdisiplinan di masyarakatnya.. Protokol kesehatan mungkin sudah mereka buat, akan tetapi pelaksanaan di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan protokol tersebut. Banyak sekali alasannya…

Anyway…saya gak mau membahas soal COVID-19 India. Saya tetap mau membahas mudik lebaran 2021, dimana pemerintah menganjurkan, bahkan memaksa untuk #LebaranDiRumahSaja.

Saya berpendapat, kita ikuti saja pemerintah lah…Untuk saat ini..gak usah memaksa untuk mudik. Resiko nya terlalu berat…Resiko karena tertular COVID-19 otomatis sudah dipastikan akan meningkat, tapi yang kongkrit adalah begini….

  1. Pemerintah sudah melakukan pencegatan di tempat-tempat yang strategis. Kabarnya lebih dari 300 titik pencegatan tersebar di mudik tahun ini. Konsekuensinya, jika kena pencegatan…harus putar balik…dan itu tentu nambah ongkos, bahkan buang ongkos sia-sia..
  2. Ok maksa mudik dengan menggunakan jalan-jalan tikus…Tapi itu gambling bro…yakin bisa lolos? Emang tahu jalan tikusnya? Trus mending kalo sendirian mudiknya, kalo rame-rame dengan keluarga? bawa anak kecil? Wah ini repot…. cape di jalan, kucing-kucingan kayak buronan, ditambah budget membengkak tak terduga….
  3. Ah…pokoknya maksa mudik. Pake surat tes COVID-19. Hei…..ingat…pemerintah melarang mudik..jadi walaupun pake surat tes covid, dan dinyatakan negatif, tetap saja disuruh putar balik..karena judulnya dilarang mudik…bukan boleh mudik untuk yang punya surat tes COVID-19.
  4. Ok.. kalo begitu..ane tetap mudik dengan bawa surat tugas dari instansi saya…!!! OK….punya surat tugas….tapi beneran anda diberi surat tugas walau gak tugas? atau surat tugasnya palsu? kalo anda diberi surat tugas tapi tidak bertugas rasanya itu tidak mungkin. Kalo ia, maka institusi atau perusahaan itu ambil resiko, dan memberikan persetujuan karyawannya untuk berbohong…itu jelas gila…Lalu kalo pake surat tugas palsu, berarti anda bohong dong…bagaimana kalau ternyata surat tugasnya diverifikasi ke kantor tempat anda bekerja, dan pimpinan anda tahu anda berbohong. Konsekuensi yang hampir pasti adalah ..ANDA TERKENA EFISIENSI KARYAWAN….alias…DIPECAT…karena institusi ditegur pemerintah sebabnya anda berbohong…WOW…rugi kebangetan itu mah…mudik gak jadi…karena disuruh putar balik, eh dipecat pula….

Jadi…untuk tahun ini…kita lebaran gak perlu mudik lah…untuk bertemu orang tua mau tidak mau gunakan gawai saja…Ini demi kesehatan kita bersama… Saat ini tidaklah bijak melakukan liburan disaat kondisi darurat seperti ini. Tidak ada yang tahu di kampung halaman bertemu tetangga yang tanpa gejala COVID-19. ATau sebaliknya justru kita merasa sehat padahal kita adalah orang tanpa gejala yang akhirnya menularkan penyakit di kampung halaman…Ada kan kejadian macam begitu?? Sabar saja…suatu saat ada waktunya untuk bertemu dengan sanak keluarga…Wabah ini pasti berakhir.. Maka dari itu..mari kita sukseskan program pemerintah #lebarandirumahsaja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *