Views: 0
Pendidikan di Indonesia terus mengalami perubahan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Setelah penerapan Kurikulum 2013 (K-13), kini hadir Kurikulum Merdeka sebagai terobosan baru. Kurikulum ini mulai diterapkan sejak tahun ajaran 2022/2023 dan bertujuan menciptakan pembelajaran yang lebih relevan, fleksibel, serta berpusat pada peserta didik. Artikel ini akan membahas perbedaan mendasar antara Kurikulum Merdeka dan kurikulum sebelumnya. Berikut adalah tabel perbedaan kurikulum merdeka dengan kurikulum K13.

Penjelasan Perbedaan Utama
1. Fleksibilitas Struktur
Dalam Kurikulum 2013, siswa SMA harus memilih jalur peminatan (IPA, IPS, atau Bahasa). Hal ini sering membatasi minat siswa yang ingin belajar lintas bidang. Kurikulum Merdeka menghapus sistem peminatan kaku, sehingga siswa dapat memilih mata pelajaran sesuai minat dan rencana masa depan.
2. Fokus pada Peserta Didik
Kurikulum Merdeka menekankan student-centered learning, di mana pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan bakat siswa. Sebaliknya, K-13 lebih menekankan pencapaian kompetensi akademik yang seragam.
3. Metode Pembelajaran
K-13 cenderung menekankan teori dan ujian sebagai tolok ukur keberhasilan. Kurikulum Merdeka lebih menekankan proyek berbasis profil pelajar Pancasila, yang bertujuan membentuk karakter, kreativitas, dan keterampilan abad 21.
4. Peran Guru
Guru dalam K-13 harus mengikuti silabus nasional yang ketat. Dalam Kurikulum Merdeka, guru memiliki kebebasan lebih besar untuk merancang pembelajaran sesuai konteks lokal dan kebutuhan siswa.
5. Sistem Evaluasi
K-13 menggunakan Ujian Nasional sebagai tolok ukur utama. Kurikulum Merdeka menggantinya dengan Asesmen Nasional yang lebih menekankan proses belajar, bukan hanya hasil akhir
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Kurikulum Merdeka hadir untuk memberikan kebebasan dan fleksibilitas baik bagi siswa maupun guru. Dengan pendekatan yang lebih berpusat pada peserta didik, kurikulum ini diharapkan mampu mencetak generasi yang kreatif, kritis, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Perubahan ini menjadi langkah penting dalam reformasi pendidikan Indonesia, agar lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21.